Hukum & Kriminal

JOMS Jatim Desak Komnas HAM Investigasi Pelanggaran HAM Aparat di Surabaya

Pembacaan Pernyataan Sikap Jaringan Organisasi Masyarakat Sipil Jawa Timur di UNAIR

Surabaya (beritajatim.com) – Jaringan Organisasi Masyarakat Sipil (JOMS) Jawa Timur hari ini mengadakan konferensi pers dan pernyataan sikap dalam kasus penggerebekan Asrama Mahasiswa Papua Jalan Kalasan Surabaya di Gedung C Pusat Studi Hukum Universitas Airlangga (UNAIR).

Jaringan Organisasi Masyarakat Sipil Jawa Timur ini terdiri dari LBH Surabaya, Human Right Law Studies (HRLS), Fakultas Hukum UNAIR, Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jatim, Pusat Studi Anti-Korupsi dan Demokrasi (PUSAD) UM Muhamadiyah Surabaya, PUSHAM Ubaya dan Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia.

Masing masing perwakilan dari Organisasi Masyarakat Sipil Jawa Timur ini memiliki pandangan yang sama, bahwa bentrokan yang terjadi di Asrama Papua Kalasan merupakan bentuk dari pelanggaran HAM, Persekusi, Diskriminasi serta pelanggaran asas penegakan hukum.

Menurut Satria Unggul dari PUSAD UMMuhamadiyah Surabaya, yang terjadi di Asrama Papua Kalasan pada tanggal 16-17 Agustus 2019 adalah sebuah bentuk pelanggaran asas penindakan hukum.

Pasalnya, isu terkait adanya pengrusakan tiang bendera dan pembuangan bendera merah putih ke selokan merupakan dugaan yang masih belum jelas dari mana asalnya dan tidak ada saksi yang mengetahui siapa yang berbuat.

“Aparat dan ormas datang dengan tujuan yang sama sekali bukan untuk tidakan preventif tetapi represif, danĀ  tentunya ini melanggar asas praduga tak bersalah. Pasalnya isu tersebut belum bisa dibuktikan dan dugaan tak berdasar,” terang Satria.

Persekusi dan diskriminasi juga diterima oleh Mahasiswa Papua di Asrama Papua Kalasan dari ungkapan dan kata kata kasar dan rasis seperti “anjing, monyet, babi, binatang” dan sebagainya, menurut Rere Kristanto merupakan lingkaran kekerasan yang terus berulang.

“Selama masih ada diskriminasi, masyarakat Papua akan selalu menjadi target dari isu isu rasial dan nasionalisme. Sehingga mudah bagi orang lain melampiaskan persekusi dan menjadi lingkaran kekerasan yang tidak berujung jika hal ini tidak diusut secara tuntas,” tambah Rere.

Ia pun menambahkan bahwa modus penggunaan simbol negara sebagai pemicu tindakan represif bukan pertama kalinya terjadi. Sedangkan isu penodaan perusakan tidak pernah diusut dengan tuntus oleh aparat.

Disisi lain, Sonya dari PUSHAM Ubaya juga menilai tindakan aparat yang terjadi di Asrama Papua Kalasan cenderung provokatif dalam menggerakkan aksi yang represif. Menurutnya aparat harusnya lebih mengambil sikap yang mengayomi.

“Masyarakat Papua juga masyarakat Indonesia, tidak boleh ada diskriminasi dan persekusi seperti itu, saya mendukung hasil dan pertemuan ini agar tidak lagi terjadi dikemudian hari,” ungkap Sonya.

Menyikapi kejadian di Asrama Papua Kalasan tersebut Jaringan Organisasi Masyarakat Sipil Jawa Timur menyampaikan beberapa tuntutan kepada pemerintah dan aparat, yakni;

1. Meminta semua pihak untuk menahan diri dan tidak terprovokasi dengan informasi yang berkembang;

2. Menghentikan segala tindak kekerasan serta diskriminasi rasial terhadap warga Papua;

3. Kepolisian agar melakukan proses hukum terhadap pihak pihak yang melakukan kekerasan serta tindakan yang diskriminatif;

4. Meminta KOMNASHAM untuk melakukan investigasi atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh oknum aparat kepolisian dan oknum TNI di Surabaya dan Malang.

Pernyataan sikap ini dilakukan karena, menurut organisasi ini permintaan maaf saja tidak cukup. Karena hal ini tidak dapat dituntaskan dengan ucapan maaf. Hal ini pun ditegaskan oleh sikap dari Richardany Nawipa, salah satu warga Papua yang hari itu hadir sebagai anggota LBH Surabaya.

“Selama kasus ini tidak diusut tuntas, siapa yang dalang dibalik aksiĀ  represif dan isu perusakan simbol negara berasal, maka masyarakat Papua akan terus mendapatkan diskriminasi dan kemungkinan persekusi dan bukan tidak mungkin kekerasan seperti ini akan muncul kembali. Intinya kami tidak ingin hal semacam ini terulang kembali dikemudian hari,” tegas Dany. [adg/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar