Hukum & Kriminal

Jadi Korban Jual Beli Tanah Kavlingan , Warga Manukan Lapor Polisi

Dwi Wahyu Pindarto (52 (Yang memakai topi, saat di Polda Jatim beberapa waktu lalu)

Surabaya (beritajatim.com) – Merasa ditipu oleh Krisdianto Putro (35) alias Soleh, membuat warga Rungkut, Surabaya Dwi Wahyu Pindarto (52) tak tinggal diam. Warga Manukan, Surabaya ini pun melaporkan dugaan penipuan tersebut ke polisi.

Dwi Wahyu Pindarto menyatakan jika dirinya sudah melaporkan kasus ini ke polisi sejak 29 Juli 2019 ke Polrestabes Surabaya dan sudah sampai pada tahap penyidikan. Diterangkan Dwi, perkara ini berawal sekitar 2018 silam, saat itu ia ditawari oleh Krisdianto atas obyek tanah kavling di Desa Orombulu, Kecamatan Rembang, Pasuruan, Jatim.

Saat menawarkan, Krisdianto hanya menunjukkan tumpukan Akte Jual Beli (AJB) tahun 1998 yang seolah-olah dibuat oleh mantan camat Rembang, Muchid Mamuza. “Ada sekitar 250 AJB waktu itu ditunjukkan ke saya, satu kavling ditawarkan ke saya Rp 10,8 juta, “imbuhnya.

Didalam AJB tersebut termuat transaksi jual beli antara pembeli pertama dan dan pembeli ke dua atas obyek tanah yang diperdagangkan. Yaitu obyek tanah Persil Nomer 30 Blok D.2. Desa Orombulu, Kecamatan Rembang, Pasuruan.

Korban dalam perkara ini merupakan pembeli ketiga atas obyek tanah kavling bodong itu. Sedangkan untuk surat surat lainnya oleh terlapor tidak diperlihatkan dengan alasan masih dalam proses pengurusan untuk meningkatkan hak kepemilikan.

Tertarik dengan rayuan Krisdianto, korban akhirnya membeli dua obyek tanah kavling dengan luas masing-masing tanah 144 M2, atas nama Kademin dan Suliono. “Pertengahan April (2018) saya bayar lunas dua kavling tanah yang luasnya masing-masing 144M2,” paparnya.

Setelah membayar lunas, korban meminta terlapor untuk menunjukkan obyek tanah yang dimaksud. Akan tetapi Krisdianto selalu berkelit dan terkesan menghindar.

Dwi Pindarto kemudian memiliki inisiatif untuk melakukan pengecekan langsung atas obyek tanah kavling itu melalui Kepala Desa Orombulu. Ternyata, Obyek tanah Persil 30 Blok D.2 itu tidak pernah tercatat dalam buku tanah Desa.

“Ternyata bukan hanya saya. Menurut kepala desa setempat, sudah banyak orang yang datang. Hampir tiap Minggu kepala desa didatangi oleh orang yang menanyakan hal yang sama,” kata dia.

Dalam kasus ini, Dwi Pindarto mengklaim mengalami kerugian sebesar Rp. 21,6 Juta, dia berharap pihak kepolisian mau mengembangkan laporan yang sudah ia buat. Tidak menampik kemungkinan, kata Dwi, dalam perkara ini sudah banyak orang yang menjadi korban.

“Kami berharap pihak kepolisian bisa mengembangkan laporan ini, tidak menampik kemungkinan korban dalam perkara ini sudah mencapai puluhan atau bahkan ratusan,” pungkasnya. [uci/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar