Hukum & Kriminal

Tuntutan Terhadap Saidah Batal Dibacakan

Hakim Batal Gelar Sidang Tuntutan Saidah

Surabaya (beritajatim.com) – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Roginta Sirait dari Kejati Jatim batal membacakan tuntutan terhadap Saidah Saleh Syamlan terdakwa kasus pencemaran nama baik melalui media elektronik WhatsAap.

Humas PN (Pengadilan Negeri) Surabaya Sigit Sutriyono mengaku sempat mendengar akan adanya tuntutan terhadap Saidah. Namun sampai saat ini dirinya belum mengetahui apakah tuntutan jaksa tersebut sudah dibacakan apa belum. “Saya sidang sampai sore, jadi belum tau tuntutannya dibacakan apa belum,” ujar Sigit, Selasa (12/2/2019).

Sementara info yang beredar, Jaksa batal membacakan tuntutan terhadap Saidah tanpa alasan yang jelas.

Dalam sidang sebelumnya, JPU menghadirkan seorang ahli bahasa dan sastra Indonesia dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Andik Yulianto, pada persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Ahli bahasa tersebut dihadirkan dengan maksud untuk mengurai kasus penyebaran Hoax melalui aplikasi WhatsApp yang dilakukan terdakwa.

Saat diminta pendapatnya, Andik menerangkan, teks pesan singkat bernada Hoax yang disebarkan Saidah bukan murni sebuah pertanyaan. Melainkan bentuk eksplisit dari tata bahasa yang cenderung menyampaikan pemberitahuan bersifat informatif.

Bos…Piye, (Bos Bagaimana). Dalam bahasa memang ada wujud fisiknya bertanya. Tapi ada juga yang sifatnya memberitahukan sesuatu bentuknya eksplisit ini kata tanya retorika,” ujar Andik, menjawab pertanyaan kuasa hukum Saidah.

Andik kemudian menyebutkan bunyi teks utuh pesan WhatsApp yang dibuat Saidah sebagai berikut,
bozz … piye iku pisma kok tambah ga karu2an ngono siih. Kmrn mitra tenun 100% stop total .. aku di tlp ni mereka, PPT stop juga … ga ono fiber piye paaak Posisi saiki mitra podo kosong … ppt praktis total mandeg greg.. Yo opo pakk.”

Artinya, (Bos Bagaimana itu Pisma kok tambah semrawut gitu sih, Kemarin mitra tenun 100 persen stop total, Aku ditelfoni mereka, PPT stop juga, tidak ada fiber bagaimana pak, posisi sekarang mitra pada kosong. PPT Praktis total Berhenti Grak, Bagaimana Pak”)

Dalam surat dakwaan Penuntut Umum disebutkan, kata itu merupakan suatu penghinaan dan pencemaran nama baik, karena yang dimaksud dengan ‘pisma’ dalam tulisan terdakwa adalah perusahaan yang bernama Pismatex, sedangkan yang dimaksud dengan PPT adalah PT. Pisma Putra Textile.

Sedangkan menurut pendapat Andik, dalam segi Bahasanya ada kata 100 persen. Kata tersebut dapat diartikan mengandung makna totalitas.

Sebelum itu, lanjut dia, kalimatnya didahului dengan lontaran kalimat informatif seolah-olah pengirim WhatsApp mengetahui suatu informasi atau keadaan.

“Bos pisma kok tambah nggak karu-karuan. Arti dalam bahasa (Indonesia) nggak karu-karuan, berarti semrawut (dalam makna bidang keuangan atau menejemen),” terang Andik.

“Kalimat yang ‘Bos bagaimana ini’ oleh Andik dikaitkan dengan kronologi yang ditemukan oleh penyidik Kepolisian. Dalam kronologi itu kan tidak tahu siapa yang mengirim kemudian berkaitan dengan kasus ini kemudian berkaitan dengan perusahaan,” paparnya.

Penuntut Umum Roginta kemudian bertanya, apakah dalam kata-kata itu ada unsur maksud dan tujuan melakukan pencemaran. Andik menjawab dapat, apabila keadaan itu tidak sesuai dengan fakta sebenarnya.
“Kalau informasi ini ada yang tidak benar, ini dapat mengakibatkan seperti itu (pencemaran),” urainya

Dalam kasus ini JPU berkeyakinan bahwa terdakwa telah dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan atau mentransmisikan dan membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik yang memiliki muatan penghinaan maupun pencemaran nama baik pada PT. Pismatex, milik Jamal Gozi.

Format Pesan hoax itu menurut JPU, dikirimkan terdakwa secara masif pada beberapa orang, diantaranya ialah Komaruzzaman, Kepala Divisi Syariah Bank Exim Indonesia dan Amerita, yang merupakan General Manager dari Bank BNI Pusat di Jakarta. Sehingga nama baik perusahaan menjadi tercemar. [uci/suf]

 

Apa Reaksi Anda?

Komentar