Hukum & Kriminal

Eksekusi Astranawa, Pemred Harian Duta: Saya Diborgol Seperti Maling dan Teroris

Pemimpin Redaksi (Pemred) Harian Duta Masyarakat, Mokhammad Kaiyis

Surabaya (beritajatim.com) – Pemimpin Redaksi (Pemred) Harian Duta Masyarakat, Mokhammad Kaiyis sempat diamankan dengan posisi tangan diborgol oleh aparat kepolisian saat proses eksekusi Graha Astranawa Surabaya, Rabu (13/11/2019). Kaiyis dianggap menghalangi jalannya eksekusi.

Kaiyis sempat diamankan ke Polrestabes Surabaya bersama dua orang lainnya, bernama Said dan Udik. Kemudian, dipindah lagi ke Polsek Jambangan dan akhirnya dilepaskan. Kaiyis pun memberikan keterangan kepada awak media yang meliput proses eksekusi. Harian Duta Masyarakat sendiri berkantor di dalam kompleks Graha Astranawa.

“Jadi, ini pertama kali saya sebagai wartawan tahu bagaimana proses eksekusi yang berjalan begitu, begitu keras, kasar, arogan. Tapi saya menyadari, saya paham. Ini karena dalam proses kebijakan hukum kita, hal semacam ini sering terjadi dan selalu menimpa orang-orang kecil. Saya melakukan perlawanan karena secara yuridis formal, secara hukum, mestinya eksekusi ini tidak bisa dilakukan,” kata Kaiyis kepada wartawan.

Mengapa eksekusi Graha Astranawa tidak bisa dilakukan? “Ini karena kami masih melakukan perlawanan terhadap eksekusi itu. Pada Selasa kemarin sudah ditetapkan majelisnya dan kapan akan disidangkan perkara ini. Kalau gugatan terhadap eksekusi ini diterima, berarti eksekusi tidak bisa dilakukan. Harus ditunda dulu,” jelasnya.

“Pada 26 November akan ada sidang. Tapi itu tidak digubris. Oleh karena itu, saya sebagai orang kecil dan sipil hanya bisa teriak-teriak. Saya nggak punya bedhil. Saat saya teriak-teriak, saya diambil paksa, saya dikecrek, dimasukkan dalam mobil. Jangankan dikecrek, dipenjara lho saya nggak apa-apa. Ini karena saya mempertahankan hak, dalam Islam itu hukumnya wajib dan ibadah,” imbuhnya.

Kaiyis pun dibawa ke Polrestabes Surabaya. Dari Polrestabes Surabaya, dirinya juga dibawa pindah ke Polsek Jambangan. Setelah itu, Kaiyis dibawa menuju Pos Polisi Gayungan dekat Perumahan The Gayungsari.

“Di Pos Polisi Gayungan itu, saya ‘diamankan’ selama 1,5 jam bersama Pak Said dan Pak Udik. Hampir dua jam. Saya minta dilepaskan, untuk mengamankan komputer agar bisa terbit Harian Duta Masyarakat. Tapi, saya pastikan Harian Duta Masyarakat sementara ini tidak bisa terbit dulu. Saya belum tahu sampai kapan tidak terbitnya. Harus menata dulu jaringan. Kepada pemasang iklan dan pembaca, saya minta maaf,” paparnya.

Kaiyis bahkan menilai pemborgolan dirinya diibaratkan seperti maling dan teroris. “Saya sudah bilang ke teman reserse. Saya mau dimasukkan ke mobil Barracuda monggo. Saya dikecrek monggo. Tapi terlalu berlebihan. Saya pahami mereka sedang menjalankan tugas,” pungkasnya. (tok/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar