Hukum & Kriminal

Dituduh Ikut ‘Mencicipi’ Tubuh Santriwati, Ini Tanggapan Ustaz di Sumenep

Agus Sairi (paling kiri) didampingi pengacaranya dan pengacara korban

Sumenep (beritajatim.com) – Agus Sairi, salah satu Ustad di Madrasah Ibtidaiyah di Pulau Giliyang Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep mengaku menjadi korban fitnah keluarga H Gufron, tersangka pencabulan dan pemerkosaan SS (14), warga Desa Bancamara, Pulau Giliyang, yang merupakan salah satu santriwati H. Gufron.

Kuasa Hukum Agus Sairi, Nadianto, Advokat dan Konsultan hukum dari Kantor Helmi Fuad dan Rekan menjelaskan, kliennya dituduh telah ikut melakukan pencabulan dan pemerkosaan terhadap SS sehingga dilaporkan ke kepolisian.

“Korban ditekan dan diancam oleh H. Gufron, agar mengakui kalau Agus melakukan perbuatan cabul kepadanya. Padahal itu fitnah. Buktinya polisi tidak menemukan bukti kalau Agus telah mencabuli SS,” katanya, Selasa (19/11/2019).

Dihadapan penyidik, awalnya SS mengaku telah dicabuli oleh Agus. Namun, penyidik tidak menemukan bukti. Selain Agus sebagai terlapor I, nama yang disebut SS sebagai terlapor II adalah H. Gufron. Berdasarkan keterangan saksi-saksi dan barang bukti, Polisi kemudian menetapkan H. Gufron sebagai tersangka.

“Saat ini korban SS dan Agus Sairi telah sepakat berdamai dan mencabut laporan kepolisian. Karena, faktanya memang pelaku cabul itu adalah H Gufron,” ujar Nadiyanto.

Sebelumnya, Ernawiyah (41), istri tersangka Gufron, juga menyebut bahwa Agus ikut melakukan pencabulan dan persetubuhan terhadap korban SS. Bahkan ia menyebut Agus meniduri korban lebih awal, karena mereka pacaran. Di buku harian korban, ditulis bahwa korban dan Agus punya hubungan khusus, bahkan sudah tidur seperti suami istri.

“Semua yang diungkapkan itu fitnah. Karena itu, kami meminta agar H Gufron dan keluarganya meminta maaf kepada Agus dan mengembalikan nama baiknya yang telah tercabik-cabik. Kalau tidak, maka kami akan melaporkan ke polisi atas dugaan pencemaran nama baik dan transaksi IT,” tandas Nadiyanto.

Sementara Kuasa Hukum korban SS, Kamarullah berharap, dengan adanya pencabutan laporan SS terhadap Agus. kasus tersebut bisa dihentikan oleh penyidik Polres Sumenep. “Ini kan sudah ada pencabutan laporan, maka kami berharap penyidik bisa menghentikan proses kasus ini. Karena dua belah pihak sudah damai,” terangnya.

Tersangka Gufron merupakan Ketua Yayasan sekolah Islam. Sedangkan AS merupakan salah satu ustad Madrasah Ibtidaiyah (MI) di yayasan tersebut. SS merupakan salah satu siswa SMP di yayasan Gufron, sebelum akhirnya SS mondok di salah satu Pondok Pesantren di Guluk-guluk.

Polisi telah menetapkan Gufron sebagai tersangka pelaku pencabulan dan pemerkosaan SS, salah satu santrinya. Tersangka diduga telah melakukan aksinya berkali-kali. Salah satunya di kandang ayam. Selain itu di ruang kelas, di rumahnya, serta di hotel.

Akibat perbuatannya, tersangka dijerat pasal 81 ayat (1), (2), dan (3), serta pasal 81 ayat (1) dan (2) UU no 17 tahun 2016 tentang perubahan UU RI no 35 tahun 2014. [tem/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar