Hukum & Kriminal

Dikirimi Karangan Bunga dari Pendeta, Kepala Kemenag Gresik Kaget

Gresik (beritajatim.com) – Kantor Kepala Kementrian Agama (Kemenag) Gresik, sempat menjadi buah bibir masyarakat. Pasalnya, pucuk pimpinan kantor tersebut dikira dikepalai seorang non muslim karena namanya Markus. Padahal, pria kelahiran Sumenep 29 April 1976 sejak kecil banyak mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Karena namanya non muslim, dirinya mendapat kiriman karangan bunga dari Pdt. Hendry Hariyono, MTh serta Jemaat Gereja Kemah Tabernakel.

“Baru tiga hari menjabat Kepala Kantor Kemenag Gresik, banyak kolega yang WA (Whatsapp) ke saya, saya baru tahu dari situ kalau nama saya viral karena ada nama Markus,” ujarnya, Kamis (11/07/2019).

Mendadak viral serta jadi perbincangan masyarakat Gresik. Suami dari Mutik Hidayat itu, sejak kecil hingga dewasa tumbuh di lingkungan Pondok Pesantren Annawari Saratengah, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep.

Mantan Humas Kakanwil Kemenag Jatim itu awalnya tidak tahu-menahu mengetahui karangan bunga dari Pdt. Hendry Hariyono, MTh dan Jemaat Gereja Kemah Tabernakel. “Ini merupakan implementasinya toleransi kerukunan umat beragama. Dirinya mengucapkan terimakasih kepada bapak pendeta itu yang sudah mengirim karangan bunga. Terus terang saya belum kenal dengan Pak Hendry. Saya tahunya beliau berasal dari FKUB Gresik,” ujar Markus.

Diakui Markus, selama ini nama yang melekat tidak ada yang mempersoalkan. Bahkan, saat menempuh pendidikan dasar di MI Tarbiyatus Shibyan Sumenep, kemudian MTs di Annawari Sumenep, dan MA di Annawari Sumenep, Madura, tetap menggunakan nama tersebut. “Saat saya menempuh perguruan tinggi di UNESA Surabaya dan strata II Managemen IMNI dan strata II Hukum UTM Madura juga tidak ada yang mempersoalkan nama Markus,” ungkapnya.

Dirinya baru sadar, mungkin karena dari Sumenep di Bluto jadi mungkin maksutnya waktu itu Mahrus kemudian ketika didaftarkan di madrasah dengarnya Markus. Maka ditulislah jadi Markus, begitu, saya tidak merasa aneh sebelumnya kalau nama itu bagian dari konteks agama tertentu. “KTP saya namanya juga tidak berubah tetap pakai nama Markus,” imbuhnya.

Dirinya juga menyayangkan akibat viral nama Markus secara psikologi dikuatirkan dapat mengganggu banyak orang sehingga harus segera bertabayyun. “Saya menghimbau kalau dapat informasi jangan ditelan mentah-mentah agar tidak membuat gaduh,” tandas Markus. [dny/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar