Hukum & Kriminal

Digugat Praperadilan Pentolan HTI Jatim, Kapolres Mojokerto Menang

Mojokerto (beritajatim.com) – Kapolres Mojokerto AKBP Setyo Koes Heriyatno memenangkan sidang gugatan praperadilan di Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto. Kapolres Mojokerto digugat Wakil Ketua Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jawa Timur, organisasi kemasyarakatan (ormas) yang dibubarkan pemerintah, Heru Ivan Wijaya (46).

Sidang pembacaan putusan ini digelar di ruang Cakra Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto, Jalan RA Basuni, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto dan berlangsung tertutup. Dalam sidang yang dipimpin hakim tunggal, Juply Sandria Pansariang tersebut menolak permohonan Heru.

Otomatis penyidikan kasus ujaran kebencian dengan tersangka Heru tetap berlanjut. Heru mengajukan praperadilan agar status dirinya sebagai tersangka kasus ujaran kebencian melalui medsos dibatalkan Polres Mojokerto. Selain itu, eks Wakil Ketua HTI Jatim ini meminta Polres menerbitkan Surat Penghentian Proses Penyidikan (SP3).

Dalam sidang tersebut, Heru diwakili tim kuasa hukum dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pelita Umat. Sedangkan pihak tergugat, Kapolres Mojokerto AKBP Setyo Koes Heriyatno diwakili kuasa hukum dari Bagian Hukum Polda Jatim yakni dipimpin AKBP Siti Alindasah SH MH.

Usai sidang, salah satu kuasa hukum Heru, Budi Harjo mengatakan, sidang kali ini dengan agenda putusan. “Hari ini pembacaan putusan. Putusan tersebut menurut kami telah mengesampingkan apa yang kami simpulkan dalam persidangan,” ungkapnya, Kamis (11/4/2019).

Kuasa hukum Heru lainnya, Nur Rahmad menilai, putusan hakim praperadilan tidak adil. “Bukti-bukti tim pengacara dalam persidangan menunjukkan penetapan kliennya sebagai tersangka tak sesuai prosedur hukum. SPDP dikeluarkan oleh Polres Mojokerto tanggal 29 September 2018 tidak diberikan,” katanya.

Padahal, lanjut Nur, jelas-jelas dalam aturan Mahkamah Konstitusi (MK), Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) diberikan. Meski sudah disampaikan dalam kesimpulan, namun hal tersebut dinilai telah dikesampingkan oleh hakim. Pihaknya menilai pembuatan surat penetapan tersangka untuk Heru Ivan Wijaya terkesan dipaksakan oleh Satreskrim Polres Mojokerto.

“Surat nomor S.Tap/16/III/RES.1.1.1./2019/Satreskrim yang dibuat 25 Maret 2019 itu dipaksakan untuk diserahkan setelah kami mengajukan praperadilan tanggal 29 Maret 2019. Itu menunjukkan kesewenang-wenangan. Artiya hasil dalam putusan praperadilan hari ini, membuat klien tetap menjadi tersangka kasus ujaran kebencian. Kami akan tetap terus lakukan pembelaan terhadap klien kami,” tegasnya.

Dalam surat permohonan praperadilan warga Desa Tunggal Pager, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto tersebut berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pria yang pernah mengajar di salah satu SMAN di Kabupaten Mojokerto ini dilaporan oleh Ketua Cabang GP Ansor Kabupaten Mojokerto.

Ali Muhammad Nasih melapor ke Polres Mojokerto pada 23 September 2018 terkait dugaan ujaran kebencian yang dilakukan Heru melalui media sosial (medsos). Dalam postingan yang diduga diunggah Heru, menuduh Banser sebagai alat untuk menggebuki sesama muslim.

Heru pun dituduh melanggar Pasal 45A juncto Pasal 28 ayat (2) UU RI No 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI No 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Setelah melakukan penyelidikan dan penyidikan, Satreskrim Polres Mojokerto menetapkan Heru sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Polisi melayangkan surat panggilan No S.Pgl/325/III/RES.1.1.1./2019/Satreskrim tanggal 25 Maret 2019 kepada Heru untuk diperiksa sebagai tersangka. Dalam sidang tersebut dihadiri puluhan anggota HTI yang mayoritas menggunakan sorban dan baju koko warna putih.

Sementara itu, di depan pagar PN Mojokerto aksi unjuk rasa dilakukan ratusan orang pendukung Heru Ivan Wijaya. Mereka menggelar aksinya di depan pagar Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto hingga berjajar sampai di depan pagar Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Mojokerto. Ratusan orang yang datang tidak hanya dari Mojokerto. Mereka membawa bendera berkalimat tauhid dan beberapa poster berisi tuntutan. [tin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar