Hukum & Kriminal

Dialog Kebangsaan Beda Agama Digelar di Mojokerto

Kapolres Mojokerto Kota dalam acara dialog kebangsaan. Foto: misti/beritajatim

Mojokerto (beritajatim.com) – Persekutuan Gereja-gereja Seluruh Indonesia (PGSI) Kota dan Kab Mojokerto dan Gusdurian Kota Mojokerto menggelar dialog kebangsaan. Dengan tema ‘Peran Lintas Imam dalam Penyaring Pengaruh Paham Radikalisme’, dialog digelar kebangsaan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-74.

Dialog kebangsaan digelar di GKJW, Kelurahan Sentanan, Kecamatan Karanggan, Kota Mojokerto, Sabtu (24/8/2019) diikuti sekitar 250 jemaat. Dalam dialog kebangsaan tersebut, juga digelar sesi dialog dan tanya jawab serta pandangan agama Islam, Kristen dan kebangsaan dari sejumlah narasumber yang hadir dalam dialog kebangsaan tersebut.

PGIS, Pendeta Jonet Soedarmoko mengatakan, dialog kebangsaan yang digelar tersebut merupakan program PGIS Kota dan Kabupaten Mojokerto. “Dengan harapan kita semua bisa berpartisipasi menjalin persatuan dan kesatuan NKRI, antisipasi maraknya Pemahaman Radikalisme,” ungkapnya.

Pandangan agama Kristen yang disampaikan Pendeta Samuel Natar menyatakan, jika semua bisa sama-sama merespon dalam menghayati kemerdekaan RI. “Kematangan itu tidak lepas dari dinamika dinamika yang terjadi. Kekokohan Indonesia tidak pernah lepas dari unsur seluruh masyarakat dan agama,” katanya.

Di Irak dan syuriah, masih kata Pendeta Samuel, kelompok ISIS bisa merubah suatu suasana menjadi tidak Kondusif. Menurutny, bangsa Indonesia patut bersyukur karena Indonesia ada banyak suku bangsa yang bisa hidup berdampingan dengan damai.

“Mengisi kemerdekaan bagi orang Kristen yakni bagaimana bisa menebarkan kasih yang mewujudkan kedamaian. Menjaga kerukunan NKRI dalam perbedaan, mari saling mengerti dan saling menghormati satu sama lain,” ujarnya.

Ketua Persada Kota Mojokerto, Aan Anshori setuju dengan pendapat Pendeta Samuel dimana Kemerdekaan Indonesia merupakan kontribusi dari semua pihak. “Fakta-fakta hari ini dimana terdapat kelompok-kelompok yang memiliki cara pandang yang berbeda. Situasi di Indonesia ini semakin lama harusnya semakin bagus,” tuturnya.

Pihaknya telah melakukan survey sejak tahun 1998 sampai dengan tahun 2019, ada dua tempat ibadah yakni gereja yang tidak bisa beroperasi karena radikalisme. Pihaknya sangat menyanyangkan atas kejadian tersebut. Menurutnya semua harus bersatu menjaga NKRI.

“Mari saling bahu membahu untuk mengingatkan kembali bahwa negara ini tidak bisa dirawat dengan diskriminatif. Ada beberapa yang harus kita lakukan bila ada konflik, mari bersiap-siap saling melindungi satu sama lain, terus melawan cara berfikir radikalisme,” urainya.

Sementara itu, Kapolres Mojokerto Kota, AKBP Sigit Dany Setiyono menyampaikan pandangan Kebangsaan Indonesia. “Kita semua sudah merasakan Kemerdekaan, dimana arti penting dari Kemerdekaan. Panglima Sudirman mengatakan ‘Kemerdekan indonesia dibangun dari tetesan darah, air mata dan keringat masyarakat Indonesia dari semua agama dan kelompok’,” tegasnya.

Kapolresta menambahkan, betapa beratnya menjaga solidaritas dimana banyak konflik yang terjadi. Radikalisme memiliki pintu yaitu Intoleransi. Pintu tersebut harus dikunci karena perbedaan dan keberagaman adalah yang membangun persatuan dan kesatuan Indonesia sehingga harus ditanamkan jiwa dan sikap toleran bisa menerima perbedaan.

“Yakinlah Indonesia bukan hanya Jawa melainkan Indonesia adalah dari Sabang sampai Merauke. Saat ini kita bisa duduk bersama antar agama, itu semua merupakan hasil jerih payah dari orang tua kita terdahulu. Kami ucapkan terima kasih dan mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini,” tegasnya. [tin/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar