Hukum & Kriminal

Dewan Penasehat Sudah Pecat 7 Pegawai KPK

Moh Tsani Annafari, penasehat KPK, memberi penjelasan kepada mahasiswa yang menggelar aksi di depan gedung DPRD Ponorogo. (Foto: Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Road show Bus KPK jelajah negeri bangun anti korupsi di pendopo Kabupaten Ponorogo berjalan cukup spesial. Hal itu terjadi di depan gedung DPRD Ponorogo jalan aloon-aloon timur Ponorogo.

Ada 150 mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Ponorogo, menyatakan sikap untuk mengajak seluruh elemen bangsa, bersama-sama menjadi subjek dalam pemberantasan korupsi. Dalam orasinya mereka mendesak KPK untuk tidak tebang pilih dalam melaksanakan tugas pemberantasan korupsi.

Selain itu tidak menjadikan KPK sebagai alat politik oleh kelompok tertentu. Dan tuntutan yang utama untuk memberantas seluruh oknum kelompok radikal dan intoleran dalam tubuh KPK dan seluruh sektor pemerintah.

”Banyak anggapan hari ini KPK sudah dimasuki oleh oknum-oknum radikal. Maka dari itu kami mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama menjadi subjek dalam pemberantasan korupsi di negeri ini,” kata Koordinator Aksi Hanif Munawwirulloh, Jumat (20/9/2019).

Sementara itu Moh. Tsani Annafari, penasehat KPK yang juga menemui massa mahasiswa yang menggelar aksi meluruskan anggapan dari para mahasiswa. Dia menyebut pegawai KPK itu punya standar Operasional Prosedur (SOP), pegawai yang bekerja tidak sesuai SOP atau melanggar aturan akan ada sanksi hukumnya.

Orang yang memberantas korupsi harus bersih. Tsani sapaannya mengungkapkan dewan penasehat sudah memecat sebanyak tujuh pegawai, yang disinyalir tidak mengikuti SOP yang telah ada.

”Pegawai KPK itu harus whiter than white, tidak boleh orang yang banyak masalah harus melakukan penegakan etik atau hukum,” kata Tsani usai menemui mahasiswa.

Dia tidak ingin kemudian masyarakat diombang-ambingkan dengan informasi yang tidak tepat. Jadi yang katanya ada oknum-oknum radikal itu tidak ada di KPK. Kalau tidak percaya, Tsani menyarankan masyarakat datang ke gedung KPK di Jakarta. Biar tahu sendiri ada yang radikal atau tidak.

Kalau kemudian pihaknya bersikap keras kepada korupsi, itu merupakan perwujudannya dalam menjalankan agama yang kita yakini.

”Teman mahasiswa ini mungkin tidak paham saja, dan saya mencoba meluruskan. Masyarakat jangan mudah percaya pada fitnah. Kita tabayun dulu, baru nanti tahu ini fitnah atau bukannya,” pungkasnya. [end/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar