Hukum & Kriminal

6 Tahun, Penjual Kopi Berjuang Rebut Kembali Rumah Peninggalan Ortu

Kediri (beritajatim.com) – Seorang perempuan penjual kopi di Kota Kediri berhasil merebut kembali rumah peninggalan orang tuanya yang telah dikuasai orang lain dengan cara licik. Perjuangan berat tersebut dilakukan oleh Sukartini (67) warga Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kota Kediri selama kurang lebih 6 tahun.

Sukartini berhasil menguasai kembali rumah di Jalan Kawi Nomor 36, Mojoroto, Kota Kediri. Rumah tersebut milik almarhumah Siti Ngaisah, ibunya, yang dikuasai oleh pasangan suami-istri Franciscus Sudaryanto dan Maria Vincentia Suratmi. Caranya dengan memalsukan tanda tangan pemilik untuk menerbitkan sertifikat atas nama mereka.

Pengadilan Negeri Kota Kediri, pada Selasa (13/8/2019) melakukan eksekusi pengosongan rumah itu. Eksekusi dilakukan setelah Eukartini mengajukan permohonan ke PN Kota Kediri, setelah gugatan yang diajukan memperoleh kekuatan hukum tetap atau incrah.

“Kami melaksanakan eksekusi dalam perkara No.4/Pdt.Eks/2017/PN.Kdr yang telah berkekuatan hukum tetap,” kata Agus Santoso, selaku juru sita PN Kota Kediri.

Eksekusi dilakukan berdasarkan ketatapan Ketua PN Kota Kediri, setelah Sukartini melalui kuasa hukumnya Eko Budiono, SH, M.H. Sementara termohon eksekusi antara lain, pasangan suami istri Maria Vincentia Suratmi dan Franciscus Sudaryanto, Samet Santoso, Drs. Edy Harwanto, selaku Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dan BPN Kota Kediri selaku turut termohon eksekusi.

Nida Khittoh, juru bicara Eko Budiono, sebagai kuasa pemohon eksekusi mengatakan, kasus tersebut bermula, pada 2003 almarhumah Siti Ngaisah memiliki sebidang tanah dengan bangunan rumah berdasarkan bukti petok D. Tetapi tiba-tiba, tanda tangan almarhumah dipalsukan oleh pasangan suami istri Maria Vincentia Suratmi dan Franciscus Sudaryanto, warga Jalan Margotani, Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, yang notabene orang lain.

Pemalsuan tanda tangan tersebut dipergunakan oleh kedua pelaku untuk menguasahi obyek tersebut. Modus operandinya dengan membuat perjanjian hibah palsu untuk menerbitkan sertifikat. Padahal, Siti Ngaisah tidak pernah melakukan pemindahan hak tanah maupun bangunan rumah miliknya kepada pasangan suami istri itu.

“Tim kuasa hukum Sukartini (anak kandung almarhum Siti Ngaisah) kemudian melaporkan tindak pidana tersebut ke Polres Kediri Kota. Laporan tersebut adalah pemalsuan tanda tangan dan memberikan keterangan palsu dalam akta otentik. Akhirnya Maria Vincentia Suratmi dan Franciscus Sudaryanto ditahan selama 1 tahun 2 bulan,” jelas Nida Khittoh.

Tidak berhenti disitu. Kuasa hukum Sukartini kemudian melakukan upaya hukum mengambil alih hak almarhumah Siti Ngaisah. Tim hukum mengajukan gugatan, pada 2015 di Pengadilan Kota Kediri. Akhirnya kasus tersebut berhasil dimenangkan. Putusan pada tingkat pertama itu dibanding ke Pengadilan Tinggi Negeri Jawa Timur, bahkan hingga ke tingkah Mahkamah Agung (MA). Namun Sukartini tetap memenangkan perkara itu.

Pada 2017 lalu, Sukartini melalui kuasa hukumnya mengajukan permohonan eksekusi. Permohonan itu akhirnya dikabulkan oleh PN Kota Kediri hari ini. Sehingga juru sita menggelar eksekusi pengosongan. [nng/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar