Hukum & Kriminal

2 Tahun Kasus Novel Baswedan, Begini Sikap BEM FISIP Unair

Surabaya (beritajatim.com) – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP Universitas Airlangga melakukan penyikapan atas dua tahun pasca terjadinya tindak kekerasan yang menimpa penyidik KPK, Novel Baswedan pada Kamis (11/4).

Dalam rilis yang dipublish via akun sosial media resminya @bemfisipunair, BEM FISIP Unair mendesak Presiden Republik Indonesia untuk menunjukan ketegasan dalam mengungkap kasus Novel Baswedan, dan
melindungi aktivis serta pejuang anti korupsi. Mereka juga menuntut kepolisan Republik Indonesia mengungkap kebenaran di balik kasus penyerangan Novel Baswedan.

Melalui sikapnya, BEM FISIP Unair juga menuntut Tim Gabungan untuk menghasilkan hasil yang signifikan dalam mengusut kasus penyerangan Novel Baswedan. Organisasi mahasiswa ini juga mendesak tim gabungan untuk melakukan percepatam, transparansi dan independensi penyidikan kasus penyerangan Novel Baswedan. Terkahir dalam sikapnya, mereka meminta pemerintah menjamin KPK bebas intervensi dan menguatkan wewenang KPK Serta melakukan upaya pemberian jaminan keselamatan terhadap penyidik KPK.

Sebelumnya, BEM FISIP Unair juga merilis info grafik timeline kasus ini berjalan hingga hari ini. Hari ini adalah tepat dua tahun pengusutan tindak kekerasan terhadap Noven Baswedan yang belum juga tuntas. Pada tanggal 11 April 2017, Novel diserang oleh orang tak dikenal setelah menunaikan salat subuh. Info grafik tersebut juga menunjukan ada tim gabungan yang bertugas untuk menuntaskan kasus ini yang diketuai oleh Kapolda Metro Jaya, Irjen Adham Aziz.

Kasus kekerasan ataupun teror terhadap Novel bukan yang pertama kalinya terjadi terhadap pegawai dan penyidik KPK. Sebelumnya, kasus serupa pernah terjadi dan menimpa kediaman ketua KPK, Agus Rahardjo dengan ditemukanya tas berisi benda mirip bom pipa.

Kemudian, rumah wakil ketua KPK, Laode M Syarif juga menjadi sasaran dengan dilempari dua buah bom molotov oleh orang tidak dikenal. Kasus lainya, dua karyawan KPK sempat mengalami penganiayaan di Hotel Borobudur, pada Sabtu 2 Februari 2019.

Presiden BEM FISIP Unair, Risyad Fahlevi juga ikut menyuarakan keprihatinanya akan kasus ini. Saat dihubungi, dirinya memandang bahwa salah satu faktor penghambat kemajuan suatu negara itu sendiri adalah terjadinya praktik korupsi. KPK, dalam hal ini adalah lembaga extraordinary atau lembaga luar biasa yang independen dalam melakukan tugasnya tidak bisa dibiarkan bekerja sendirian, tegasnya.

Dirinya juga mengungkapkan bahwa telah terjadi banyak teror secara langsung seperti kasus yang menimpa Novel dan rumah Laode M Syarief. “Kami (BEM FISIP Unair) memandang bahwa masyarakat harus menjadi pendukung penuh KPK untuk melakukan tugasnya, karena harapan kami pada lembaga ini untuk memberantas korupsi di Indonesia sangat besar,” kata Risyad Fahlevi. [juf/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar