Rabu, 21 Nopember 2018

Bagian 1

Oklik Bojonegoro, Dari Pengusir Pagebluk, Jadi Kesenian Rakyat

Kamis, 08 Nopember 2018 17:05:00 WIB
Reporter : Tulus Adarrma
Oklik Bojonegoro, Dari Pengusir Pagebluk, Jadi Kesenian Rakyat


Bojonegoro (beritajatim.com) - Oklik merupakan salah satu kesenian tradisional di Kabupaten Bojonegoro yang masih bertahan.

Kesenian oklik merupakan bentuk seni musik yang menggunakan alat musik dari bambu. Para pelaku mempertahankan kesenian tradisional itu dengan cara menyesuaikan perkembangan zaman pada saat ini.

Kesenian oklik biasanya dibawakan dengan minimal empat orang yang memukul alat musik bambu. Alat musik bambu itu dibunyikan dengan cara di pukul. Empat alat musik ini memiliki karakteristik suara yang berbeda-beda. Seperti, tinthel kerep (pukulan cepat), (klik) tinthel arang (pukulan jarang), (klok) gedhug, (gluk) klor (bass).

Kesenian musik tradisional oklik pada zaman dulu sempat berkembang dan hampir dimainkan menyebar di wilayah Kabupaten Bojonegoro. Namun, setelah adanya peristiwa G30SPKI hanya beberapa pelaku yang berani mempertahanannya. Salah satunya, berada di Desa Sobontoro, Kecamatan Balen.

Salah satu pelaku seni oklik yang masih bertahan hingga saat ini adalah Darminto. Darminto, menjadi pelaku oklik dan menyebarkan kesenian tersebut agar bisa tetap lestari. Pada sekitar tahun 1980, akhirnya Djagat Pramudjito juga ikut mempelajari musik tersebut. Dia kemudian juga mengaplikasikan kepada para siswanya dalam aktifitas belajar mengajar di sekolah.

Mas Pram, sapaan akrabnya menceritakan, kesenian tradisional oklik menurut sejarah, awalnya merupakan alat komunikasi yang digunakan masyarakat sebagai tanda. Seperti misalnya, adanya musibah (pagebluk), maling, dan lain sebagainya. Ketika ada musibah, seseorang akan memukul bambu yang biasanya ditempatkan di gardu agar masyarakat waspada.

"Proses kesenian oklik ya berawal dari gardu itu. Sehingga berkembang tidak hanya untuk komunikasi tapi juga kesenian warga kala itu," ujar Mas Pram menceritakan, Kamis (8/11/2018).

Menurut pria asal Kelurahan Ledok Kulon itu, perkembangan oklik di Desa Sobontoro berawal dari terjadinya pagebluk di wilayah setempat saat bentuk pemerintahan masih berupa kerajaan. Misalnya ada yang sakit pagi hari, sorenya akan mati. Kemudian, para tetua adat mencari wisik (bisik) dengan cara bersemadi.

Dari hasil semadi, tetua adat mendapat petunjuk gaib untuk memotong bambu satu ruas, membersihkan semak, membersihkan parit, menanam tanaman obat di halaman dan mendirikan cakruk (gardu). "Kemudian bambu satu ruas ini jadi alat untuk komunikasi di gardu. Hingga kemudian bambu satu ruas itu menjadi alat musik oklik," terangnya. [lus/ted]

Komentar

?>