Sabtu, 17 Nopember 2018

Melihat Seni Karawitan Puspa Laras Yang Tetap Lestari di Bumi Kediri

Rabu, 17 Oktober 2018 19:22:35 WIB
Reporter : Nanang Masyhari
Melihat Seni Karawitan Puspa Laras Yang Tetap Lestari di Bumi Kediri

Kediri (beritajatim.com) - Kabupaten Kediri memiliki kekayaan wisata dan kesenian. Banya kelompok kesenian yang eksis bertahan di tengah kemajuan zaman. Salah satunya adalah Kesenian Karawitan yaitu, seni musik tradisional yang berkembang di Jawa.

Masyarakat Kabupaten Kediri melestarikan kesenian karawitan sebagai warisan budaya. Salah satunya warga di Desa Kepung, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Di Desa Kepung ini terbentuk sebuah paguyuban karawitan bernama 'Puspa Laras'.

Paguyuban Puspa Laras lahir dari keinginan warga setempat untuk melestarikan budaya. Ialah Misdi, sosok pria yang telah menggagas paguyuban seni karawitan Puspa Laras ini sejak tahun 2007 silam.

Pria 63 tahun ini mengaku, awalnya hanya sekedar berkumpul bersama teman-teman sesama seniman karawitan. Mereka kerap bermain musik tradisional ini bersama-sama-sama. Akhirnya satu sama lainnya cokok dan membentuk sebuah paguyuban.

"Berawal dari sekedar kumpul bersama dengan rekan-rekan yang sama-sama punya basik main karawitan. Akhirnya kami merasa kok enak main karawitan bersama dan mulai lah membentuk paguyuban Karawitan Puspa Laras,” katanya, Rabu (17/10/2018).

Di awal, Misdi membentuk dua kelompok karawitan. Kelompok pertama disebut senior yang mana personilnya dari kaum ibu rumah tangga. Sedangkan kelompok dua disebut junior. Peprsonilnya dari kalangan pelajar mulai jenjang SMP hingga SMA.

Kelompok seni karawitan Puspa Laras ini rutin berlatih dua kali dalam satu minggu. Mereka menggunakan aliran musik dalam dua genre. Pertama, musik klasik dan kedua musik modern. Kendati demikian, menurut Misdi, musik klasik tetap menjadi dasar dari warna musik mereka.

Paguyuban karawitan Puspa Laras ini belum memiliki peralatan sendiri. Mereka masih meminjam alat musik dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri. Akan tetapi mereka tetap bersemangat. Terlebih, dalam mengembangkan potensinya mereka berkolaborasi dengan seorang pelatih tari yaitu Peni.

Seperti halnya Misdi, penari Peni memiliki jiwa seni yang tinggi. Kehadirannya di tengah-tengah kelompok seni karawitan ini untuk mengajar menari. Latihan memaikan alat musik tersebut sekaligus latihan menari.

“Ada beberapa tarian yang saya ajarkan kepada mereka. Diantaranya tari remo, gambyong, gambir anom, minak koncar dan bambangan cakil," kata Peni. Dia berencana mengajarkan tarian karonsih atau sebuah adegan tari berpasangan sebagai cucuk lampah

Wanita berusia 52 tahun ini mengaku, untuk kelompok tari berjumlah 15 orang. Satu kelompok terdiri dari campuran siswa yang berasal dari tingkat SD, SMP, dan SMA.

Kelompok karawitan ini sudah pernah mengikuti acara seperti pertunjukan rakyat (Pertura). Kemudian lomba-lomba karawitan, serta diminta mengisi acara hajatan.

Sebagai pecinta dan pelestari kebudayaan, baik Misdi maupun Peni mengajak generasi muda untuk lebih mencintai kesenian Indonesia. Salah satu upayanya dengan belajar aneka kesenian daerah, seperti karawitan dan tarian daerah. (nng/kun)

Berita Terkait

    Komentar

    ?>