Kamis, 15 Nopember 2018

Pemenang Pawai Budaya 2018

Tedhak Siten, Tradisi Pengenalan Bayi Kepada Lingkungan

Senin, 15 Oktober 2018 21:19:19 WIB
Reporter : Tulus Adarrma
Tedhak Siten, Tradisi Pengenalan Bayi Kepada Lingkungan

Bojonegoro (beritajatim.com) - Tedhak Siten merupakan salah satu tradisi orang tua jawa untuk memperkenalkan anaknya terhadap lingkungan. Orang tua menyiapkan upacara ritual tersebut untuk kesiapan seorang anak dalam menghadapi kehidupan.

Tedhak siten adalah upacara adat yang diperuntukkan bagi bayi yang berusia 7 lapan (7x35 hari) atau 245 hari. Pada usia itu, anak mulai menapakkan kakinya untuk pertama kali di tanah. Oleh orang tuanya diajari atau dituntun menggunakan kakinya untuk belajar berjalan.

"Secara etimologis, Tedhak Siten berasal dari kata ‘tedhak’ dan ‘siten’. Tedak berarti kaki atau langkah, sedangkan siten berasal dari kata dasar siti yang artinya tanah," ujar salah seorang seniman di Bojonegoro, Agus Sigro, Senin (15/10/2018).

Upacara yang mulai jarang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya ini merupakan syarat dengan nilai-nilai kehidupan. Salah satunya, mengandung makna empat elemen dalam kehidupan manusia, yakni unsur tanah, angin, air dan api.

"Maka untuk menghormati bumi diadakanlah upacara tedhak siten ini. Harapannya agar anak selalu sehat, selamat dan sejahtera dalam menapaki jalan kehidupannya," ungkapnya.

Dalam pelaksanaannya, biasanya lebih baik dilakukan bertepatan dengan hari weton anak. Weton adalah hari lahir kombinasi antara nama hari umum dengan nama hari Jawa. Misalnya Setu Kliwon, Rebo Legi, Minggu Pahing dan sebagainya.

"Biasanya, penyelenggaraan upacara ini dilakukan pada pagi hari di halaman depan rumah," ungkapnya.

Tahapan Pelaksanaan

Ada beberapa urutan dalam pelaksanaan upacara tedhak siten. Pertama-tama orang tua menuntun anak agar berjalan di atas jadah sebanyak tujuh buah. Jadah tadi memiliki beragam warna yaitu merah, putih, hitam, kuning, biru, merah muda, dan ungu. Di daerah lain ada juga yang menggunakan bubur tujuh warna sebagai pengganti jadah tujuh warna.

Jadah dipilih karena merupakan simbol kehidupan yang akan dilalui si anak. Aneka warna memiliki berbagai makna. Merah melambangkan keberanian. Putih bermakna kesucian. Hitam artinya kecerdasan. Kuning merupakan simbol kekuatan. Biru berarti kesetiaan. Merah muda menandakan cinta kasih dan ungu sebagai lambang ketenangan.

Makna yang terkandung dalam jadah ini merupakan simbol kehidupan yang akan dilalui si anak. Mulai dari menapakkan kakinya untuk pertama kali ke bumi ini sampai dewasa. Sementara warna-warna tersebut merupakan gambaran dalam kehidupan si anak yang akan menghadapi banyak pilihan dan rintangan yang harus dilaluinya.

Jadah tujuh warna yang disusun dari warna gelap ke warna terang menggambarkan masalah yang dihadapai si anak mulai dari yang berat sampai yang ringan. Jumlah jadah yang dibuat yaitu tujuh buah (pitu). Harapannya, agar dalam perjalanan si anak dalam menghadapi masalah bisa mendapat jalan keluar (mendapatkan pitulungan dari Tuhan Yang Maha Esa).

"Tujuh buah juga melambangkan jumlah hari yang akan dilalui oleh si anak dalam menjalani kehidupannya. Sedangkan jadah ini identik makanan yang lengket, agar kehidupannya selalu dekat dengan kebaikan," terangnya.

Langkah selanjutnya, si anak dituntun untuk menaiki dan menuruni tangga. Tangga dibuat dari batang tebu rejuna atau Arjuna. Tangga disiapkan sebanyak tujuh anak tangga. Tebu sendiri berasal dari kata antebing kalbu, yang berarti penuh tekad dan rasa percaya diri.

"Dipilih tebu arjuna agar si anak kelak meneladani watak kepahlawanan dan keberanian Arjuna dalam membela kebenaran," ungkapnya.

Langkah berikutnya adalah si anak dimasukkan ke dalam sangkar atau kurungan ayam. Kurungan ayam dihiasi janur dan kertas warna warni. Diisi berbagai benda seperti perhiasan, alat tulis, beras, mainan, padi, kapas, dan berbagai benda lainnya.

"Kurungan ayam menyiratkan tentang gambaran kehidupan nyata yang akan dimasuki si anak jika kelak ia dewasa. Dalam mengarungi kehidupan bisa cepat mandiri layaknya ayam. Sedangkan benda-benda yang ada di dalam kurungan itu menggambarkan pekerjaan yang ingin dijalani oleh si anak kelak," jelasnya.

Acara yang keempat yaitu menyebarkan udhik-udhik. Udhik-udhik adalah uang logam yang dicampur dengan beras kuning. Ibu si anak menaburkan udhik-udhik tadi ke tanah, lalu jadi rebutan anak-anak kecil. Upacara tersebut merupakan pengharapan kedua orang tua kepada  anak agar nantinya bisa mendermakan rezekinya kepada mereka yang membutuhkan.

Dalam acara ini, sesaji yang biasa digunakan antara lain kembang boreh, bubur baro-baro, macam-macam bumbu dapur, kinangan. Bubur baro-baro adalah bubur yang terbuat dari bekatul. Sesaji ini ditujukan kepada kakek nini among (plasenta/ari-ari). Sedangkan kembang boreh, macam-macam bumbu dapur, kinangan ditujukan untuk nenek moyang.

Selain sesaji, ada juga perlengkapan pendukung, antara lain bubur merah putih, jajanan pasar, dan pala kependhem. Bubur merah putih melambangkan sengkala (rintangan). Merah artinya darah, sedangkan putih artinya air mani. Beragam jajanan pasar memiliki makna dalam kehidupan kita akan banyak berinteraksi dengan banyak orang dengan beragam karakter sehingga si anak dapat dengan mudah bersosialisasi pada masyarakat. Pala kependhem memiliki makna agar si anak memiliki sifat rendah hati (andhap asor) kepada orang lain.

Prosesi tedhak siten yang terakhir adalah si anak dimandikan dengan air yang dicampur dengan sekar setaman. Kemudian si anak mengenakan baju yang baru. "Acara tedhak siten ini sekarang juga banyak dilakukan dengan tradisi islam (syukuran). Sedangkan yang menggunakan sesuai tradisi Jawa masih minim," pungkasnya.

Sekadar diketahui, ritual tedhak siten menjadi tema Pawai Budaya menyambut Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro, ke-354 yang digarap oleh Agus Sigro di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Bojonegoro. Garapan tedhak siten menjadi juara pertama pawai budaya tingkat SMA sederajat yang digelar kemarin. [lus/ted]

Komentar

?>