Kamis, 15 Nopember 2018

Karena Warna, Tokek Hias Asal Pakistan Mulai Dilirik

Senin, 15 Oktober 2018 09:08:52 WIB
Reporter : Misti P.
Karena Warna, Tokek Hias Asal Pakistan Mulai Dilirik

Mojokerto (beritajatim.com) - Tokek hias asal Pakistan atau geiko mulai digemari masyarakat di Indonesia karena warna yang unik, ukuran dan trend di pasaran reptil. Salah satu peternak geiko yakni Yoseph Dio dan Devy Putri di Kemasan gang 5, Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit kulon, Kota Mojokerto.

Di rumah tersebut, keduanya mengembangbiakan geiko. Mulai dari 17 ekor dan kini mencapai 200 ekor dengan berbagai warna. Sementara untuk pemasaran, keduanya mengandalkan media sosial (medsos) dan menghadiri pameran di mall yang ada di Surabaya.

"Awalnya, tahun 2015 saat kuliah tinggal kos, tempatnya tidak luas 2x3 meter. Tapi saya mikir bagaimana melanjutkan hobi di dunia reptil tapi cukup dan muat dalam kwalitas banyak. Kemudian saya pilih geiko," ungkap Yoseph, Senin (15/10/2018).

Masih kata Yoseph, ternak geiko dipilih karena warna yang unik, bagus, jarang, eksotik dan bisa ditampung di ruang tidak luas. Dengan modal awal Rp2,5 juta, ia mulai memelihara dan berternak. Meski awalnya ada beberapa ekor yang mati, ia tak putus asa.

"Saya belajar secara otodidak, dari forum sesama peternak dan penghobi serta dari youtube saja. Kemudian berkembang dan banyak yang berminat membeli karena saya jual lewat online dan sering ikut pameran di mall yang ada di Surabaya," katanya.

Menurutnya, di Mojokerto hanya digunakan sebagai lokasi peternakan saja karena pasar Surabaya lebih menjanjikan untuk digunakan sebagai tempat berjualan. Terbukti banyak pelanggannya dari kota-kota besar bahkan luar pulau.

"Untuk harga mulai Rp120 ribu sampai Rp2,5 juta tergantung motif, ukuran dan trend di dunia reptil karena tiga faktor ini mempengaruhi harga. Banyak pelanggan dari luar kota, seperti Surabaya, Jakarta, Bandung, luar pulau. Seperti Banjarmasin dan Medan," tuturnya.

Peminatnya, lanjut Yoseph, mulai anak kecil hingga orang dewasa. Hampir dari semua kalangan usia berminat dengan geiko karena bentuknya bagus dan warnanya unik menjadi pilihan peminat reptil. Menurutnya, tiap tahun peminat geiko mengalami peningkatan yang cukup baik.

"Pasti naik karena berdasarkan pengalaman, geiko gampang orang awam mencintai. Banyak orang baru minat pasti jadi peternak. Orang beli di saya paling banyak karena hobby cuma beberapa ada karena alasan magic. Apa manfaatnya, saya tidak tahu dan tidak merekomendasikan," jelasnya.

Sementara untuk perawatan, Yoseph menjelaskan, jika dibutuhkan material plastik untuk kandang atau aquarium agar tidak bisa memanjat dan alas koran bekas. Untuk makanan yakni jangkrik dan ulat Hongkong serta minumannya air matang.

"Perawatan dan biaya makannya tidak mahal. Seminggu makannya 2 sampai 3 kali, jangkrik Rp5 ribu cukup untuk 5 ekor tokek. Satu tokek, sekali makan 5 ekor jangkrik. Untuk kendala, karena makanan jangkrik yang kotor sehingga menyebabkan sakit," urainya.

Namun untuk menghasilkan warna yang bagus sehingga harga mahal, Yoseph melakukan perkawinan silang dengan jenis yang sama. Sehingga menghasilkan bentuk dan warna baru. Dari 200 ekor koleksinya, ada 10 hingga 15 jenis.

"Project kita ada empat warna yakni, putih, orange kemerahan, hijau dan albino. Satu indukkan dalam satu tahun, satu kali bertelur dan menghasilkan 2 sampai 10 telur. Kita pisah sehingga semua jadi geiko anakan," lanjutnya.

Yoseph menjelaskan, ada perbedaan geiko dengan tokek lokal. Geiko tidak bisa menempel di tembok, tidak berbunyi seperti tokek lokal dan memiliki tempat cadangan makanan yakni di bagian ekor sehingga ekor geiko lebih gendut dibanding tokek lokal.

"Masa hidupnya 15 sampai 30 tahun, tapi untuk dikatakan dewasa yakni usia bisa dikawinkan mulai usia 1 tahun. Untuk omzet, dalam sebulan antara Rp5 juta sampai Rp7 juta, jika ada yang berminat membeli bisa mengunjungi Instagram Bakoel Geiko Imoet," pungkasnya. [tin/suf]

Tag : hobi

Komentar

?>