Selasa, 11 Desember 2018
Dibutuhkan Wartawan untuk wilayah Nganjuk Syarat: 1.Pendidikan S1 (semua jurusan) 2. Usia Maksimal 28 Tahun 3. Memiliki SIM C 4. Punya Pengalaman Jurnalistik 5. Punya Pengalaman Organisasi Kirim Lamaran dan CV ke beritajatim@gmail.com

Tari Kolosal 1000 Kuda Kepang Kesurupan Pukau Warga Kediri

Rabu, 10 Oktober 2018 19:56:59 WIB
Reporter : Nanang Masyhari
Tari Kolosal 1000 Kuda Kepang Kesurupan Pukau Warga Kediri

Kediri (beritajatim.com) - Pemerintah Kota Kediri bersama seniman tari kuda kepang yang tergabung dalam Paguyuban Kesenian Wahyu Krida Budaya menggelar pertunjukan tari kolosal seribu kuda kepang kesurupan di Stadion Brawijaya Kediri. Pertunjukan seni ini diadakan dalam rangka Grebeg Suro, sekaligus melestarikan budaya asli daerah.

Dalam pagelaran ini, awalnya para pawang kesenian jaranan masuk ke dalam stadion dengan membawa kemenyan dupa dan sejumlah sesaji. Mereka kemudian mendoakan. Setelah itu, dilanjutkan dengan tarian Cemeti Samandiman yang diringi musik gamelan. Para penari kompak seirama dengan tempo bunyi gamelan, dan sesakali mereka membunyikan cemeti secara serentak.

Berikutnya, 1.200 orang penari kesenian Kuda Kepang masuk ke dalam stadion untuk menari dengan menunggang kuda yang terbuat dari anyaman bamboo. Tari kudang kepang ini menceritakan tentang kisah putri Kediri yakni Dewi Songgolangit yang mengadakan sebuah sayembara. Dimana jika ada orang yang bisa memenangkan sayembara tersebut, maka Dewi Songgolangit akan menjadikannya sebagai suamniya.

Adik Dewi Songgolangit yaitu Pujangganong yang sedang bertapa mendapat sebuah petunjuk. Petunjuk tersebut adalah adanya sebatang bambu dan cemeti. Bambu itu kemudian dibentuk menjadi seekor mainan kuda, sedangkan besi untuk gamelan.

Kemudian ada seorang prabu yang bernama Klono Sewandono dari Ponorogo melamar Dewi Songgolangit. Sang prabu membawa pasukan kuda, yang sama seperti petunjuk yang didapat Pujangganong sewaktu bertapa.

Selain tari kepang, para penari juga dibuat tidak sadar atau biasa disebut dengan kesurupan. Namun kesurupan disini bukan karena dirasuki oleh makhluk halus, melainkan para seniman hanya akting untuk menggambarkan orang yang sedang berbuat jahat bisa disembuhkan. “Kesurupan disini juga merupakan aksi seni yang dilakukan oleh seniman kuda kepang,”  kata Giman Waluyo, Ketua Umum Paguyuab Wahyu Krida Budaya.

Dalam perkembanganya, kesenian Jaranan Kepang di Kota Kediri terus mengalami kemajuan. Grup kesenian, pada tahun 2006 hanya berjumlah 46 kini sudah bertambah menjadi 140 grub. Bahkan pelaku seni ini pernah tampil di luar Negeri salah satunya di Prancis. (nng/kun)

Tag : tari

Komentar

?>