Kamis, 13 Desember 2018
Dibutuhkan Wartawan untuk wilayah Nganjuk Syarat: 1.Pendidikan S1 (semua jurusan) 2. Usia Maksimal 28 Tahun 3. Memiliki SIM C 4. Punya Pengalaman Jurnalistik 5. Punya Pengalaman Organisasi Kirim Lamaran dan CV ke beritajatim@gmail.com

UMM Gandeng Kemendikbud

Masyarakat Diajak Pertahankan Bahasa Daerah Melalui Film

Selasa, 18 September 2018 22:11:20 WIB
Reporter : Lucky Aditya Ramadhan
Masyarakat Diajak Pertahankan Bahasa Daerah Melalui Film

Malang (beritajatim.com) - Film dapat menjadi alat untuk mempertahankan budaya asli sebuah daerah. Sayangnya, hingga saat ini jumlah film yang mengangkat budaya, termasuk menggunakan bahasa daerah hanya bisa dihitung jari. Sebab, sebagian besar para pelaku perfilman sulit keluar dari zona nyaman untuk memberikan suatu karya yang berbeda.

"Kalau sekarang di Indonesia lagi ada film ramai satu, misal horor, semua bikin horor. Dulu cinta-cintaan ramai, semua bikin cinta-cintaan. Ini soalnya mereka gak bisa keluar dari zona nyaman. Jadi mereka bikin film yang di lingkaran-lingkaran itu saja," ujar Produser dan Youtuber Bayu Skak pada Movie Talk yang bertemakan Film Indonesia, Antara Idealisme dan Industri di Aula BAU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (18/9/2018).

Bayu menyebut, berbeda dengan negara maju seperti Amerika dan New Zealand, ketentuan penayangan film di bioskop Indonesia masih dipegang oleh para pemilik bioskop.

"Jadi orang yang punya bioskop itu adalah dewa. Kalau di New Zealand atau Amerika yang nge-gong-in itu pemerintah. Pemerintah yang nonton dulu, misal ini Pusbangnya. Jadi kalau ini deal semua, bioskop-bioskop siap menanyangkan," kata Bayu.

Lebih lanjut pria yang berhasil menelurkan film Indonesia pertama yang menggunakan bahasa Jawa dan tayang di bioskop di seluruh Indonesia bertajuk 'Yo Wes Ben' ini menyampaikan, perjuangan untuk mengangkat bahasa daerah perlu terus dilakukan.

Ia mengaku tekadnya untuk membuat film berbahasa Jawa logat Malangan akhirnya mendapat apresiasi dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Muhadjir Effendy.

"Pak Menteri menyimpulkan bahwa ini bagus, agar ke depan orang-orang menggunakan bahasa daerah di setiap karya filmya. Kita bisa berguru ke tetangga kita India. Di sana setiap tahunnya film terus diproduksi. Bollywood, 20 persennya bahasa nasional, 80 persennya bahasa daerah. Ini kan tidak apa, yang penting ada subtitlenya," papar Bayu.

Ketua Prodi Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politi (FISIP) UMM M. Himawan Sutanto yang menjelaskan bahwa Indonesia menjadi negara yang masih minim menggunakan bahasa daerah pada berbagai film yang dihasilkannya.

"Jika Korea Selatan memiliki puluhan sekolah film dan India ratusan sekolah film, Indonesia yang masih jarang. Kami berharap teman-teman, utamanya dari luar Jawa dan dari pulau-pulau yang terpinggirkan bisa mengembangkan film yang sifatnya lebih lokal, kuat dan matang," katanya.

Sementara itu Rudy Satrio Lelono seorang Praktisi Media dan Film menyampaikan, hingga saat ini dunia perfilman Indonesia maupun pemerintah terkait, tidak pernah melakukan riset khusus tentang film yang dikeluarkan di pasaran.

Padahal jika penonton ini diriset dengan jelas, para produser atau sutradara akan lebih mudah menentukan langkah untuk membuat yang selanjutnya. Meski demikian Rudi menekankankan pada para seniman film untuk mempertahankan keaslian karya yang dimiliki. "Kuncinya satu orisinalitas, kita jujur dengan ide dan karya kita," ucapnya.

Kepala Sub Bidang Apresiasi dan Penghargaan Pusbangfilm Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Robert menyampaikan bahwa saat ini pihak (Kemendikbud) siap mengapresiasi karya film dari para generasi muda Indonesia.

"Dengan tangan terbuka kami akan selalu memberikan yang terbaik bagi film-film Indonesia. Silakan jika nanti mengajukan proposal. Walaupun baru berdiri tiga tahun, kami siap terus berkembang bersama," tuturnya.

Staf Khusus Bidang Komunikasi Publik Mendikbud Nasrullah mengatakan, Indonesia, khususnya Malang punya potensi besar untuk perkembangan perfilman Indonesia. Indonesia sendiri perlu kemajuan ekonomi dari industri kreatif.

"Kita juga punya budaya yang harus dikenalkan kepada dunia. Saat ini kita memang berada diantara idealisme dan industri. Kita lumayan dalam perfilman, tetapi idealisme perfilman kita masih terseok-seok," tandas Nasrullah. [luc/suf]

Tag : film

Komentar

?>