Minggu, 22 Juli 2018

Pemuda Ini Sulap Potongan Bambu Jadi Kaligrafi

Rabu, 11 Juli 2018 08:24:10 WIB
Reporter : Misti P.
Pemuda Ini Sulap Potongan Bambu Jadi Kaligrafi

Mojokerto (beritajatim.com) - Muslimin (28) warga Dusun Kasian, Desa Domas, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto berhasil menyulap sisa potongan batang bambu menjadi kerajinan kaligrafi tiga dimensi berlafaz Arab. Hasil karya tersebut tidak sengaja dilakukannya.

Pembuatan kaligrafi itu berawal dari ketidak sengajaan melihat tayangan salah satu stasiun televisi. Berkat tangan dan ide kreatifnya, bambu kering yang biasanya hanya digunakan untuk dinding dan tiang rumah, disulapnya menjadi sesuatu yang bernilai ratusan ribu rupiah.

Yakni seni kaligrafi. Dalam satu set kaligrafi berlafal Allah-Muhammad, ia jual dengan harga Rp200 ribu. Karena dianggap mempunyai keunikan tersendiri, hasil kaligrafinya kian menjadi buruan masyarakat, untuk digunakan hiasan dinding. Keahliannya tersebut dimulai sejak 2014.

Anak pasangan Masduki dan khusnuna ini mengatakan, setelah melihat sekilas tayangan di stasiun televisi yang menyuguhkan tentang memanfaatkan bahan bambu, kemudian dirinya mencoba membuat. "Setelah coba-coba, akhirnya berhasil," ungkapnya, Rabu (11/7/2018).

Meski diakuinya, pada awalnya hasil karyanya belum maksimal. Namun ia terus coba dan mencoba lagi hingga kini hasilnya dirasa cukup maksimal. Untuk serius menekuni bisnis barunya tersebut, ia pun keluar dari kerjaan sebelumnya yakni kuli bangunan.

"Karena memang saya merasa tidak nyaman, jadi saya memutuskan tidak jadi kuli bangunan dan mengeluti usaha membuat kaligrafi. Selain membuat kaligrafi berlafal Allah-Muhammad, saya juga pernah membuat kaligrafi Asmaul Husna dengan panjang 1,5 meter," ujarnya.

Kaligrafi tersebut ia kerjakan selama tiga bulan lebih dan kini dipajang di rumahnya sebagai hiasan. Cara pembuatannya, bahan yang harus disiapkan yakni bambu, gergaji, lem dan cat. Namun yang tidak kalah penting insting, keuletan dan juga kesabaran.

"Penggarapan kaligrafi berlafal Allah-Muhammad dengan ukuran 50 cm kali 50 cm butuh waktu satu Minggu. Yang paling sulit dalam pembuatannya adalah saat menyatukan setiap potongan bambu menjadi lafal kaligrafis. Seperti 'dommah' dan menyatukan huruf hijaiyah dan kharokat," jelasnya.

Selain itu, lanjut tulang punggung keluarga ini, pemotongannyapun juga sulit sebab harus mengetahui karakter bambu yang akan digunakan. Mulai dari bambu yang besar dan kecil. Ditambah minimnya alat juga sangat mempengaruhi pembuatannya.

"Saat ini, memang belum banyak yang mengetahui khususnya di wilayah Mojokerto, tapi saya optimis jika hasil karya saya ini mampu bersaing dengan produk lain," tegasnya. [tin/suf]

Tag : seni kaligrafi

Komentar

?>