Jum'at, 20 Juli 2018

Temukan Sensasi Ngopi Bernuansa Kuno di Ijen Isun Banyuwangi

Selasa, 10 Juli 2018 16:15:52 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Temukan Sensasi Ngopi Bernuansa Kuno di Ijen Isun Banyuwangi

Banyuwangi (beritajatim.com) - Nongkrong di tempat ini dijamin beda dari tempat lainnya. Bukan hanya karena suguhan cita rasa kopi yang khas, juga rasa dan nuansa tempat yang tepat.

Karena, konsep yang ditawarkan di tempat ini menyajikan suasana Desa Banyuwangi di era 1980-an. Termasuk, pengunjung bisa menambah wawasan untuk mengenal arsitektur rumah suku using di Kabupaten Banyuwangi.  Lokasinya di Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi.

"Dulu tempat ini adalah tanaman kopi, dan beberapa pohon durian. Semuanya rindang dan ada gubuk yang saya gunakan untuk berdiam,"

"Makanya, pertama kali buka saya beri nama Ijen Nisun yang artinya Ijen itu sendiri, dan Isun yang artinya aku. Sehingga jika digabung berarti kesendirianku," kata Utomo Darwis sang pemilik kafe kepada beritajatim.com, Selasa (10/7/2018).

Benar saja, saat tiba dan masuk di tempat ini, suasana asri khas pedesaan menyapa. Rimbunnya pepohonan dan tanaman buah bak miniatur halaman di masa lampau.

Di dalam halaman utama, berdiri sebuah bangunan tradisional khas using layaknya pendapa. Tempat ini, difungsikan sebagai tempat pertemuan dan nongkrong kala pengunjung datang.

Meskipun, ada beberapa tempat yang memang bisa menjadi pilihan nongkrong. Dan semuanya berkonsep tradisional, lengkap dengan furniture maupun pernik perlengkapan kuno.

Di lokasi yang sama, juga berdiri tiga homestay. Ketiganya berbalut arsitektur asli rumah tradisional suku using.

Menuju ke menu yang disajikan di kafe ini. Hampir semua menu merupakan sajian tradisional.

Ada berbagai kopi yang bisa dipilih. Misal, kopi luwak asli arabica maupun robusta. Serta ada pula sensasi wedang jahe, teh aren, teh jahe aren maupun menu minuman lain.

Makanan ada dua menu jajanan khas maupun makanan dengan masakan tradisional Banyuwangi. Di antaranya, untuk menu jajanan ada kue kucur, lanun, serabi, lupis. Menu makanan, pengunjung bisa menikmati nasi pecel pitik, ayam kesrut, nasi cawuk serta aneka menu tradisional lainnya.

"Semua menu baik kopi maupun masakan yang disajikan masih menggunakan tungku dan kayu bakar. Termasuk alat masak,  dandang masih menggunakan berbahan logam kuno untuk memasak air. Kembali tradisional yang sudah mulai hilang, saya coba menyajikannya kembali," ujar pria yang juga mantan politisi ini.

Meski seolah berkesan mewah, tapi jangan khawatir dengan harga menu yang disajikan. Semua masih terjangkau, dan dijamin tak membuat kantong bolong.

"Saya bikin ini untuk pemberdayaan, bukan semata-mata bisnis. Termasuk kuliner khasnya saya jual terjangkau. Fasilitas bintang lima harga kaki lima. Panggonan gedong, rego pinggir jalan," ujarnya.

Ini bisa menjadi alternatif pengunjung yang datang ke Banyuwangi. Terutama bagi mereka yang ingin menuju ke pendakian Gunung Ijen bisa mampir ke tempat ini. Karena lokasinya, satu arah dengan jalur menuju ke sana. Jangan khawatir, tempat ini buka mulai pagi hingga malam. [rin/but]

Tag : kuliner

Komentar

?>