Selasa, 16 Oktober 2018

Bupati Anas Baca Puisi, Seperti Apa?

Minggu, 29 April 2018 19:33:11 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Bupati Anas Baca Puisi, Seperti Apa?

Banyuwangi (beritajatim.com) – Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas membaca sebuah puisi dalam acara Kemah Sastra Nasional yang diikuti ratusan pegiat sastra dalam dan luar negeri.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas sebagai tuan rumah ikut tampil berpuisi. Anas membaca puisi bareng penyair berjuluk “Si Celurit Emas”, D. Zawawi Imron, yang berjudul “Desaku”.

Di Jembatan itu kudengar bisik sejarah
Aku Tak Tahu, siang ini manakah yang lebih berkobar
Matahariku atau Darahku
Yang mendesarkan makna air sungai
Sebelum tiba di gerbang muara?


Zawawi mengatakan, puisi itu dia tulis saat melakukan perjalanan ke desa-desa di Kabupaten Banyuwangi pada 1967. Hasilnya, Zawawi memperoleh juara puisi terbaik se-Indonesia pada 1979.

“Banyuwangi selalu menginspirasi saya. Saya merasa senang karena Banyuwangi rajin membuat festival sastra di tengah tergerusnya budaya literasi sekarang ini,” jelas Zawawi, Minggu (29/4/2018).

Kemah Sastra Nasional ini berisikan sejumlah rangkaian acara, mulai dari workshop penulisan cerpen dan puisi, pembacaan puisi dan monolog, serta peluncuran sejumlah buku sastra. Salah satu buku yang diluncurkan adalah antologi puisi “Senyuman Lembah Ijen” yang memuat 190 puisi tentang keindahan dan kehidupan di Gunung Ijen.

Anas berharap agar Kemah Sastra ini bisa mendorong generasi muda untuk memiliki semangat dan minat membaca, membuat karya sastra, dan menumbuhkan budaya bertutur dan bercerita dengan baik.

“Di tengah gempuran budaya serba cepat dari perkembangan teknologi ini, menjaga budaya sastra tetap tumbuh adalah keharusan bagi kita semua. Untuk itu, kami merasa perlu mempertemukan generasi muda dengan para maestro sastra ini. Semoga pertemuan ini bisa menjadi sarana mentransformasikan pengetahuan tentang sastra dan asah jiwa yang baik bagi bagi anak-anak muda yang sedang dalam fase menciptakan karya,” jelas Anas.

Salah seorang peserta terdapat Presiden Persatuan Penulis Nasional (PENA) Malaysia, Dr. Mohamad Saleh. Saleh yang datang bersama 6 sastrawan Malaysia menyatakan sangat mengapresiasi Banyuwangi yang menggelar acara sastra. Apalagi, Banyuwangi juga menerbitkan buku antologi puisi para penyair muda.

“Ini satu usaha yang sangat bagus, ada dokumentasi dalam sebuah buku. Ini menunjukkan kesunggahun penyelenggara untuk menumbuhkan karya sastra di warganya. Selain itu, dengan melibatkan anak-anak muda bagi saya ini adalah pembinaan yang bagus, ada upaya membuat karya sastra,” kata Shaleh yang merupakan dosen Sastra di University of Malaya.

Acara ini juga dihadiri para sastrawan terkemuka Indonesia, seperti Akhudiat, Sutardji Calzoum Bachri, D. Zawawi Imron, Ahmadun Yosi Herfanda, dan Wayan Jengki Sunarta. Hadir pula sutradara Garin Nugroho dan Ketua Dewan Kesenian Blambangan Samsudin Adlawi.

Selain itu juga ada ratusan penyair muda dari dalam dan luar negeri. Di antaranya, Malaysia, Singapura, dan Mozambik. Dari dalam negeri, hadir pegiat sastra Pekanbaru, Lombok, Bali, Pangkalpinang, Banten, Ambon, Yogyakarta, Solo, Bogor, Sukabumi, dan Jakarta. [rin/but]

Tag : seni

Komentar

?>