Sabtu, 18 Agustus 2018

Terkenal Awet, Cobek Mlaten Mojokerto Paling Diminati

Sabtu, 21 April 2018 08:27:30 WIB
Reporter : Misti P.
Terkenal Awet, Cobek Mlaten Mojokerto Paling Diminati

Mojokerto (beritajatim.com) - Hampir seluruh warga Desa Mlaten, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto mengeluti profesi pembuatan cobek (layah, red). 

Karena cobek ini telah teruji memiliki nilai seni yang juga terbukti mempunyai ketahanan dan lebih awet, cobek perajin asal Mlaten lebih banyak diminati. 

Salah satu perajin cobek, Samiono (60) mengatakan, keahlian membuat cobek ini didapat dari orang tua secara turun-temurun. 

Setidaknya, pembuatan produk gerabah di Kampung Cobek ini telah berlangsung sekitar lebih dari 80 tahun dan menjadi usaha turun temurun di desanya.

"Pembuatan produk gerabah cobek ada yang manual dan memakai mesin cetakan. Ada sebanyak 120 keluarga di Desa Mlaten yang menekuni pekerjaan sebagai perajin gerabah cobek. Selain membuat, saya juga pengepul hasil produksi cobek dari para perajin cobek," ungkapnya, Sabtu (21/4/2018). 

Setidaknya, dalam satu pekan rata-rata satu perajin dapat memproduksi sebanyak 300 cobek hingga 500 cobek. 

Dalam, lanjut Samiono, satu bulan menghasilkan sekitar 30 ribu cobek hingga 40 ribu cobek. Menurut dia, cobek Mlaten Mojokerto telah menguasai pasar Jawa Timur. 

"Paling banyak, produk gerabah cobek ini mendominasi pasar di wilayah timur (Tapal Kuda) meliputi seluruh Madura, Pasuruan, Malang, Probolinggo dan Banyuwangi. Sedangkan untuk wilayah bagian barat yaitu daerah Gerbang Kertasusila yakni meliputi wilayah Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo dan Lamongan hingga Jawa Tengah," katanya.  

Menurutnya, cobek dari Mlaten paling banyak diburu karena cobek Mlaten cenderung memiliki bentuk seni dan lebih tahan lama. Meski di pasaran, harga gerabah cobek Mlaten lebih mahal daripada produk gerabah lainnya, namun banyak diminati para konsumen. 

"Meski harga jual cobek Mojokerto lebih mahal justru menjadi incaran dan banyak dicari. Permintaan gerabah cobek Mlaten sangat banyak sehingga sempat kuwalahan memenuhi permintaan pasar. Biasanya kirim gerabah cobek hingga dua pikap satu hari ke Pasuruan dan Malang, itupun masih kurang banyak, belum memenuhi permintaan pasar," tuturnya. 

Masih kata Samiono, meski kebutuhan cobek di pasaran sangat banyak namun pada kenyataannya perajin gerabah cobek tidak dapat memunuhinya. Sebab, dalam proses produksi perajin sempat terkendala pengolahan tanah liat yang merupakan bahan baku membuat gerabah cobek. 

"Saya masih menggunakan satu mesin pengolah tanah liat. Padahal, mesin pengolah tanah liat tersebut sangat penting untuk menentukan jumlah produksi gerabah cobek. Disini hanya ada satu mesin. Kita sudah kerjasama dan menyampaikan terkait permasalahan ini ke Disperindag, tetapi hingga kini tidak kunjung ditindaklanjuti," tegasnya.[tin/ted]

 

Berita Terkait

    Komentar

    ?>