Kamis, 26 April 2018

Cerita 48 Jam Bersama 'Nemo' di Dasar Laut Bangsring Banyuwangi

Sabtu, 07 April 2018 20:19:49 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Cerita 48 Jam Bersama 'Nemo' di Dasar Laut Bangsring Banyuwangi

Banyuwangi (beritajatim.com) - Banyuwangi Ubderwater Festival menghadirkan sejumlah kegiatan. Diawali pembukaan dengan menari gandrung di dasar laut kemudian dilanjut dengan menyelam selama 48 jam, mengamati ikan badut (clownfish) atau yang lebih dikenal dengan ikan Nemo di laut Bangsring, Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo.

Khusus kegiatan menyelam ini memang membutuhkan keahlian tersendiri. Maka, pesertanya memang orang-orang pilihan yang telah mahir di bidangnya.

Sebanyak 48 penyelam pendamping dari tim Unversitas Brawijaya dan 96 penyelam utama dari nelayan dan relawan. Pengawasan mulai dilakukan pada Rabu (04/4/2018) dan diakhiri pada Jumat (6/4/2018) di wilayah perairan laut Bangsring dengan kedalaman antara 5-4 meter.

Kegiatan ini selain melibatkan peserta terbanyak juga mampu memberikan nilai tambah untuk meraih rekor MURI.

"Ada dua bunga karang atau anemon yang dijadikan titik pengawasan. Jaraknya berdekatan. Pengawasan dilakukan secara bergantian oleh tim selama 48 nonstop secara bergantain termasuk pengawasan malam hari," jelas Dewa Gede Raka Wiadnya (58) dosen Fakultas Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya, Sabtu (7/4/2018)

Menurut Gede pengawasan dilakukan secara bergantian selama 30 menit. Selama pengawasan ditemukan ada empat ekor ikan 'Nemo' yang tinggal di lokasi itu. Ada 2 Nemo dewasa dan 2 Nemo anakan.

"Saat hari pertama pengamatan, posisi satu ikan Nemo dewasa berada di Anemon yang berukuran lebih kecil sedangkan posisi 3 ikan Nemo lainnya di Anemon yang lebih besar," katanya.

"Kuat dugaan Nemo yang sendiri itu adalah jantan sedangkan yang lainnya adalah betina yang menjaga dua anaknya. Memang ikan Nemo ini tinggal dalam satu keluarga. Family. Saat malam hari, mereka berkumpul di satu Anemon yang berukuran lebih besar," jelas Gede.

Selama 48 jam, kata Gede, ada hal menarik yang ditemukan. Yaitu posisi Nemo saat berenang selalu berhadapan dengan arus. Selain itu, dalam posisi terancam, Nemo selalu sembunyi di dalam Anemon yang sesekali bisa menyengatnya.

"Tapi, tidak masalah bagi Nemo. Karena ada lendir khusus ditubuh Nemo sehingga dia tidak tersengat oleh Anemon dan menjadikan Anemon sebagai rumah dan tempat dia mencari makan," ungkap Gede.

Adanya ikan Nemo, lanjut Gede, menandakan jika kawasan laut itu dalam kondisi baik termasuk terumbu karang di dalamnya. Terlebih, ada indikator lain yakni tumbuhnya anemon di sekitarnya.

"Di laut Bangsring termasuk bagus karena dalam setengah hektar ada 12 titik Anemon. Ikan Nemo ini tidak bisa berenang jauh karena pasti akan dimakan oleh ikan yang lebi besar. Jadi jikapun harus perpindah tempat dia menggunakan anemon yang dekat dengan karang," jelas Gede.

Terumbu karang yang ada laut Bangsring sendiri merupakan satu garis lurus dari utara hingga selatan mulai dari Pantai Pasir Putih Situbondo, Baluran, Pulau Tabuhan hingga ke Pulau Menjangan Bali dan menyambung hingga ke laut Muncar. "Sayangnya garis karang itu terputus di wilayah perairan laut Ketapang karena digunakan jalur penyeberangan kapal Jawa dan Bali," jelas Gede.

Para penyelam yang melakukan pengawasan wajib memiliki lisensi diving. Selain itu juga ada tim penyelamat yang siap sedia baik saat penyelaman siang atau malam hari.

"Jika malam, kita letakkan lampu di bendera yang ada permukaan air dan peyelaman dibantu dengan senter. Semua penyelam yang ikut kita foto, kita data nama dan alamatnya termasuk ada tim khusus untuk mengabdikan foto di bawah laut. Nanti data tersebut akan kami ajukan untuk pemecahan rekor MURI," jelas Gede.

Sementara itu Ketua Kelompok nelayan Samudra Bakti Ikhwan Arif mengatakan, ikan Nemo sempat hilang dari perairan Banggsring. Kondisi itu akibat dari perilaku negatif para nelayan di sekitar daerah itu.

Mereka selama belasan tahun, menggunakan potas, dan bom untuk menangkap ikan serta mengambil karang.
"Namun, sejak 2008 bersama kelompok nelayan kita mulai melakukan transplantasi karang secara swadaya untuk mengembalikan kondisi karang di perairan Bangsring," ungkapnya.

Hasilnya, sedikit demi sedikit mampu mengembalikan karang  hingga kembali membaik. Selain itu, juga mampu mengubah paradigma dan sikap nelayan yang selalu merusak.

"Dan Alhamdulillah dapat membaik, sejak 5 tahun terakhir Nemo sudah banyak di sekitar sini. Bahkan menjadi salah satu atraksi wisata untuk mereka yang snorkling atau diving," katanya.

Kini, daerah itu telah menjadi wilayah konservasi. Sehingga, ada larangan atau tak diijinkan penangkapan ikan dengan cara apapun.

"Ada sekitar 15 hektar wilayah konservasi. Ini untuk melindungi perairan ini agar tidak rusak lagi," pungkasnya. [rin/suf]

Komentar

?>