Rabu, 18 Juli 2018

Tularkan Virus Kebaikan antar Sesama

Berbagi Nasi di Mojokerto

Minggu, 01 April 2018 11:31:14 WIB
Reporter : Misti P.
Berbagi Nasi di Mojokerto

Mojokerto (beritajatim.com) - Berangkat dari ide sepasang kekasih, Nanda Eko dan Kiki Miranti, komunitas Berbagi Nasi (Bernas) Mojokerto terbentuk. Saat itu, tepatnya pada tanggal 14 Februari 2013 dari dua orang pejuang nasi yang merupakan sepasang kekasih tersebut membagikan nasi kepada mereka yang membutuhkan. Dari kegiatan keduanya tersebut kemudian menyebar ke media sosial (medsos) dan diikuti para pejuang nasi lainnya hingga mencapai 30 orang anggota.

Humas Bernas Mojokerto, Widhi Saputra menuturkan, sepasang kekasih tersebut sebelumnya tahu dari medsos soal Bernas yang ada di kota lain. "Bandung yang lebih dulu ada komunitas ini. Keduanya melihat ada komunitas itu sehingga berinisiatif menerapkan di Mojokerto. Awalnya hanya mereka berdua tapi akhirnya sekarang sudah ada sekitar 30 orang anggota Bernas Mojokerto," ungkapnya.

Widhi menjelaskan, saat ini Bernas Mojokerto memasuki usia 5 tahun. Meski sepasang kekasih yang mendengungkan Bernas Mojokerto tak lagi aktif, namun masih ada pejuang-pejuang nasi lainnya yang meneruskan tujuan mulia tersebut. Karena memang tujuan awal Bernas Mojokerto dibentuk adalah untuk mengasah kepekaan terhadap orang yang kurang mampu terlebih yang tertidur beralaskan bumi dan beratap langit.

"Awalnya di share di sosial media sehingga banyak yang tahu dan di Mojokerto sendiri ada 30 anggota yang aktif, meski setiap Sabtunya tidak semua bisa hadir. Namun selalu ada. Untuk di Indonesia sendiri, berbagi nasi ini ada di 64 kota. Salah satunya Mojokerto yang pada 14 Februari kemarin merayakan ultah ke 5 tahun. Kita sudah ada di Mojokerto, lima tahun ini," katanya.

Masih kata Widhi, Bernas Mojokerto sendiri bergerak setiap hari Sabtu sekira pukul 20.00 WB. Mengambil lokasi Telkom Mojokerto sebagai titik kumpul, para pejuang nasi mengumpulkan donasi baik yang masih berupa uang maupun nasi untuk kemudian dibagikan kepada sasaran yang sudah ditentukan. Yakni gelandangan, pengemis, tukang becak, tukang panggul pasal yang masih bekerja di malam hari.

"Setiap Sabtu malam, kita berkumpul di Telkom Mojokerto. Dari 30 pejuang nasi, tidak setiap Sabtu mereka bisa datang semua. Rata-rata 5 sampai 10 pejuang nasi yang bergerak setiap Sabtu-nya. Kalau hujan, malah sedikit yang datang tapi tidak menyurutkan niat kami. Kalau untuk donasinya, ada yang masih berupa uang, ada juga yang sudah berupa nasi. Itupun kadang kita ambil di rumah donaturnya, tapi ada juga yang mengirim langsung ke Telkom," tuturnya.

Widhi menuturkan, anggota juga tak luput dari sasaran sebagai donatur karena ada plastik kresek hitam yang sebelumnya diputar keliling ke anggota. Dari donasi yang sudah dalam bentuk nasi, para pejuang baru bisa menentukan jumlah sasaaran karena tidak setiap Sabtu jumlah sasaran sama. Tergantung donasi yang terkumpul, namun sasaran sebelumnya sudah disurvey sehingga tidak ada nasi yang tersisa.

"Setelah Sabtu atau setelah kegiatan berjalan, kita selalu membagikan ke sosial media kita. Seperti Facebook dan Instagram kemudian, mereka (donatur) ada yang menghubungi kami. Ini yang nantinya akan kita bagikan di pertemuan selanjutnya. Untuk harga nasinya, sama dengan nasi yang kita beli. Antara Rp7 ribu sampai Rp10 ribu, yakni nasi yang tidak berkuah agar tidak cepat basi kalau tidak bisa langsung dimakan dan tidak pedas," ujarnya.

Setiap minggunya, minimal 50 sampai 100 nasi yang dibagikan kepada sasaran yang sudah ditentukan. Yakni mereka yang membutuhkan terutama yang beratap langit dan beralas bumi di sepanjang jalan seputar Kota Mojokerto. Tak jarang, lanjut Widhi, sudah menetukan jumlah sasaran, namun ternyata masih kurang sehingga harus beli nasi lagi untuk dibagikan pejuang nasi.

"Sering juga dadakan belinya tapi kita kan sebelum berangkat ada kresek muter yang dibuat kas. Ini yang kita gunakan untuk membeli nasi itu. Sebenarnya yang kresek muter ke anggota itu untuk membuat stiker, menjamu tamu Bernas kota lain yang datang. Jadi tidak ada iuran wajib anggota tapi hanya kresek muter sebelum aksi. Oh ya, di Bernas Mojokerto tidak ada ketua. Semua sama, yang ada hanya bendahara saja jadi tidak ada struktural," urainya.

Menurutnya, selain bergerak di hari Sabtu malam, Bernas Mojokerto juga bergerak di hari Jumat yakni tanggal merah. Bernas Mojokerto menyebutnya, berbagi sarapan dengan sasaran yang sama. Menurutnya, di berbagi sarapan banyak dikuti pelajar karena rata-rata mereka tidak diizinkan orang tuanya keluar pada Sabtu malam. Karena anggota Bernas Mojokerto, tidak hanya para pekerja sana, namun mulai pelajar hingga mahasiswa. Tidak ada pertemuan khusus, namun hanya kopdar yang membaahas apa ada target yang harus segera dibantu.

"Dalam rangka ultah kita ke 5 kemarin, kita juga mewujudhkan mimpi dengan memberikan gerobak bakso untuk Pak Paeran warga Desa Kepuhanyar, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. Beliau merupakan pemulung yang mempunyai dua anak, anak pertamanya mengalami epilepsi. Kita tahu di salah satu media soal beliau, saat kita ke rumanya katanya ingin jualan bakso. Sehingga kita kumpulkan donasi selama sebulan dan kemarin kita sudah berikan gerobak bakso ke Pak Paeran," ceritanya.

Widhi menambahkan, jika ada masyarakat Mojokerto yang akan menyumbang bisa menghubungi salah satu kontak 0812-3083-9640 atau 0812-3258-0708. Selain itu, tegas Widhi, juga bisa mengirim pesan di instagram Bernas Mojokerto dengan nama akun Berbaginasi MOJOKERTO. Namun pihaknya berharap, jika ada donatur yang akan memberika donasinya dalam bentuk nasi diharapkan nasi yang tidak beruah dan pedas.

"Tujuan awal komunitas ini dibentuk untuk menularkan virus kebaikan kepada sesama yakni melalui berbagi nasi dengan sasaran mereka yang beratapkan langit dan bealasakan bumi. Para pekerja seperti tukang becak, tukabg panggul pasar, gelandangan dan pengemis sehingga harapannya komunitas ini bubar karena tidak ada lagi sasaran. Karena mereka sudah hidup berkecukupan dan tidak ada yang kelaparan," pungkasnya. [tin/kun]

Tag : komunitas

Komentar

?>