Senin, 23 Juli 2018

Enam Goa di Soko, Kecamatan Temayang Masih Eksotis

Rabu, 14 Maret 2018 13:59:26 WIB
Reporter : Tulus Adarrma
Enam Goa di Soko, Kecamatan Temayang Masih Eksotis

Bojonegoro (beritajatim.com) - Potensi alam di Desa Soko, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur sangat tinggi. Desa yang berada di kawasan perhutani KPH Gondang, RPH Soko itu terdapat banyak potensi wisata alamnya. Mulai dari potensi Arkeologi, Geologi dan Paleontologi.

Salah satu diantaranya, peninggalan potensi geologi yang bisa dijadikan objek wisata alam adalah goa. Terletak di pegunungan Kendeng Selatan, kawasan hutan. Ada enam goa yang kini sudah mendapat perhatian dari masyarakat sekitar. Masyarakat sekitar akan mengelola kawasan tersebut untuk dikembangkan sebagai objek wisata.

"Kemungkinan masih ada potensi goa yang belum ditemukan," ujar Kebayan Desa Soko, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, Ahmad Rusmiadi, 27 Maret 2018.

Enam goa yang ditemukan masyarakat itu diberi nama sesuai dengan karakter dan bentuk goa masing-masing. Keenam goa tersebut adalah Gua Lowo (kelelawar). Goa Lowo itu berada paling timur dari lima goa lainnya. Goa Lowo memiliki mulut goa yang paling lebar.

Masyarakat sekitar mempercayai goa tersebut ada hubungannya dengan Goa Ngerong yang ada di Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban. "Tidak bisa dijangkau untuk kedalaman goa. Menurut sesepuh yang juga paranormal ini ada hubungannya dengan goa Ngerong," ujarnya.

Goa Lowo, seperti namanya, banyak dihuni oleh hewan malam kelelawar. Kawanan kelelawar tersebut jika tidak ada di goa menurut mereka sedang melakukan hijrah ke Goa Ngerong. Kedua goa tersebut memang banyak dihuni oleh kelelawar.

"Mungkin sedang bermain di Goa Ngerong," katanya menjelaskan karena tidak ada kelelawar yang menghuni di goa pada saat itu.

Setelah di Goa Lowo, kemudian ada Goa Gondel. Di Goa Gondel ini stalaktit yang masih aktif. Bentuknya seperti bergelantungan di dinding goa. Stalaktit itu masih meneteskan air. Bahkan, saat wartawan beritajatim.com ke lokasi tetesan air dari stalaktit itu cukup lancar.

Kemudian ada Goa Bale. Goa yang bersap dua. Berada di atas dan bawah. Gua Gogor. Gogor sendiri diambil dari nama anak macan yang ditengarai dulu tempat tersebut pernah digunakan sebagai rumah raja hutan itu. Untuk masuk Goa Gogor harus dengan tiarap, karena mulut goa sendiri sangat sempit.

Perjalanan kemudian bisa dilanjutkan ke Goa Gardu yang bentuknya seperti ada pos jaga disisi kiri dan kanannya. Dan terakhir di Goa Landak. Keenam goa tersebut berada di puncak kawasan hutan. Goa-goa tersebut masih alami. Di kawasan hutan itu juga banyak tanaman obat yang tumbuh liar.

Pengembangan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar baru sebatas akses menuju ke lokasi. Untuk menuju ke goa tersebut harus melewati jalan setapat melalui hutan dan belum ada penunjuk jalan yang jelas. "Jika kondisinya hujan memang licin dan sulit untuk dijangkau," ungkapnya.

Salah satu calon bupati, Mahfudhoh beberapa waktu terakhir  juga sempat berkunjung ke goa tersebut. Rombongan mengendarai motor trail. Namun, kendaraan tidak bisa menjangkau hingga ke lokasi goa. "Iya, baru sekitar tiga minggu yang lalu bersama rombongan kesini (goa)," jelasnya.

Di kawasan hutan sekitar kawasan tersebut juga pernah digunakan sebagai perkemahan. Tebing goa setinggi kurang lebih lima meter, oleh pecinta alam Kabupaten Nganjuk dipakai untuk track alami. Kawasan tersebut memang lebih banyak dikunjungan masyarakat Nganjuk, karena lokasinya dekat dengan Kabupaten Nganjuk. [lus/kun]

Berita Terkait

    Komentar

    ?>