Sabtu, 17 Nopember 2018

Batik Ciprat, Khas Ponorogo, Buah Karya Tunagrahita

Jum'at, 09 Februari 2018 09:50:23 WIB
Reporter : Pramita Kusumaningrum
Batik Ciprat, Khas Ponorogo, Buah Karya Tunagrahita

Ponorogo (beritajatim.com) - Melepas nama kampung idiot untuk Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo bisa dibilang sulit. Namun, kini semua berubah. Dari banyaknya Tunagrahita di Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo membuahkan beberapa buah karya.

Salah satunya, batik ciprat. Hasil karya dari Tunagrahita yang dilatih oleh pendamping yang ada di desa setempat.

Beritajatim.com, mencoba mengunjungi, Jumat (9/2/2018). Terlihat  eelembar kain polos nampak dijemur di depan sebuah rumah, terlihat seorang wanita sibuk menciprat-cipratkan pewarna dengan menggunakan kuas sembari sesekali mengambil cairan malam di dekatnya.

Setelah didekati hendak ditanya, dia menjawab dengan bahasa isyarat. Ternyata wanita pembuat batik ciprat yang diketahui bernama Boini merupakan salah satu warga yang menderita tunagrahita.

Selesai dengan teknik menciprat-cipratkan cairan malam, dia pun berganti dengan pewarna kain kali ini yang dipilihnya warna biru. Boini pun mewarnai kain tersebut dengan menggunakan busa untuk mewarnai. Sesekali nampak sang pendamping, Setyo Budi mengarahkan tehnik pewarnaan kepada Boini. “Memang harus diawasi tidak bisa dilepaskan begitu saja, butuh pengawasan,” tutur Budi, sapaan akrab Setyo Budi, Jumat (9/2/2018) pagi.

Dia menambahkan, Boini memang terampil membuat batik ciprat salah satu hasil produksi warga binaan tunagrahita. Selain Boini juga ada Tukijo yang juga pandai membuat batik ciprat khas Karangpatihan.

“Tukijo lebih telaten lagi, kain batik yang sudah diberi gambar, dia bisa memberi cairan malam sesuai gambar,” jelasnya.

Dia menambahkan untuk membuat dalam satu hari, warga tunagrahita ini bisa membuat 20-40 lembar kain. “Prosesnya ciprat-ciprat cepat yang lama proses pewarnaannya,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Desa Karangpatihan, Eko Mulyadi menjelaskan ini merupakan salah satu bentuk program dari Kemensos yang ingin memberdayakan masyarakat tunagrahita dalam memperbaiki taraf hidup.

 Melalui Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita, Temanggung, Jateng selama satu tahun di Desa Karangpatihan didapatkanlah produk batik ciprat yang dibuat di rumah harapan, pusat latihan kerja.

“Rumah harapan ini jadi tempat untuk mengembangkan produk usaha ini,” paparnya.

Uniknya, batik ciprat karya warganya ini bisa dipastikan hasilnya akan berbeda antara satu kain dengan yang lainnya karena diproduksi secara manual bukan cetakan. Bahkan disini jika pemesan hanya ada satu lembar pun juga dikerjakan. “Jika ada yang pesan satu lembar pun kami layani dengan baik,” tukasnya.

Untuk satu lembar kain batik ukuran 2,15 x 1,15 meter dihargai Rp 150-200 ribu tergantung kesulitan motif. “Kami juga bisa melayani motif yang diinginkan, nanti ada pendamping yang mengarahkan membuatkan motif,” tegasnya.

Konsumen batik ciprat ini datang dari berbagai daerah seperti Jakarta, Kalimantan bahkan luar negeri.  “Tiap bulan selalu ada pemesan, kadang 50 lembar kadang 35 lembar kain,” ujarnya.

Saat ini, total ada 98 orang warga tunagrahita yang dibina. Selain membuat batik ciprat, mereka juga bisa membuat keset, tasbih bahkan ada pula yang beternak lele, ayam dan kambing. “Semua kami berdayakan, agar mereka bisa mandiri tidak tergantung kepada orang lain demi mendapatkan penghidupan yang lebih baik lagi,” pungkasnya. [mit/kun]

Berita Terkait

    Komentar

    ?>