Selasa, 11 Desember 2018
Dibutuhkan Wartawan untuk wilayah Nganjuk Syarat: 1.Pendidikan S1 (semua jurusan) 2. Usia Maksimal 28 Tahun 3. Memiliki SIM C 4. Punya Pengalaman Jurnalistik 5. Punya Pengalaman Organisasi Kirim Lamaran dan CV ke beritajatim@gmail.com

Ada Wisata Pelayanan Publik di Banyuwangi, Seperti Apa?

Rabu, 07 Februari 2018 11:48:38 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Ada Wisata Pelayanan Publik di Banyuwangi, Seperti Apa?

Banyuwangi (beritajatim.com) - Kabupaten Banyuwangi terus berinovasi dengan menyiapkan konsep pengembangan pariwisata model baru. Salah satunya menjadikan pusat-pusat pelayanan publik di daerah sebagai salah satu destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi.

“Banyuwangi selama ini telah dikenal sebagai destinasi wisata dengan pesona alam dan kekayaan seni-budaya yang dibalut dalam berbagai festival. Kita ingin ada lokomotif wisata baru yaitu dengan menjadikan sektor-sektor pelayanan publik sebagai destinasi wisata yang menarik. Hal ini sudah banyak dilakukan di negara-negara maju,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas usai rapat dengan sejumlah dinas di Banyuwangi, Rabu (7/2/2018).

Anas mengatakan, inovasi pelayanan publik Pemkab Banyuwangi selama ini telah mendapat pengakuan, baik dari dalam maupun luar negeri. Telah banyak daerah berkunjung ke Banyuwangi untuk melakukan kolaborasi guna meningkatkan pelayanan publik. Wisata studi pelayanan publik itu ikut berkontribusi menggerakkan ekonomi lokal, karena jumlahnya dalam setahun bisa mencapai 100.000 orang.

“Tercatat ada lebih dari 20 program pelayanan publik kami yang diadopsi berbagai daerah lain di Indonesia. Kami mengerangkainya sebagai kolaborasi, karena kami juga belajar dari daerah-daerah tersebut,” ujar Anas.


Dia mencontohkan program 'Smart Kampung' yang menjadikan desa sebagai ujung tombak pelayanan publik dan pusat kegiatan budaya serta ekonomi kreatif warga yang hampir setiap hari kedatangan aparat birokrasi dari daerah lain untuk belajar.

“Berbagai jenis pelayanan publik akan kita kemas sebagai destinasi, seperti kantor desa yang pelayanannnya sudah smart office, Mall Pelayanan Publik. Bahkan bidang pengairan akan kita tata irigasi yang bagus yang bisa dinikmati,” terang Anas.

Anas mencontohkan bidang lain yang dikembangkan seperti program Rantang Kasih yang mendistribusikan makanan bergizi bagi warga lansia kurang mampu. Juga ada program Garda Ampuh dengan tabungan pendidikan dan bantuan uang saku.

Menurut Anas, program-program itu akan bisa meningkatkan empati pengunjung terhadap sesama. Nantinya juga diharapkan bisa membuka jejaring charity para wisatawan yang memiliki kepedulian.

“Misalnya saja wisatawan yang berkunjung ke rumah  lansia ataupun lembaga-lembaga sosial lainnya yang ada di Banyuwangi, kita harapkan wisatawan yang memiliki empati sosial tinggi akan ikut serta berdonasi. Karena Banyuwangi punya concern yang tinggi terhadap  penanganan masalah sosial,” cetusnya.

Anas berharap destinasi wisata pelayanan publik tersebut tidak hanya menjadi magnet baru bagi datangnya wisatawan tapi juga menjadi cara untuk meningkatkan motivasi bagi para aparat pelaksana pelayanan publik.

“Ini sudah terbukti. Seperti di Desa Kampunganyar, Tamansari, Ketapang yang selama ini hampir setiap hari dikunjungi berbagai daerah di Indonesia, aparat desa di sana semakin rajin dan profesional dalam menjalankan tugas karena mereka ingin menunjukkan yang terbaik. Mereka banyak melakukan inovasi,” ujarnya.

Anas juga yakin, dengan sejumlah prestasi baru seperti penghargaan pariwisata ASEAN dan kembali mendapatkan nilai A atau terbaik se-Indonesia untuk Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP), bisa semakin menarik minat untuk pengembangan wisata pelayanan publik. [rin/but]

Komentar

?>