Kamis, 19 Juli 2018

Mak Yani, 15 Tahun Berjualan Semanggi

Sabtu, 13 Januari 2018 22:40:49 WIB
Reporter : Almira Ose
Mak Yani, 15 Tahun Berjualan Semanggi
Mak Yani, seorang penjual semanggi di Kota Surabaya. [Foto: Almira/bj.com]

Surabaya (beritajatim.com)--Semanggi, makanan khas Kota Surabaya, itulah yang menjadi pegangan hidup Ibu Triyani selama 15 tahun lebih untuk menghidupi dua anaknya.

Wanita paruh baya itu setia menjadi penjual semanggi berkeliling hingga dua tahun lalu.

Nenek lima cucu itu akrab disapa Mak Yani. Dua tahun sudah Mak Yani menjadi penjual semanggi tetap di kawasan perumahan Bukit Palma, Surabaya.

"Dua tahun menetap di sini, karena mata saya sudah rabun, pelupa, dan sudah tua, jadi tidak bisa berkeliling lagi," tutur Mak Yani pelan.

Mak Yani mengaku dulunya ia menjadi bakul semanggi keliling hingga ke kawasan Manukan, Waru, Kupang, dan perumahan Petra. Pekerjaan ini ia lakukan semenjak ditinggal suaminya meninggal dunia. "Suami saya meninggal saat anak-anak saya masih kecil-kecil. Kasihan, mereka seperti belum pernah melihat ayahnya," ucapnya gemetar.

Menjadi penjual semanggi pun ternyata merupakan pekerjaan warisan turun-menurun di keluarga Mak Yani.

"Mertua saya dulu jualan semanggi, kemudian saya ikut jualan semanggi saat masih menyusui anak saya. Sekarang anak saya yang perempuan pun jualan semanggi," jelasnya.

Demi dapat berjualan di pagi hari, pukul tiga pagi, sebelum ayam berkokok, Mak Yani sudah harus mengolah bumbu dan menggoreng kerupuk sebagai bahan berjualan semanggi.

Semua bahan ia masak di rumahnya yang tidak jauh dari tempat berjualan, kawasan Kendung. Ketika sudah siap, Mak Yani meletakan bahan dan barang dagangannya pada gerobak kecil yang kemudian ia dorong dengan berjalan kaki menuju tempat berjualan.

Setiap hari terkecuali hari Sabtu dan Senin, Mak Yani berjualan semanggi mulai pukul enam pagi hingga pukul dua siang. Beralaskan terpal dan karpet seadanya dengan beratapkan pohon nangka dengan payung, Mak Yani senantiasa melayani pelanggannya.

Ia mematok harga di bawah rata-rata yaitu Rp 7 ribu tiap satu porsinya. "Harga segini karena jualannya dekat-dekat sini dan mengikuti harga bahan dasarnya. Dulu sekali saya jual Rp 4 ribu kemudian Rp 5 ribu," ujarnya.

Nenek yang mengaku berumur 70-an itu juga menerima pesanan semanggi dalam jumlah banyak. Terkadang ia mendapat pesanan dari guru-guru di SMAN 11 Surabaya dan ibu-ibu arisan. "Kalau ada pesanan banyak, keuntungannya lumayan bisa sampai Rp 500 ribu. Kalau jualan sehari-hari biasanya dapat Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu kalau habis," ungkap Mak Yani.

Dengan penghasilan segitu, Mak Yani merasa bersyukur karena dapat dipergunakannya untuk modal kehidupan sehari-hari. Di samping itu, setiap Ahad, para penjual semanggi yang lain dari Kampoeng Semanggi, Benowo pun turut berjajar di samping Mak Yani untuk berjualan.

Dari sekitar 15 pedagang lainnya yang menawarkan produk yang sama, Mak Yani mengaku tidak tersaingi.

"Alhamdulillah disyukuri saja, kita semua teman dan kami memiliki pelanggan masing-masing. Jadi tidak ada persaingan," katanya.

Hanya saja, tambahnya, Mak Yani biasanya akan pulang lebih larut dari biasanya dikarenakan menunggu dagangannya habis. [mir/air]

Tag : kuliner

Komentar

?>