Jum'at, 25 Mei 2018

Ludruk Tidak Dapat Sembarangan Digelar

Rabu, 10 Januari 2018 06:53:22 WIB
Reporter : Almira Ose
Ludruk Tidak Dapat Sembarangan Digelar
Anak-anak belajar tarian remo. [Foto: Almira/bj.com]

Surabaya (beritajatim.com)--Kesenian ludruk yang merupakan warisan budaya Indonesia itu tidak dapat sembarangan digelar. Pasalnya, kesenian tradisional Jawa Timur ini memiliki fase-fase pertunjukan yang pakem.

Terdapat lima fase yang harus berhimpun dalam suatu pertunjukan ludruk. Lima fase itu ialah tari remo, koor, ceklekan, lawak, dan cerita.

Pertunjukan ludruk dibuka oleh tari remo yang merupakan tarian dari Kabupaten Jombang, ditampilkan untuk menyambut tamu agung. “Pada tarian pembuka ini, penari harus bisa ngidung atau menyuarakan syair yang di dalamnya terdapat kiasan-kiasan,” ujar Meimura, Sekretaris Kelompok Ludruk Irama Budaya Surabaya.

Dilanjutkan dengan koor atau yang akrab disebut paduan suara. Lagu yang dinyanyikan dalam paduan suara ini merupakan lagu pembuka seperti lagu berjudul Suroboyo.

Lagu ini tak asal-asalan dipilih. Meimura mengatakan bahwa di dalam lagu Suroboyo itu terdapat lirik yang menggambarkan keadaan ludruk, keadaan bangsa, dan juga harapan-harapan.

Setelah membangkitkan semangat para penonton melalui koor, selanjutnya akan ada ceklekan atau jogetan. Jogetan yang disajikan khas ludruk ini juga didesain sedemikian rupa, sehingga mengundang gelak tawa penonton serta mengobarkan semangat.

Lawakan pun turut disajikan untuk mengocok perut para penonton. Meimura menjelaskan, dalam lawakan-lawakan yang disajikan, biasanya terdapat pesan-pesan yang tersirat. Tak hanya sampai di situ, fase terakhir dari pagelaran ludruk akan memasuki cerita yang ingin ditampilkan.

Cerita yang dibawakan ini disampaikan oleh dua sampai 25 aktor. “Jumlah aktor di atas panggung ya tergantung cerita yang dibawakan. Kalau membawakan cerita Cak Durasim Sang Pahlawan bisa sampai 25 orang,” jelas aktor yang pernah membawakan ludruk hingga ke Australia itu.

Ke depan, Meimura berharap agar pemuda-pemudi generasi Z saat ini dapat mewarisi budaya ludruk. Karena, menurut sutradara kelompok ludruk Irama Budaya itu, ludruk merupakan kesenian rakyat yang dapat meningkatkan rasa nasionalisme, patriotisme, dan menyuarakan kebenaran. [mir/air]

Tag : ludruk

Komentar

?>