Senin, 18 Desember 2017

Pasca Masuk MURI, Warna Pakem Topeng Malangan Jadi Sorotan

Selasa, 05 Desember 2017 17:05:19 WIB
Reporter : Brama Yoga Kiswara
Pasca Masuk MURI, Warna Pakem Topeng Malangan Jadi Sorotan
Tarian Topeng Malangan

Malang (beritajatim.com) - Pemecahan Museum Rekor Indonesia (MURI) tari topeng yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang, menyisahkan problematika.

Acara tari topeng Bapang dalam rangkaian Hari Jadi Kabupaten Malang Ke 1527 kini jadi perbincangan para budayawan dan pemerhati Topeng Malangan Bapang.

Sebab, penari Topeng Bapang sebanyak 5000 orang dari kalangan pelajar Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) telah merusak pakem warna topeng.

Kepala topeng aslinya memiliki warna yang sudah dipakemkan, namun dalam pemecahan MURI tersebut, kepala topeng didominasi warna biru. Sehingga dengan warna biru yang ada di kepala topeng itu, sebagian masyarakat menduga jika warna biru berbau politik.

"Sebenarnya warna dasar wajah topeng itu merah, hal itu telah menunjukkan karakter topeng itu sendiri. Dan motif ukiran pada topeng itu,  seharusnya tidak diblok biru. Karena harus ada bentuk ragam hias, seperti garuda mungkur, ceplok surya dan lainnya," ungkap salah satu pecinta dan pelaku seni Topeng  Malangan, Kabupaten Malang Suroso, Selasa (5/12/2017), kepada wartawan.

Menurutnya, dalam pakem Topeng Malangan ada kombinasi lima warna dasar yakni, merah sebagai perlambang keberanian, putih sebagai lambang kesucian, hitam sebagai lambang kebijaksanaan, kuning sebagai lambang kesenangan, dan hijau sebagai lambang kedamaian. Namun, pemecahan MURI yang digelar Pemkab Malang, pada Minggu (3/12/2017) di Pantai Nganteb, telah merusak pakem Topeng Malangan.

"Apabila dilakukan perubahan pada pakem yang telah ada, berarti secara langsung juga mengubah arti dan filosofis Topeng Bapang atau Topeng Malangan itu sendiri. Karena dengan adanya perubahan warna di Topeng Bapang tersebut, yang dipakai dalam pagelaran tari Topeng Bapang berwarna biru telah merusak pakem,” tegas Suroso.

Ia melanjutkan, dengan perubahan warna dalam Topeng Bapang tersebut, maka dirinya sangat kecewa dengan penyelenggara tari Topeng Bapang dari Sanggar Asmarabangun, Desa Kedungmonggo, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.

Meski, salah satu cucu almarhum Mbah Karimun yang selama ini sebagai maestro tari Topeng Malangan, seharusnya tidak begitu saja mengganti warna pakem pada mahkota topeng itu dengan seenaknya sendiri.

"Masak cucu seorang maestro tari Topeng Malangan, dengan mudah mengganti warna yang sudah pakem yakni dasar merah dirubah warna biru. Karena budaya tari Topeng Malangan bukan milik perorangan, tapi sudah menjadi milik masyarakat Malang Raya. Bahkan, tari Topeng Malangan ini tidak dikenal di Indonesia saja, tapi juga dikenal dibeberapa negara," papar Suroso.

Menanggapi polemik ini, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud), Kabupaten Malang Made Arya Wedanthara menjelaskan, perubahan warna dari pakem yang ada dalam Topeng Bapang tersebut tidak ada unsur politisasi kesenian.

Dan perubahan warna  di mahkota Topeng Bapang tersebut dipakai untuk melambangkan air laut yang dijadikan tempat perhelatan tari topeng tersebut.
"Meski di mahkota Topeng Bapang terdapat warna biru, namun warna merah  khas wajah topeng itu tetap kita pertahankan," jelasnya.

Tari Topeng Malangan yang digelar di Pantai Nganteb, kata Made, murni dalam rangka memperkenalkan seni tari Topeng Bapang yang berasal dari Kabupaten Malang.

Sehingga dalam pagelaran tari tersebut, tidak ada muatan politik seperti apa yang telah dituduhkan sebagian masyarakat Kabupaten Malang.

Sebab, warna biru yang ada di mahkota Topeng Malangan telah menggambarkan warna laut, karena tari topeng yang kita gelar kebetulan lokasinya di pinggir Pantai Nganteb, Desa Tumpakrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. (yog/ted)

Komentar

?>