Rabu, 22 Nopember 2017

Desa Wisata Kemiren Kedatangan Tamu dari Seluruh Indonesia

Selasa, 14 Nopember 2017 23:09:45 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Desa Wisata Kemiren Kedatangan Tamu dari Seluruh Indonesia

Banyuwangi (beritajatim.com) - Himpunan Mahasiswa Pariwisata Indonesia (HMPI) melakukan kunjungan ke Sanggar Sapu Jagad, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Mereka datang lantaran ingin mengetahui langsung keberadaan masyarakat suku using yang tumbuh berkembang di desa ini.

Jadi tak salah, jika mereka datang ke desa yang sering disebut Desa Wisata Using tersebut. Budayaan, adat, seni, istiadat, ritual kepercayaan, masih kental dan mengakar di daerah ini.

Di lokasi sanggar, mereka disambut dengan suguhan keramahan warganya. Sapaan kopi hangat yang tersaji di meja menjadi minuman pembuka. Kudapan lengkap khas Desa Kemiren juga siap tersaji di dalam wadah kecil yang terbuat dari daun pisang.

Tak lupa, bertambah meriah kala pertunjukan seni asli yakni gandrung menyambut ratusan mahasiswa itu. Bahkan, mereka beruntung, karena dapat mendengar nyanyian nyaring berbahasa using yang terlantun dari pita suara sang maestro gandrung 'Mbok Temu'.

Penampilan yang tertata menghias pelataran sanggar itu. Selanjutnya, penampilan tari Barong menghentak mengikuti alunan musik, di depan barisan kursi berjajar yang penuh terisi para mahasiswa itu.

Ada barong, kurang lengkap jika tak terdapat penampilan tari pitik-pitikan. Karena, dua ikon tari ini seolah telah menjadi satu-kesatuan seperti filosofi yang tergambar dalam cerita keduanya.

Penampilan yang membuat para tamu semakin jatuh cinta dengan Banyuwangi. Terlebih kala tari jaran goyang melambai di depan mereka.

Suguhan terakhir, yakni paju gandrung di mana seluruh tamu diajak menari bersama sang penari. Tapi ada syaratnya, hanya bagi mereka yang mendapat 'sampur' atau selendang gandrung saja yang boleh menari.

Sucipto sang pemilik sanggar mengaku bangga dengan kedatangan para tamu mahasiswa ini. Menurutnya, Desa Kemiren dengan segenap budaya dan seninya mampu memikat banyak kalangan. Terlebih, mereka tak hanya datang tapi ingin mengetahui dan mempelajarinya secara langsung.

"Alhamdulillah Kemiren kini semakin dikenal, tidak hanya di Banyuwangi atau Jawa Timur seperti di Surabaya atau Jakarta. Tapi alhamdulillah sudah di tingkat Nasional," katanya saat memberikan sambutan bagi para mahasiswa, Selasa (14/11/2017).

Di desa ini, selain kental dengan budayanya, juga dikenal kuat dengan nilai kebersamaannya. Hal itu terbukti dari beberapa kegiatan yang sering dilaksanakan di tempat ini. Misalnya, barong ider bumi, tumpeng sewu, ngopi sepuluh ewu yang melibatkan seluruh lapisan warga.

Tak hanya itu, keramahan warga Desa Kemiren juga seiring dengan lezatnya menu khasnya. Ada pecel petek, maupun ayam kesrut yang menggoda selera.

"Yang istimewa di desa ini adalah keasrian dan kealamian suasana, dan budayanya yang masih kental. Ini menjadi alternativ kami jika berkunjung ke Banyuwangi," ucap Aditya Dwi Kurniawan salah seorang mahasiswa.

HMPI ke kota Gandrung ini dalam rangka menggelar Kongres Nasional ke VII di Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi). Kegiatannya selain menentukan kepengurusan baru, mereka juga melakukan kunjungan wisata dan pengabdian ke masyarakat. [rin/suf]

Komentar

?>