Rabu, 22 Nopember 2017

Penyanyi Bersuara Merdu di BEC 2017 Itu, Ternyata..

Senin, 13 Nopember 2017 16:55:01 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Penyanyi Bersuara Merdu di BEC 2017 Itu, Ternyata..

Banyuwangi (beritajatim.com) - Event tahunan berbalut karnaval budaya bertajuk Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) telah usai digelar. Tema pada perhelatan ini mengambil keagungan dan indahnya potensi wisata di Kawah Ijen, Majestic Ijen.

Tiga sub tema dari gelaran ini mengangkat, potensi belerang, blue fire api biru dan lanscape di gunung setinggi 2433 meter di atas permukaan laut itu. Ratusan peraga busana melenggang megah di atas catwalk jalan raya di kawasan Taman Blambangan.

Tapi, siapa tahu di balik kesuksesan parade busana elok tersebut tersimpan sosok yang selalu mewarnai gelaran itu. Bahkan, mereka seolah menjadi roh dalam setiap penampilan nan membumi tersebut.

Adalah Pieter Yulivianou dan Fenty Corry Aquino. Melalui suara emasnya yang menggelegar menambah semarak laku dari setiap penampilan sang peraga. Suara mereka mengalir bak alunan air yang memenuhi rongga pagelaran itu.

Memang tak dipungkiri di sepanjang perjalanan event ini, mereka seolah menghilang. Tak banyak yang memberi perhatian atas penampilannya. Semua seolah tersihir dengan keelokan karya indah busana modernisasi budaya Banyuwangi tersebut.

Akan tetapi, keduanya tetap semangat menjunjung kebanggaan mengiringi langkah perjalanan acara. Tak sekedar pelengkap, lantunan nada pita suara mereka seolah menjadi bumbu manis dalam pegelaran akbar yang ke 7 itu.

Pieter misalnya. Setiap penampilanya selalu memberikan yang terbaik. Untuk itu, dirinya mengaku perlu menyiapkan aksi panggungnya itu sejak jauh hari.

"Hampir 3 bulan sebelumnya kita sudah lakukan persiapan. Dari menyiapkan musik, kemudian take vokal untuk direkam, karena nantinya musik itu untuk latihan para talent," katanya.

Kesiapan ini, kata Dia, memang diakui cukup menyita ruang dan waktu. Bahkan, tak jarang dirinya harus memutar otak mengatur jadwal latihan dan aktivitas kerja.

"Cukup menyita tenaga, karena selain kerja kita juga dituntut untuk latihan. Karena, lagunya juga gak biasa, disesuaikan dengan tema. Pemilihannya harus melalui prosedur juga," ucapnya pemuda yang juga bekerja di salah satu Bank BUMN ini.

Sejumlah lagu yang harus dikuasai memang tak asing. Tapi terdapat sedikit modifikasi khusus karena semua lagu harus menyesuaikan dengan aransemen baru bergenre etnik modern, namun tak terlepas dari musik khas Banyuwangi, kendang kempul.

"Lagunya tahun ini, petek-petek suku, ugi-ugi, umbul-umbul Blambangan, kangen Banyuwangi. Kalau yang umum itu ada jamrud khatulistiwa, lestari alamku, burung camar dan ada satu lagu barat itu sky full of star," ungkapnya.

Hasilnya, tuah kerja keras itu terbayar lunas kala mampu menunjukkan aksi yang cukup memukau. Lantunan nada suaranya bak membius ribuan penonton yang menyemut di kawasan Taman Blambangan.

"Tentunya kesuksesan ini juga berkat kerja keras tim lain, dari para pemusik, panjak dan sang aransemen lagu Nanang Ariyanto. Terima kasih semuanya," katanya.

Keikutsertaanya dalan panggung BEC tahun ini, lanjut Pieter, adalah tahun yang ke 5. Rasa bangga tak terkira terungkap, karena untuk mampu tampil di ajang ini merupakan hal yang tak mudah.

"Aku bersyukur karena masih dipercaya menjadi orang yang terpilih tampil, aku yakin di luar banyak yang lebih bagus. Tapi penentunya kan tetap penyelenggara. Terus terang tak menyangka dapat mengisi acara BEC. Dari tahun ketahun, mempunyai pengalaman menarik yang berbeda-beda dalam komposisi musik dalam memperpadukan tema BEC," ucapnya.

Senada dengan Pieter, Neno sapaan akrab Fenty Corry Aquino mengaku bangga. Di tahun keduanya menjadi bagaian dari pengisi acara BEC, suasana gemerlap akbar itu seakan tetap melekat. Meskipun dirinya mengaku merasa canggung berada di tengah acara itu.

"Deg-degan, tapi saya yakin harus tampil yang terbaik. Kuncinya ya percaya diri saja," terang ibu muda ini.

Duetnya bersama Pieter seakan menjadi penampilan yang tumbuh berkembang. Mereka awalnya dipertemukan menjadi lawan panggung kala di usia belia. Tapi, baru bersua kembali bahkan tampil bersama saat keduanya telah matang.

"Dulu kita bertemu saat masih SD, kita ikut lomba-lomba nyanyi. Sebenarnya sering bertemu, tapi di pagelaran besar, ya ini yang kedua," katanya.

Panggung BEC, bagi keduanya merupakan capaian klimaks dari perjalanan dunia tarik suara mereka. Meskipun, mereka meyakini masih banyak harapan besar yang ingin terwujud.

"Jika ada kesempatan, ke depan pengen tampil lagi. Meskipun itu sulit," ujar Neno sambil tersenyum.

Sepak terjang keduanya di dunia musik memang tak semulus artis-artis papan atas Banyuwangi lainnya. Tapi, setidaknya mereka mampu menunjukkan sebagai pelantun suara yang membanggakan. Ciri khas suara mereka telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari rona-rona gemerlap di setiap gelaran Banyuwangi Ethno Carnival.

Masih ada lagi event karnaval budaya serupa di tahun depan. Gelegar suara mereka pasti dinanti untuk mengiringi tema BEC 2018, yakni Puter Kayun. [rin/but]

Komentar

?>