Selasa, 21 Nopember 2017

Cara Banyuwangi Tingkatkan Kualitas Kopi Rakyat

Rabu, 18 Oktober 2017 18:13:23 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Cara Banyuwangi Tingkatkan Kualitas Kopi Rakyat

Banyuwangi (beritajatim.com) – Banyuwangi menggelar Coffee Processing Festival di Rumah Kreatif Banyuwangi, selama tiga hari 18 -20 Oktober 2017.

Festival ini digelar untuk meningkatkan kualitas produk kopi rakyat di Banyuwangi. Pemkab pun mendatangkan pakar kopi untuk memberikan edukasi bagaimana menghasilkan produk kopi kualitas terbaik.

Festival ini diikuti 100 peserta yang terdiri atas pekebun kopi dan pelaku usaha kopi baik industri kecil menengah (IKM) maupun pemilik kafe. Di hari pertama, peserta diberi materi dan praktek mengolah kopi yang benar, dari hulu ke hilir.

Mulai petik, pecah kopi, pengeringan, fermentasi, penyimpanan hingga menyangrai dan menyajikan kopi. Hari berikutnya, Kamis – Jumat (19-20 Oktober) mereka akan dibekali materi dan praktek barista.

“Harapannya agar pekebun dan IKM akan tahu cara-cara mengolah kopi yang baik sehingga mereka bisa memproduksi kopi yang benar-benar berkualitas. Apalagi kopi Banyuwangi ini mulai dikenal nasional,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat membuka festival melalui sambungan facetime, Rabu (18/10/2017).

Banyuwangi merupakan penghasil kopi dengan jenis robusta, yakni kopi yang ditanam dengan ketinggian di bawah 1000 mdpl. Sebagian merupakan perkebunan kopi rakyat yang pengolahan kopinya masih tradisional. Untuk mengembangkan usaha kopi rakyat ini maka perlu edukasi pada petani maupun pelaku usaha perkopian lainnya.

“Kita ingin kualitas kopi di Banyuwangi bisa terus meningkat, terutama para pekebun kopi bisa meningkatkan nilai ekonomis hasil kopi dari kebunnya. Semoga edukasi hari ini bisa bermanfaat,” imbuh Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko.

Pada kesempatan ini, Wabup Yusuf juga menjajal sendiri cara meracik kopi. Bersama pemandu, ia meramu kopi untuk menjadi minuman yang nikmat.

"Jadi sudah banyak yang tahu kalau saya juga punya warung, nggak ada salahnya saya juga pengen jadi barista, meracik dan menyajikan kopi yang nikmat," katanya.

Sementara itu, Muhammad Sulaiman Afandi (28) pengelola kafe G-Jack di Kecamatan Jajag mengaku selama ini pengetahuan tentang mengolah dan menyajikan kopi didapatnya dari internet dan sharing dalam komunitas pelaku usaha kopi. Adanya edukasi langsung dari ahli dan praktisi kopi profesional menjadi sebuah pengalaman yang sangat berharga baginya.

“Saya berharap bisa dapat ilmu disini. Apalagi disini juga ada teman-teman yang menggeluti bidang yang sama dengan saya, kita bisa saling tukar informasi dan wawasan, pasti akan sangat banyak informasi yang akan saya dapatkan,” ujarnya.

Banyuwangi sendiri setiap tahunnya menggelar berbagai festival yang mengangkat potensi kopi yang dimiliki oleh rakyat di antaranya Festival Ngopi Sepuluh Ewu dan Gombengsari Farm Festival yang mengangkat potensi peternakan dan perkebunan Desa Gombengsari salah satunya kopi. (rin/ted)

Tag : kopi

Komentar

?>