Selasa, 21 Nopember 2017

Nyadran, Bawa Sesaji Seekor Kambing di Gunung Tenggoro

Minggu, 15 Oktober 2017 10:01:30 WIB
Reporter : Pramita Kusumaningrum
Nyadran, Bawa Sesaji Seekor Kambing di Gunung Tenggoro

Ponorogo (beritajatim.com) - Berharap segera turun hujan dan dijauhkan dari malapetaka, puluhan warga Ponorogo menggelar ritual Nyadran. Nyadran merupakan berdoa di tempat keramat dengan membawa sesaji seekor kambing. Kemudian disembelih dan dimakan bersama.

Uniknya, dalam tradisi mistis ini tidak diperbolehkan satu perempuan pun mengikuti. Jangankan ikut dalam acara nyadran, untuk mengintip pun tidak boleh.

Ritual nyadran atau berdoa ini dilakukan di Gunung Tenggoro, Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong. Doa nyadran sengaja dilakukan di Gunung Tenggoro. Pasalnya, warga sekitar menyakini Gunung Trenggono tempat bertapa wali Truno dan Suto Ireng. Dua tokoh yang dianggap sakti oleh warga sekitar.

Prosesnya, setelah menggelar doa, seluruh sesaji dan satu ekor kambing dibawa ke Gunung Tenggoro untuk disembelih dan makan bersama. Namun, sebelum makan ada ritual khusus.

Yakni, tokoh masyarakat yang dianggap tua mengelilingi pohon yang dikeramatkan. Para tokoh tersebut mengelilingi pohon sembari membawa kepala kambing dan berdoa.

"Ini memang tradisi tahunan. Kami melakukan setiap akhir bulan Suro. Untuk terhindar dari malapetaka," kata sesepuh Pairan.

Selain itu, lanjut dia, juga berdoa segera diberi hujan. Karena memang Ponorogo sendiri terjadi kemarau panjang. Banyak daerah kekurangan air bersih.

Kepala Desa Karangpatihan, Eko Mulyadi mengatakan, nyadran bisa disebut kenduri. Nyadran merupakan bentuk tradisi masyarakat sekian tahun.

"Ada satu ekor kambing sebagai sesembahan. Untuk pengganti tolak bala. Biar yang di lereng gunung selamat. Juga diberi hujan," pungkasnya. [mit/suf]

Tag : tradisi

Komentar

?>