Rabu, 23 Mei 2018

Bagiamana Wajah Ludruk di Tengah Arus Digitalisasi?

Minggu, 15 Oktober 2017 07:32:16 WIB
Reporter : Misti P.
Bagiamana Wajah Ludruk di Tengah Arus Digitalisasi?

Mojokerto (beritajatim.com) - Salah satu kesenian tradisional Jawa Timur ludruk mulai tenggelam di tengah popularitas seni dan budaya modern. Hal ini yang mendasari PT Multi Bintang Indonesia Tbk (Multi Bintang) menggelar pagelaran Ludruk Karya Budaya dan sarasehan ludruk dengan tema 'Melestarikan Kesenian Ludruk di Tengah Arus Digitalisasi'.

Dalam diskusi tersebut, perusahaan minuman berkarbonasi bebas alkohol yang beroperasi 20 tahun di Desa Sampang Agung, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto ini menghadirkan beberapa pembicara. Seperti seniman ludruk Cak Kartolo, pimpinan Ludruk Karya Budaya Cak Eko Edi Susanto serta pengamat budaya dan media Dr Yayan Sakti Suryandaru.

Corporate Communication Manager PT Multi Bintang Indonesia Tbk Agnes Agastia pada rangkaian perayaan 20 tahun Sampang Agung Brewery, di Mojokerto mengatakan, sebagai perusahaan yang sudah berdiri selama lebih dari 85 tahun, kebudayaan Indonesia telah menjadi hal yang tidak terpisahkan dari Multi Bintang. "Seperti layaknya ludruk," ungkapnya, Minggu (15/10/2017).

Pimpinan Ludruk Karya Budaya, Eko Edy Susanto mengatakan, ludruk merupakan sebuah pertunjukan drama tradisional yang berasal dari Jawa Timur. "Pada pementasannya, Ludruk menceritakan kisah-kisah kehidupan sehari-hari rakyat biasa, yang seringkali dibumbui dengan humor atau komedi dan kritik sosial," katanya.

Pementasan ludruk biasanya dibuka dengan Tari Remo dan parikan. Namun dalam perkembangannya, kini tantangan yang dihadapi ludruk sangat besar yakni terkait dengan perkembangan teknologi dan arus informasi dari luar. Penurunan minat masyarakat untuk menyaksikan ludruk mulai terjadi pada era 1990-an, ketika muncul media elektronik.

"Sebenarnya ada tiga pilar yang mendorong keberlangsungan kesenian ludruk, yaitu seniman itu sendiri, masyarakat dan pemerintah. Khususnya kepada seniman, seniman harus kreatif dalam menciptakan cerita dan pagelaran yang menarik. Munculnya beberapa media elektronik kurang disikapi kelompok ludruk sehingga kalah bersaing," katanya.

Sementara itu, pengamat budaya dan media, Dr Yayan Sakti Suryandaru menyampaikan, jika banyak terobosan yang perlu dilakukan agar ludruk bisa menjadi bagian dari budaya masyarakat dan juga bisa dinikmati generasi muda. Yakni dengan mengaktifikan sosial media untuk mempromosikan kembali ludruk ke tengah masyarakat.

"Selain bersama-sama meminta perhatian pemerintah, yang bisa dilakukan oleh seniman ludruk ya mulai mengaktifkan sosial media-nya untuk bisa menjadi sarana dalam mempromosikan kesenian ludruk di masyarakat. Bisa melalui youtube atau media platform lainnya," tutur staf pengajar di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga ini.

Setelah menggelar diskusi budaya tentang ludruk, di hari yang sama Multi Bintang juga menyelenggarakan kegiatan Kolaborasi Pagelaran ludruk antara Sanggar Ludruk Karya Budaya dengan Cak Kartolo cs. Pagelaran ludruk tersebut digelar di lapangan Desa Sampangagung, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. [tin/suf]

Tag : ludruk

Komentar

?>