Selasa, 21 Nopember 2017

Diarak Warga, 33 Air Suci Gunung Penanggungan Diruwat

Kamis, 28 September 2017 22:51:29 WIB
Reporter : Misti P.
Diarak Warga, 33 Air Suci Gunung Penanggungan Diruwat

Mojokerto (beritajatim.com) - Sebanyak 33 air suci Gunung Penanggungan diruwat di situs Pertirtaan Jolotunda Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Ritual ini dilakukan dengan cara menyatukan 33 jenis air suci yang diambil dari empat penjuru mata angin di sekitar Gunung Penanggungan.

Sesepuh Desa Seloliman terlebih dulu melakukan pengunduhan 33 jenis air suci yang tersebar di empat penjuru mata angin yang mengelilingi gunung tersebut. Pengunduhan air suci dilakukan saat malam satu Suro lalu. Kemudian ditampung dalam wadah berupa kendi yang sudah didoakan.

Sebanyak 33 air suci tersebut dibawa oleh 33 perempuan dengan memggunakan kendi. Mereka berjalan kaki sejauh tiga kilometer menuju situs petirtaan Jolotundo. Dalam perjalanannya juga diriingi oleh arak-arakan gunungan hasil bumi dan jajanan pasar yang digotong secara bergantian oleh ribuan warga setempat.

Ke-33 air suci itu lantas dikumpulkan dan dibacakan doa di depan situs. Setelah selesai, semuanya langsung disatukan atau dicampur menjadi satu dengan air Jolotundo dalam gentong khusus. Ritual tersebut sudah dilakukan warga secara turun temurun dari zaman nenek moyang. Yakni ritual ruwat sumber mata air Jolotundo.

Ritual ditutup dengan rebutan hasil bumi dan jajanan pasar. Ratusan wisatawan yang memadati area petirtaan pun rela berdesakan untuk ikut berebut. Ruwatan tersebut dilakukan setiap bulan Suro dengan tujuan agar bisa tetap memberi manfaat kepada masyarakat.

Sesepuh Desa Seloliman, Djari mengatakan, ritual tersebut harus tetap dilakukan agar sumber mata air di Kecamatan Trawas tidak mengering. "Pernah dilanda kekeringan pada 2008 silam, tak terkecuali di sumber air Jolotundo. Karena warga tidak menggelar ritual," ungkapnya, Kamis (28/9/2017).

Sementara itu, Camat Trawas M Iwan Abdillah menuturkan, dari hasil peneletian, sumber air di Situs Petirtaan Jolotundo merupakan terjernih nomor dua di dunia setelah air Zam-zam di Arab Saudi. "Sehingga kita tetap harus melestarikan budaya dan tradisi nenek moyang. Sebab, sumber air merupakan hal pokok yang ada di kehidupan kita," paparnya. [tin/suf]

Komentar

?>