Jum'at, 24 Nopember 2017

Di Balik Tradisi Magis 'Seblang Bakungan' Banyuwangi

Senin, 11 September 2017 20:39:31 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Di Balik Tradisi Magis 'Seblang Bakungan' Banyuwangi

Banyuwangi (beritajatim.com) - Supani (66) memang sosok yang tak muda lagi. Wajah keriput, lagak pun mulai surut termakan usia. Tapi ia merupakan bagian penting tahun ini dalam sebuah ritual di kampungnya.

Ia lah pemeran sentral dalam tradisi warga Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Bayuwangi. Supani, sebagai penari tradisi magis suku Using bernama 'Seblang Bakungan'. Ia merupakan penerus tonggak sejarah budaya, adat dan tradisi leluhur yang telah turun temurun berlangsung.

Pada ritual seblang ini, usia tua memang sudah menjadi pakem yang tak bisa diubah. Bahkan, pemerannya pun tak sembarangan. Konon, hanya mereka yang terpilih oleh roh leluhur yang dapat menjadi penerus seblang.

Dan, 4 tahun belakangan, Supani terpilih berturut-turut menjadi sosok penyambung tradisi ritual kampung milik warga Bakungan itu. Wanita tua ini, merupakan keturunan Seblang bernama Misna yang telah pensiun dari ritual magis ini sejak 14 tahun yang lalu.

Sebelumnya warga salat magrib dan salat hajat di Masjid desa. Lalu dilanjutkan parade oncor (obor) yang dibawa berkeliling desa (ider bumi). Para warga berduyun-duyun mendatangi tempat ritual dengan membawa ancak berisi makanan. Syukuran dan doa dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai bagian wujud syukur warga atas rejeki yang diterima.

Selanjutnya di bawah temaram api obor, sepanjang jalan Bakungan dipenuhi tumpeng yang dibawa warga. Setiap sudut kampung, tak sepi akan warga yang mengerumuni pusat ditempatkanya puluhan tumpeng itu. Mereka terlihat guyup makan bersama usai melantunkan doa. Menu khas pecel pithik menjadi bagian special dalam tradisi syukuran ini.

Sesaat kemudian, bau kemenyan menyeruak menandai ritual berikutnya akan segera dimulai. Bunyi tabuhan musik tradisional, suara nyaring dari para sinden melantunkan gending khas ritual ini membuat merinding.

Tak lama kemudian, keluarlah sesosok wanita tua berpakaian serba merah, bermahkota rumbai putih alias 'omprok' putih sambil memejamkan mata. Ia bergerak pelan mengikuti alunan musik yang berdendang.

Tentengan keris leluhur tak lupa digenggam. Itulah sosok 'Seblang Bakungan' yang akan mulai menunjukkan magisnya.

Jika dilihat seksama, Seblang tak pernah membuka mata saat menampilkan aksinya. Meski demikian, ia tahu langkah yang dijalaninya. Bahkan, penari seblang akan terus menari saat ada musiknya. Anehnya, saat tak ada bunyi seblang pun lunglai.

Itu, konon gerakan seblang adalah representasi dari roh leluhur yang masuk dalam tubuh penari. Artinya saat seblang menari, ia tak sadarkan diri.

Sebanyak 13 gending yang dikumandangkan, diantaranya Seblang Lukinto, Podo Nonton, Ugo-ugo dan Kembang Gading tak ubahnya nyanyian magis yang menambah gairah roh dalam tubuh seblang.

Tujuan dari ritual ini, untuk bersyukur kepada Allah dan memohon agar seluruh warga desa diberi ketenangan, kedamaian, keamanan dan kemudahan dalam mendapatkan rezeki yang halal serta dijauhkan dari segala mara bahaya.

Tradisi ini, juga merupakan bagian yang terpisahkan dari penutup rangkaian perayaan hari raya Idul Adha. Ritual dilakukan tepat seminggu usai hari raya kurban tersebut.

"Ini bagian ritual yang perlu dilestarikan. Kita ingin seni dan budaya Banyuwangi terus eksis dan mendapatkan panggung untuk bisa ditampilkan ke khalayak luas," kata Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas saat membuka festival ini secara facetime.

Ritual seblang di Banyuwangi dilaksanakan di dua tempat. Pertama di Desa Olehsari atau dinamakan Seblang Olehsari, sedangkan satunya adalah Seblang Bakungan.

Bedanya, Seblang Olehsari diperankan oleh anak yang masih gadis, sedangkan Seblang Bakungan dilakukan oleh wanita tua atau yang sudah menopause. Waktu pelaksanaan dua seblang ini juga menjadi pembeda. Olehsari dilaksanakan pada bulan Syawal, dan Bakungan dilakukan pada saat bulan Dzulhijah. [rin/but]

Tag : tradisi

Komentar

?>