Rabu, 20 September 2017

Lesung Jemengglung Masih Bertahan di Tanjungharjo

Minggu, 10 September 2017 23:07:23 WIB
Reporter : Tulus Adarrma
Lesung Jemengglung Masih Bertahan di Tanjungharjo

Bojonegoro (beritajatim.com) - Para pendahulu telah meninggalkan adat dan norma kehidupan yang berbudi luhur. Nilai-nilai yang mereka tinggalkan disampaikan melalui produk seni dan budaya. Termasuk seni musik lesung. Jenis musik perkusi bagi kehidupan masyarakat agraris.

Lesung merupakan alat giling padi tradisional. Dari lesung masyarakat berpenghidupan. Dari lesung anak-anak mendapatkan makanan. Dan dari lesung pula aneka racikan bumbu diolah, untuk kemudian disantap.

Untuk menggiling padi diperlukan alu. Sebuah kayu berbentuk silinder yang fungsinya menghancurkan sekam padi, agar berasnya keluar. Alu yang dipukul-pukulkan pada lesung itu menghasilkan bunyi-bunyian elok nan menghanyutkan suasana.

Bunyi-bunyian tersebut kemudian diramu menjadi lagu. Terdapat lagu-lagu khas pada musik lesung. Ada yang berjudul jangan menir. Ada pula yang berjudul bluluk ceblok. Sesuatu yang sangat akrab dengan masyarakat desa.

Tidak diketahui secara pasti kapan tradisi musik lesung dilahirkan. Seperti di Desa Tanjungharjo Kecamatan Kapas. Gerusan zaman membuat musik lesung di kampung salaknitu tidak punya generasi. Satu-satunya yang masih eksis adalah grup musik lesung Jumengglung.

"Sangat jarang ada panggung yang disediakan untuk musik lesung. Yang bisa kita lakukan biasanya pada moment perayaan kemerdekaan seperti saat ini," ujar pelestari musik lesung, Fahrur Rozi, Minggu (10/9/2017)

Dirinya mengaku prihatin jika musik lesung harus hilang ditelan zaman. Dia mengatakan pemain musik lesung biasanya adalah perempuan. Terdiri dari 5 hingga 7 ibu-ibu dengan alu di tangannya. Hal ini tak lepas dari ajaran agama, bahwa penyangga agama dan negara adalah perempuan.

Keprihatinan Fahrur berawal dari satu bibinya yang merupakan pemain musik lesung. Dibutuhkan ketelitian, dalam menabuh alat dari kayu jati itu. Masing-masing penabuh memainkan ketukan dan tempo yang berbeda.

Kedepan dirinya hendak mempersiapkan para pemuda agar mau belajar. Karena jika tidak ada penerus musik tradisional tersebut bisa lenyap. Dibutuhkan kolaborasi dengan alat musik lain agar musik lesung penyajiannya lebih menarik.

"Beberapa lagu khas lesung sudah kita inventarisir. Kami masih berupaya melibatkan pemuda agar sajiannya kian menarik, misalnya dikolaborasikan dengan keyboard, gitar dan kontrabas," sambung Fahrur Rozi.

Fahrur Rozi beranggapan bahwa musik lesung adalah produk nyata peradaban desa. Dan jika dikemas dengan baik dan menarik, bisa jadi dapat membuat desanya dikenal dunia. [lus/suf]

Komentar

?>