Rabu, 22 Nopember 2017

Dandang Sewu, Festival Baru Ala Warga Kalibaru

Sabtu, 05 Agustus 2017 00:43:25 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Dandang Sewu, Festival Baru Ala Warga Kalibaru

Banyuwangi (beritajatim.com) – Ada saja yang dilakukan oleh masyarakat Banyuwangi ini. Seolah tak kehilangan kreativitas dan inovasi untuk terus menggerakkan roda ekonomi daerahnya.

Kali ini, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggelar ‘Festival Dandang Sewu’ di Dusun Tegal Pakis, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru. Festival ini memang baru dalam agenda tahunan yang dihelat oleh pemerintah ini. Tujuannya, sebagai hal pemantik geliat suasana guyub rukun dan semakin mengenalkan hasil produksi alat dapur ke pasar luas.

"Ini pertama kalinya festival dandang sewu digelar. Ini adalah bentuk Kami untuk mendukung adanya desa-desa yang mandiri dan berdaya seperti ini. Di sini, hampir seluruh warganya jadi pengrajin peralatan dapur, menarik sekali. Maka, kami akan dorong agar produk-produk mereka bisa mendapatkan pasar yang lebih luas. Salah satunya, kita kenalkan produknya melalui festival semacam ini," ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat membuka acara, Jumat (4/8/2017).

Benar saja, karena daerah ini menjadi sentra terbesar pengrajin alat dapur alumunium dan stenlis steel sejak puluha tahun lalu. Produksinya antara lain dandang, wajan, tudung saji, gelas, sutil, hingga oven kue serta berbagai alat liannya. Sejumlah warga terlibat, bahkan telah menjadi bagian tulang punggung penggerak roda perekonomian warga setempat.

Kualitasnya yang bagus, membuat produk khas Kampung Sayangan ini banyak diminati masyarakat. Bahkan, telah merambah ke berbagai daerah di Indonesia, antara lain, wilayah Sulawesi, Kalimantan, hingga Papua.

"Kami akan terus menggelar even untuk mengangkat potensi desa di Banyuwangi untuk meningkatkan daya saing dan memajukan warga setempat," ujar Bupati Anas.

Acaranya cukup meriah, hingga mengundang perhatian dari berbagai pihak khususnya masyarakat Kalibaru pada umumnya. Aneka ragam peralatan masak itupun ditampilkan menjadi background yang menarik, menyatu dengan pesona view pegunungan yang indah pada panggung festival.
Puluhan penjaja alat dapur yang berada di pinggir jalan nasional tersebut menjadi etalase pagelaran ini.

"Ini memang kita fasilitasi agar mereka ini terus bergerak sehingga mendorong tradisi rakyat di setiap daerah itu tumbuh. Nanti kita sempurnakan, view nya keren," katanya.

Kedepan, lanjut Anas, akan memberikan dukungan agar aktivitas dan produksi mereka tetap tumbuh. Tapi, menurutnya dengan tumbuhnya ekonomi warga seperti ini tidak harus memberikan bantuan kucuran dana.

"Karena jika ada kucuran dana justru akan timbul masalah. Bisa jadi nanti ada kelompok koperasi justru pengurusnya tidak transparan pembagian tidak merata sehingga produktivitasnya turun," ungkapnya.

Salah satu pemilik toko yang juga pengrajin peralatan masak, Mahfud (40) mengatakan dirinya merupakan generasi ketiga yang membuat sekaligus menjual aneka peralatan masak. Kelurga besar bapak dari dua anak tersebut sudah menggeluti profesi ini selama lebih dari 60 tahun. Selain menjual produknya di Banyuwangi dan daerah sekitar, dia juga pernah mengirim produknya ke beberapa daerah di luar Jawa.

"Dari sejak kakek saya, sudah menjadi pembuat dan penjual peralatan masak. Saya sendiri meneruskan dari bapak saya," katanya.

Selama ini, kata Mulisab omsetnya perbulan rata-rata Rp 1-2 juta. Namun khusus di momen hari raya omset itu bisa naik hingga puluhan kali lipat. Ternyata saat momen tertentu, barang ini dapat menjadi bingkisan maupun oleh-oleh bagi keluarga di rumah. "Waktu hari raya kemarin omset saya sampai Rp 30 juta dalam waktu tujuh hari," ungkapnya.

Dari hasil berjualan peralatan masak, kata Eki istri Mahfud, mengaku mampu mengantarkan pendidikan bagi anaknya. Bahkan semua kebutuhan terpenuhi dari hasil produksi peralatan dapur tersebut. "Alhamdulillah semua kebutuhan terpenuhi, yang penting anak sekolah agar nanti tidak seperti orang tuanya," katanya. [rin/suf]

Komentar

?>