Rabu, 16 Agustus 2017

Kronologi Perusakan Situs Calon Arang di Kediri

Selasa, 25 Juli 2017 11:54:11 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Kronologi Perusakan Situs Calon Arang di Kediri

Kediri (beritajatim.com) - Situs Calon Arang di Dusun Butuh, Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri dirusak oleh orang tak dikenal pada Sabtu (22/7/2017) lalu. Sampai saat ini, pelaku pengrusakan belum tertangkap. Justru, muncul polemik, pro kontra, tentang keberadaan situs Calon Arang.

Reaksi awal dari informasi pengrusakan situs Calon Arang, publik langsung mengecam pelakunya. Apalagi, ada unsur SARA (suku, agama, ras, antargolongan) dalam kasus ini.

Namun saat ini, informasi yang berbeda menyeruak mengimbangi reaksi pertama. Informasi terbaru adalah upaya merunut keberadaan situs Calon Arang mulai dari awal ditemukan kondisi saat sekarang.

Ternyata, kondisi situs sudah mengalami banyak perubahan bahkan bisa dibilang pengrusakan sejak beberapa tahun silam. Lebih parah lagi, dimunculkan makam tipuan dan cerita fiktif (karangan) yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Paparan tentang kronologi perusakan situs Calon Arang tersebut diungkapkan oleh Ayyu M Fikriyah bersama dengan Komunitas Pelestari Sejarah Budaya Kadhiri (PASAK). Dalam wawancara dengan redaksi beritajatim.com, Selasa (25/7/2017), Ayyu menuturkan bahwa perubahan atau perusakan secara kontinyu (terus menerus) justru dilakukan oleh juru kunci situs, yakni Suyono.

"Teman-teman komunitas mempermasalahkan pembangunan liar yang dilakukan oleh juru kunci, itu padahal selalu diingatkan," tutur Ayyu.

Dijelaskan oleh Ayyu, dia mengamati situs Calon Arang sudah sejak beberapa tahun lalu. "Tahun 2012 saya kesana masih tanah asli. Tahun 2013 juru kunci mulai membuat lantai keramik dan mempersilakan setiap peziarah berdoa di sana. Beberapa bulan kemudian, oleh BPCB dan Trowulan dibongkar lantainya, dan diberi peneduh dari atap plastik saja. 2015 akhir saya kesana, 3 makam palsu berupa batu bata ditata, dan 3 tanda dengan ukiran nama di marmer ada disitu dibuatkan bangunan permanen dan kamar mandi," paparnya.

Saat ini, Ayyu bersama Komunitas Pelestari Sejarah Budaya Kadhiri (PASAK) terus berusaha meluruskan opini agar kasus situs Calon Arang tidak melebar ke kasus SARA. Mereka berusaha mendudukkan persoalan sesuai dengan konteks dan fakta di lapangan. [but]

Berikut kronologi utuh tentang perusakan situs Calon Arang yang ditulis oleh Ayyu M Fikriyah melalui media sosial facebook:


Mengenai pengrusakan Situs Calon Arang di Gurah, Kediri, teman teman dan saya sudah ke lokasi kemarin sore. Hasil lapangan yang ditemukan semoga bisa meredam arus informasi tidak jelas dan mengkambinghitamkan kelompok (agama) tertentu.

Pengrusakan dan tulisan bernada ancaman di Situs Calon Arang terpicu oleh 'pengrusakan' yang sebelumnya dilakukan oleh Juru Kunci. Mohon dibaca pelan-pelan dan dipahami sebelum memberikan tanggapan.

Juru Kunci kok merusak?

Jadi gini. Temuan arkeologis yang ada di Situs Calon Arang berupa 2 ambang pintu, 4 umpak, dan struktur batu-bata. Adapun arca; berupa fragmen arca agastya, fragmen arca perempuan, dan arca ganesha. Arca ini diduga palsu, belum dapat diidentifikasi karena bentuk dan fisiknya sudah tertutup cor semen (dilakukan oleh juru kunci). Akhir tahun 2012, waktu saya pertama ke sana, fragmen dan bebatuan ini hanya teronggok di bawah pohon dan batu-bata berserakan di sekitar lokasi. Saat itu lokasi masih berupa tanah. Belum jadi teras semen seperti sekarang.

Ada beberapa masalah yang perlu digarisbawahi:

1. Status kepemilikan tanah belum dibebaskan, masih milik ahli waris pemilik tanah. Di lokasi lahan sudah dipatok papan keterangan situs cagar budaya.

2. Juru kunci secara sepihak mendirikan bangunan permanen. Biaya didapat dari sumbangan-sumbangan peziarah. Izin kepada desa hanya akan dibuatkan peneduh. Tahun 2013, juru kunci melakukan penyemenan arca dan mengkeramik tanah. Tahun 2014, atap yang semula plastik, diganti dengan atap asbes dan bangunan lantai dicor permanen. Pada lokasi ditambahkan makam abal-abal yang diberi tanda nama Ratu Nating Girah, Ratna Manggali, dan Trunojoyo. Struktur batu-bata ditata sedemikian rupa menyerupai bentuk makam dan dibuatlah cerita fiktif terkait makam dan tempat pemujaan sebagai daya tarik.

3. Pembangunan yang sampai memindahkan arca dan batu-batuan yang dicor semen ini justru pengrusakan yang sebenarnya. Itu dilakukan oleh juru kunci. Temuan arkeologis yang harusnya in-situ, dipindahkan dan dicor ditambahkan pernak-pernik ukiran nama dan dibuatkan teras pemujaan. Ini jelas salah kaprah. Niat merawat yang kebablasan kreatifnya. Bahkan, di lokasi yang sama, yang seharusnya steril dari apapun, juru kunci membangun semacam kamar mandi di sana. Membangun kamar mandi di lokasi yang masih ada struktur batu jelas sudah menyalahi aturan.

4. Juru kunci mengaku bahwa diangkat menjadi juru kunci oleh keraton Surakarta Hadiningrat. Bukan saya mau bilang beliau berbohong, tetapi memang banyak statemen yang beliau ujarkan saat mengguide peziarah itu ngelantur. Termasuk cerita fiktif soal makam. Perlu diketahui, tidak ada makam di sana. Tidak ada makam yang kemudian bisa diklaim itu adalah makam Calon Arang. Hanya ada temuan arkeologis dan studi tentang Calon Arang berlokasi di tempat tersebut sejauh ini masih disimpulkan dari kesamaan nama Gurah dan cerita Mbok Rondo Girah. Saya belum baca lengkapnya laporan yang ada di Balar.

5. Juru kunci di situs ini bukan termasuk juru kunci yang dipanggil tiap bulan ke BPCB. Jadi bisa dibilang, beliau ini tidak teredukasi dengan benar. Cenderung ngelantur dan bertindak semaunya. Saya paham betul niat baiknya menjaga situs ini. Tetapi dengan 'kreativitasnya' menambahkan cerita fiktif, pernik pernik tambahan sepertu arca, dan bangunan menyerupai tempat pemujaan di lahan yang statusnya belum jelas ini, membuat warga sekitar geram.

Paling penting dari semua itu belum tentu juga pelakunya adalah ahli waris atau warga sekitar, seperti rumor yang berkembang di media sosial saat ini. Bisa jadi memang ada yang sedang mengkambinghitamkan kelompok tertentu dan memancing keributan. Di Kediri, di lokasi lain, sejauh ini tidak ada masalah yang berarti. Namun, bisa diambil kesimpulan, bodoh bodohannya saya saja ini, pengrusakan yang terjadi 2-3 hari lalu ini pemicunya ya dari 'pengrusakan' dan pengubahan fungsi situs menjadi tempat pemujaan. Agak kasihan kalau menyalahkan beliau juru kunci ini. Tetapi inilah fakta di lapangan yang sebenarnya. Semoga tulisan saya ini bisa sedikit memberikan gambaran tentang kondisi Situs Calon Arang saat ini dan mohon dengan sangat, yang tidak tahu kondisi lapangan, mohon tidak menyebarkan informasi terkait sentimen agama apapun. Ini murni terpicu dari pengrusakan sebelumnya dan pengubahan fungsi lahan. Barangkali ada yang ingin menambahkan informasi terbaru dari lapangan, monggo. Mohon maaf bila di tulisan saya ada kekurangan maupun menyinggung. Mohon maaf sebelumnya.

Komentar

?>