Senin, 25 September 2017

Dua Penyair Jadi Pemenang Sayembara Manuskrip Antologi Puisi DKJT 2017

Jum'at, 14 Juli 2017 16:22:43 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Dua Penyair Jadi Pemenang Sayembara Manuskrip Antologi Puisi DKJT 2017
Rapat juri di kantor DK Jatim.

Surabaya (beritajatim.com) - Sayembara sastra untuk kategori Manuskrip Antologi Puisi dilaksanakan Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) pada 2017 ini, diikuti oleh cukup banyak peserta. Antusias peserta dari Jawa Timur yang mengikuti sayembara tersebut, melebihi tahun-tahun sebelumnya.

Sebanyak 47 buah manuskrip kumpulan puisi dari 47 nama penyair yang terdaftar, kemudian diikutkan dalam proses seleksi sayembara yang dilakukan Dewan Juri Puisi.

Ketiga Dewan Juri, yaitu Prof. Dr. Ida Bagus Putera Manuaba, Dr.Nanang Suryadi dan F Aziz Manna, melakukan penentuan manuskrip nominasi. Beberapa nominasi adalah manuskrip dengan judul: “Nanas Kerang Ungu”, “Layar Semebyar”, “Suluk Dolanan”, “Kitab Datu-datu”, “Saweran”, “Rabu dan Biru”, “Mbelgedes”, “Kapalaran”, “Wira Carita Panu Kawan”, dan “Dari Batu Jatuh sampai Pelabuhan Rubuh”. Dari manuskrip nominasi yang ditentukan itu, kemudian dilakukan seleksi lagi guna menentukan pemenang sayembara.

Dalam rapat Dewan Juri Sayembara Puisi yang dilaksanakan pada Kamis, 13 Juli 2017 di DKJT, Dewan Juri memutuskan 2 (dua) pemenang Sayembara Penulisan Puisi, yakni “Kapalaran” karya Nanda Alifya Rahma dan “Dari Batu Jatuh sampai Pelabuhan Rubuh” karya Daruz Armadian. Dua karya tersebut ditentukan sebagai pemenang sayembara karena dinilai sebagai karya-karya terbaik.

“Kedua manuskrip tersebut sama-sama ditulis dengan penulisan yang sublim dan juga tersaji sebagai karya puisi yang matang, tingkat kontemplasi yang mendalam, dengan bahasa puisi yang kuat dan simbolik, serta dengan pilihan diksi yang representatif,” terang Prof. Putera Manuaba, salah satu Dewan Juri Sayembara Puisi.

Menurut Dewan Juri, “Kapalaran” merupakan sebuah manuskrip kumpulan puisi yang menjadi keterwakilan masyarakat urban Surabaya, yang puisi-puisi yang terangkum di dalamnya banyak merepresentasikan kehidupan dan problematik masyarakat perkotaan. Dalam puisi-puisi yang terangkum di dalamnya, tidak hanya dihadirkan dalam tipografi yang variatif tetapi juga sarat dengan kritik sosial yang disampaikan secara halus, sehingga membuat puisi-puisi ini menarik untuk dinikmati. 

Sedangkan “Dari Batu Jatuh sampai Pelabuhan Rubuh” merupakan sebuah manuskrip kumpulan puisi yang menjadi keterwakilan masyarakat maritim, pesisir, dan agraris. Dalam puisi-puisi yang terangkum di dalamnya, sangat respek terhadap berbagai persoalan sosial dan budaya yang ada dalam masyarakat tersebut, yang disajikan dengan bahasa puisi yang juga menarik.

“Dua manuskrip itu menjadi keterwakilan dari budaya Jawa Timur yang kaya dengan subkulturnya. Banyak nilai terpendam yang perlu digali dari kearifan budaya Jawa Timur,” jelas guru besar Unair tersebut.

Indra Tjahyadi, Komite Sastra DKJT sekaligus penyelenggara Sayembara Manuskrip Kumpulan Puisi, menuturkan bahwa hadiah utama senilai Rp. 7,5 juta akan dibagi untuk dua pemenang. Hadiah sebenarnya hanya diberikan kepada juara pertama saja, sedangkan Dewan Juri telah menentukan dua nama untuk pemenangnya.

“Karena pemenang yang telah ditentukan oleh Dewan Juri ada dua orang, maka hadiahnya dibagi dua, masing-masing mendapatkan hadiah sebesar Rp. 3,75 juta,” papar Indra Tjahyadi. [but]

Tag : sastra

Komentar

?>