Selasa, 25 Juli 2017

Unik, Puluhan Kusir Dokar Banyuwangi Gelar Lebaran Sendiri

Rabu, 05 Juli 2017 00:00:41 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Unik, Puluhan Kusir Dokar Banyuwangi Gelar Lebaran Sendiri

Banyuwangi (beritajatim.com) - Beragam tradisi lokal mewarnai bulan Syawal masyarakat Banyuwangi. Setelah sebelumnya ada ritual adat Barong Ider Bumi dan Seblang Olehsari, kini digelar ritual Puter Kayun. Puter Kayun ini diadakan di Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri Banyuwangi, Selasa (4/7/2017).

Puter Kayun merupakan tradisi yang dilakukan warga Boyolangu saat memasuki hari ke sepuluh Bulan Syawal. Warga berkumpul lalu bersama-sama menaiki delman hias bersama-sama menuju Pantai Watudodol yang jauhnya 15 km.

Tradisi ini diawali dari perkampungan Boyolangu, dimana beragam dokar hias nampak berderet-deret. Delman-delman tersebut dihias berwarna-warni menyambut tradisi Puter Kayun, layaknya andong wisata. Dokar-dokar ini adalah milik warga Boyolangu yang memang masih memegang adat Puter Kayun.

Puter Kayun kali ini dibuka oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Keuangan Banyuwangi, Pujo Hartanto. Dalam kesempatan itu, Pujo mengatakan bahwa tradisi yang masuk agenda wisata Banyuwangi  Festival (B-Fest) ini berasal dari masyarakat yang tumbuh dari bawah.

Tradisi yang unik ini, lanjut dia, bisa menjadi identitas masyarakat. Oleh karenanya, pemerintah daerah akan terus mendukung dan mewadahi agar kelestariannya tetap dapat dipertahankan.

"Banyuwangi festival akan konsisten mengangkat tradisi lokal masyarakat setempat, termasuk tradisi Puter Kayun Boyolangu. Festival yang sifatnya tradisi lokal akan tetap kami gelar di daerah tersebut, bukan justru kami usung ke kota. Selain untuk menjaga tradisi dan ritual yang ada, ini juga sebagai cara untuk menumbuhkan banyak obyek atraksi wisata di Banyuwangi," ujarnya.

Selanjutnya, Pujo bersama pejabat komponen daerah lainnya memecah kendi sebagai tanda dimulainya tradisi Puter Kayun. Bersama masyarakat, mereka beramai-ramai menaiki dokar.

Tradisi ini terus digelar sebagai napak tilas jejak Ki Buyut Jakso, leluhur warga Boyolangu yang dipercaya sebagai orang yang pertama kali membangun jalan di kawasan utara Banyuwangi.

"Konon, dulu saat membuka jalan di sebelah utara, Belanda meminta bantuan pada Ki Buyut Jakso karena bagian utara ada gundukan gunung yang tidak bisa dibongkar. Ki Jakso lalu bersemedi dan tinggal di Gunung Silangu yang sekarang jadi Boyolangu. Atas kesaktiannya, akhirnya dia bisa membuka jalan tersebut sehingga wilayah itu diberi nama Watu Dodol, yang artinya watu didodol (dibongkar)," ujar Ketua panitia Puter Kayun, Mohamad Ikrom.

Sejak itu, lanjut Ikrom, Ki Buyut Jakso berpesan agar anak cucu keturunannya berkunjung ke Pantai Watu Dodol untuk melakukan napak tilas apa yang telah dilakukannya. "Karena saat itu hampir semua masyarakat Boyolangu berprofesi sebagai kusir dokar, maka mereka mengendarai dokar. Hingga ada yang menyebut puter kayun ini sebagai lebarannya kusir dokar," ujarnya.

Setelah sampai Watu Dodol, mereka menggelar selamatan. Sebagian tokoh adat juga menaburkan bunga berbagai rupa ke laut untuk menghormati para pendahulu mereka yang meninggal saat pembuatan jalan.

Sebelum pelaksanaan puter kayun, tradisi ini diawali sejumlah ritual. Dimulai dari nyekar ke makam Buyut Jakso dan tradisi kupat sewu (seribu ketupat) yang digelar tiga hari sebelum puter kayun. [rin/suf]

Komentar

?>