Sabtu, 18 Nopember 2017

Gelar Kirab Budaya, Cara Warga Mojokerto Menggali Spirit Majapahit

Kamis, 18 Mei 2017 23:13:54 WIB
Reporter : Misti P.
Gelar Kirab Budaya, Cara Warga Mojokerto Menggali Spirit Majapahit

Mojokerto (beritajatim.com) - Ratusan kepala desa (Kades), perangkat desa, camat dan seluruh elemen masyarakat turut dalam Festival Kirab Budaya Majapahit yang digelar di eks tanah ganjaran Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Kamis (18/5/2017). Kegiatan dalam rangka HUT Kabupaten Mojokerto ke-724 tersebut digelar untuk menghidupkan kembali kejayaan Majapahit.

Masing-masing kecamatan yang ada di Kabupaten Mojokerto menampilkan kirab budaya Majapahit dengan cerita berbeda. Camat, kades, perangkat desa dan seluruh elemen masyarakat terlibat dalam cerita yang dibawakan. Seperti Kecamatan Trawas dengan judul 'Babat Tarik', Kecamatan Mooisari dengan judul 'Penobatan R Wijaya', Kacamatan Dlanggu dengan judul 'Tuntut Balas Pasukan Cina'.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Mojokerto, Didik Khusul Yakin yang juga ketua panitia mengatakan, kegiatan tersebut mempunyai beberapa tujuan yakni melestarikan budaya Majapahit, meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan serta mengenalkan kirap kepada masyarakat. "Dan diharapkan para seniman mempunyai wahana berkreasi untuk menampilkan kesenian majapahit," ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasa mengatakan, kegiatan tersebut mengerakkan seluruh elemen masyarakat khususnya kades, perangkat dan camat. "Ternyata antusiasmenya sangat luar biasa meski dengan biaya sendiri. Mereka tertarik dengan budaya Majapahit dan menampilkan dalam bentuk cerita bagamana kejadian Majapahit mulai bangkit sampai runtuh," katanya.

Masih kata orang nomor satu di Kabupaten Mojokerto ini, hal tersebut menjadi sebuah cerita sejarah untuk dipahami dan digali ilmunya demi kepentingan pribadi, negara, agama dan keluarga. Prinsipnya, lanjut Bupati, Majapahit pernah jaya bukan hanya di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tapi Asia, bahkan dikenal di seluruh dunia.

"Falsafah ini, yang kita gali untuk kita pahami dan dicontoh kembali bagaimana bisa jaya seperti Majapahit dulu. Kegiatan ini akan dikembangkan, tahun depan akan kita biayai dan dibuat rangkaian cerita sehingga mudah dipahami dan menjadi contoh suri tauladan, budi pekerti Majapahit yakni pribadi yang tulus, ikhlas, lahir batin bisa tercipta seperti Majapahit dulu," tuturnya.

Bupati menambahkan, kegiatan tersebut merupakan percobaan karena dalam kirab kali ini, peserta tidak hanya berdandan ala Majapahit dan berjalan saja namun ada cerita yang dibawakan oleh masing-masing peserta. Sehingga kedepannya dikemas lagi karena kegiatan tersebut mempunyai tujuan untuk mengingatkan masyarakat jika leluhur Majapahit tanpa teknologi tapi ilmu, skillnya diakui seluruh dunia.

"Ini yang kita gali dan ditampakan, jika nenek moyang kita sungguh luar biasa. Insya Allah, di tempat ini lagi karena disini sebelumnya memang rawa seluas 5 hektar. Dari dulu tidak bisa ditanami sehingga kita uruk untuk bisa dimanfaatkan sehingga diharapkan semua kegiatan bisa diarahkan disini karena lokasinya dekat Kolam Segaran, BPCB dan Pendopo Agung serta peninggalan kerajaan Majapahit lainnya," jelasnya.

Sementara itu, terkait pembangunan lokasi yang sebelumnya menjadi polemik karena Balai Penyelamatan Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur di Trowulan sempat menghentikan proses pengurukan lantaran merupakan masuk dalam Kawasan Cagar Budaya Nasional, pihaknya mengaku akan membangun sesuai petunjuk dan arahan dari propinsi dan pusat. [tin/suf]

Tag : kirab budaya

Komentar

?>