Senin, 18 Desember 2017

Sosialisasikan Kemandirian, Para Difabel Berkendara Belasan Jam

Senin, 17 April 2017 14:41:14 WIB
Reporter : Brama Yoga Kiswara
Sosialisasikan Kemandirian, Para Difabel Berkendara Belasan Jam

Malang (beritajatim.com) - Guna mensosialisasikan kemandirian, tiga orang anggota DMI (Difabel Motor Indonesia) Jember, rela menempuh perjalanan jauh dari Jember ke Kabupaten Blitar. Keikut sertaan DMI asal Jember untuk mengikuti acara deklarasi DMI Blitar yang di adakan di Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, pada Minggu (16/4/2017) lalu.

Saat dijumpai dan berhenti di kawasan Kepanjen, Kabupaten Malang, Senin (17/4/2017) wajah ceria tanpa terlihat letih, mereka tebarkan. Meski, kekurangan fisik bukanlah menjadi halangan bagi para difabel untuk memberikan sumbangsih tenaga dan pikirannya bagi bangsa dan negara.

"Kami dari Jember untuk bertemu dengan teman – teman DMI mas, kita bisa saling bertukar pikiran dan pengalaman," tutur Amar Abdulah, Senin (17/4/2017)  siang ketika dijumpai di Kepanjen, Kabupaten Malang.

Amar Abdullah tidak sendiri. Ia bersama dua orang anggota DMI Jember lainya yang bernama Siti Farida, (30) warga Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, dan Abdulah (30), warga Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember.

Amar menuturkan, tujuan mereka ke Blitar selain mengikuti acara deklarasi DMI Blitar, juga untuk bertemu dengan anggota DMI se Jawa Timur yang berkumpul di Blitar. Tidak hanya  sekedar berkumpul, para penyandang difabilitas yang bergabung dalam DMI ini, juga melakukan kegiatan bakti sosial dan melakukan sosialisasi serta pendampingan kepada para penyandang kebutuhan khusus lainnya.

"Selain bakti sosial, kita sosialisasikan bagaimana memodifikasi motor khusus untuk para penyandang difabel. Untuk modifikasi motor kan beda mas, tergantung kebutuhan khusus individunya. Dalam acara tersebut kita juga melakukan pendampingan dan pelatihan kepada para penyandang difabel lainnya. Intinya kita sosialisasikan para penyandang difabel harus mandiri, jangan bergantung kepada orang lain," tegas Ama.

Meski semua anggota DMI notabene adalah penyandang difabilitas, tidak ada satupun anggotanya yang menganggur. Dalam keseharian mereka dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, tidak menghalangi mereka untuk berkarya.

"Macam – macam, ada yang menjadi penjahit, tukang servis elektro, buka salon, atau pekerjaan lainnya. Bahkan Mbak Siti Farida ini adalah salah seorang desainer kostum yang di gunakan dalam JFC (Jember Festival Carnaval-red)," tutur Amar sambil mengenalkan Siti Farida.

Siti Farida, perempuan cantik asal Ambulu, Jember ini mengaku selalu mengikuti  ajang JFC yang saat ini sudah menjadi perhatian internasional tersebut. "Saya bersama teman – teman difabel lainnya,setiap tahun selalu mengikuti ajang JFC. Kami ingin memberi tahu kepada para penyandang difabel lainnya, bahwa kita bisa dan mampu berkarya," tegas Siti Farida.

Para anggota DMI Jember sendiri memulai perjalanannya dari Jember pada Jumat lalu selama empat hari. Rute tempuh mereka perjam dibawah 60 kilomer. "Untuk motor modifikasi difabilitas kan kecepatannya tidak boleh lebih dari 60. Perjalanan ini kami tempuh empat hari,  dua hari kami di Blitar, dan kami tidak langsung ke Jember, estafet, mampir dulu di Malang. Kalau mau non stop yah, sekitar tujuh jam Malang – Jember," kata Amar Abdulah.

Di DMI sendiri menurut Amar, setiap anggota diwajibkan mempunyai SIM (Surat Ijin Mengemudi) D, khusus untuk penyandang difabel. "Itu syarat wajib bagi setiap anggota DMI mas, harus mempunyai SIM D," kata Amar Abdulah sambil menujukan SIM D miliknya.

Pernyataan Amar Abdulah ini di amini oleh Slamet Riyadi, anggota DMI Kabupaten Malang, yang mendampingi perjalanan anggota DMI Jember tersebut. "Untuk penyandang difabel yang ingin memiliki SIM D kita bantu, kita bombing, karena di DMI kita juga melakukan kampanye keselamatan di jalan raya, jadi yah untuk masuk DMI harus punya SIM D," kata Slamet Riyadi yang berprofesi sebagai penjahit.

Rencananya mereka dari Malang akan menuju Lumajang kemudian baru ke Jember. "Tapi kita ingin ke Turen dulu, ke Masjid Tiban dahulu," ujar humas DMI Kabupaten Malang, Nanik Safitri (56), warga Jalan Welirang, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. (yog/kun)

Komentar

?>