Jum'at, 28 April 2017

Ngaostik, Tidak Selesai pada Pertunjukan

Senin, 17 April 2017 12:10:17 WIB
Reporter : Tulus Adarrma
Ngaostik, Tidak Selesai pada Pertunjukan

Bojonegoro (beritajatim.com) - Sejumlah komunitas literasi yang ada di Kabupaten Bojonegoro mencoba mengenalkan asyiknya membaca dengan cara memadukan buku (puisi) dengan musik akustik. Sebuah sajian yang kemudian disebut Ngaostik, Senin (17/7/2017).

Musik yang lebih dekat dengan anak muda dan bisa diterima oleh siapapun, diharapkan mampu mengantarkan masyarakat khususnya anak muda untuk kemudian mengenal buku, membaca lalu menyukainya.

Seorang pegiat literasi Komunitas Atas Angin, Mohamad Tohir, mengatakan, Ngaostik merupakan salah satu cara agar dalam melakukan pembacaan puisi lebih mengetahui maknanya. "Banyak yang membaca puisi atau mendengarkan musik hanya bisa menikmati," ujarnya, usai kegiatan kemarin malam.

Wahyu Rizkiawan menambahkan, Ngaostik adalah agenda independen kepemudaan berbasis hobi, kerianggembiraan dan kebahagiaan tanpa intervensi apapun dan siapapun. "Ngaostik sangat menghindari pikiran-pikiran berbasis proyek dan target-target yang bakal berakhir pada kepentingan tertentu," katanya.

Ngaostik, lanjut dia, berawal dari kegelisahan yang sama antar komunitas. Beberapa komunitas, seperti Bojaksara, Angkringan Buku Emperan (ABE), Atas Angin, dan Perpus Gatda yang baru saja dipertemukan kemudian menggagas pemikiran yang sama.

"Diawali dengan bahagia dan terus dijalani dengan riang gembira. Bukan karena target dan beban kerja," tambahnya.

Seorang Penyair, Timur Budi Raja yang juga turut dalam periatiwa kesenian tersebut mengapresiasi bentuk pertunjukan yang di dalamnya memiliki gagasan dan kajian untuk mendekatkan masyarakat pada gerakan-gerakan literasi.

"Sebuah peristiwa kesenian, puisi, teater dan musik akan selesai jika hanya berbentuk sebuah pertunjukan. Tidak ada gagasan di dalamnya, kajian di dalamnya," ungkapnya. [lus/but]

Tag : musik

Komentar

?>