Senin, 24 Juli 2017

Seperti Inilah Pasang Surut Teater Pelajar di Bojonegoro

Minggu, 19 Februari 2017 15:41:42 WIB
Reporter : Tulus Adarrma
Seperti Inilah Pasang Surut Teater Pelajar di Bojonegoro
Drama berjudul Titik Koma yang dipentaskan teater Kakus SMA Negeri 2 Bojonegoro

Bojonegoro (beritajatim.com) - Belakangan pementasan teater pelajar di Bojonegoro lebih sering digelar. Pementasan teater AWU dari SMK Negeri 2 Bojonegoro, pada akhir Januari 2017. Kemudian disusul kelompok teater Lorong Putih dari SMA Negeri 1 dan kemarin malam pertunjukan teater dari SMA Negeri 2 Bojonegoro, kelompok teater Kakus. Walhasil, seluruh pementasan itu ramai penonton.

Kabupaten Bojonegoro pernah mengalami peristiwa teater yang seperti itu. Pentas teater digelar secara maraton dari sekolah ke sekolah. Atau menggelar latihan bersama antar komunitas teater pelajar. Peristiwa itu dilakukan di gedung Perak, Kelurahan Ledok Kulon, milik Dinas Pendidikan. Gedung tersebut dulu digunakan sebagai kantong seni di Bojonegoro. Adanya gedung tersebut juga membantu proses latihan bersama.

Dalam perjalanannya gedung yang digunakan sebagai kantong kesenian itu akhirnya diminta kembali oleh dinas pendidikan. Kelompok-kelomok teater pelajar akhirnya hanya menggelar latihan di sekolah. Program yang dibangun Jaringan Teater Pelajar (JTP) tidak jalan. Kemudian mati suri. Kematian teater pelajar di Bojonegoro itu mulai 2009. Hingga tahun 2016 mulai tumbuh lagi pementasan-pementasan teater. Pementasan teater ini bukan hanya sekadar euforia. Tapi menjadi ajang eksistensi kelompok masing-masing untuk terus bersaing dalam karya.

Penonton dalam setiap pementasan tidak sedikit. Taruhlah dalam pementasan Teater Kakus, tadi malam, Sabtu (18/2/2017). Tiket masuk yang dicetak sebanyak 250 lembar habis terjual. Bahkan masih ada penonton yang tidak kebagian. Akhirnya mereka balik kanan. Karena gedung yang digunakan untuk pementasan hanya berkapasitas tidak lebih dari jumlah tersebut. Sebagian besar penontonnya dari kalangan pelajar. Mereka saling belajar dari pementasan yang digelar.

Dalam pementasan Teater Kakus yang digelar pertama kali ini menampilkan dua pementasan. Pertama Monolog dengan judul Siapa? karya Putu Wijaya dan drama realis berjudul Titik Koma yang ditulis dan disutradarai oleh Ferli Arvidia Anindita kelas XI SMA Negeri 2 Bojonegoro. Naskah tersebut menurut Ferli diadopsi dari novel berjudul Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. "Belum banyak pelajar yang megenal penulis hebat itu (Pramoedya Ananta Toer). Hanya yang suka membaca saja mungkin yang tahu," ujarnya usai pertunjukan.

Pelajar Jurusan IPA itu mengaku tertarik untuk mementaskan karya Pram yang berjudul Bumi Manusia karena terinspirasi oleh salah seorang tokoh perempuan di dalam buku tersebut. Nyai Ontosoroh. Tokoh pribumi yang dinikah secara tidak resmi oleh orang Belanda. Kaum yang dianggap rendah. Karena itulah Nyai Ontosoroh kemudian terus berusaha belajar dan berusaha keras agar tetap memiliki hak asasi mausia yang sepantasnya.

"Saya tertarik dengan kegigihan Nyai Ontosoroh belajar, meskipun pada akhirnya juga ngilu karena tetap saja menjadi korban kekuasaan dan harus berpisah dengan anaknya, Annelis," katanya dalam diskusi.

Untuk mengemas cerita dalam buku Bumi Manusia itu, dia mengaku butuh beberapa kali membaca bukunya. Hingga akhirnya menemukan sebuah tanda hubung yang menggambarkan sebuah kengiluan dalam perpisahan. Titik Koma. Sebuah jeda atau perpisahan. Dikemas dengan setting kota Surabaya, Wonokromo. Pada era tahun 1898 hingga 1918. Setting tersebut tidak meninggalkan ciri khas penulis dalam buku. "Seperti panggilan Ibunda ini menyesuaikan setting waktu pada saat itu," katanya.

Salah seorang seniman di Bojonegoro, Aries Haridjanto, mengungkapkan, bahwa pertunjukan tersebut merupakan sebuah keberanian dalam menyampaikan sejarah melalui bentuk lain. Sebuah pertunjukan.

Bahkan, Pak Dhe Uban, sapaan akrabnya, begitu bisa merasakan peristiwa tersebut. Bagaimana rasanya sebuah kehilangan karena ketidakberdayaan oleh status, aturan dan tidak adanya hak asasi manusia. "Ini sebuah keberanian yang luar biasa sebuah roman menjadi pertunjukan teater yang apik," katanya. [lus/suf]

Tag : teater sastra

Komentar

?>