Rabu, 18 Oktober 2017

Pola Komunikasi Rasulullah, Teladan Terlupakan

Senin, 12 Desember 2016 11:10:26 WIB
Reporter : Samsul Arifin
Pola Komunikasi Rasulullah, Teladan Terlupakan
Achmad Muhlis

Pamekasan (beritajatim.com) - Pola komunikasi merupakan medium sangat penting bagi pengembangan dan pembetukan karakter pribadi maupun lingkungan masyarakat, sehingga terbentuk komunikasi yang dikembangkan.

Sebab dengan komunikasi seseorang akan tumbuh dan belajar menemukan diri mereka sendiri maupun orang lain. Mulai dari bergaul, bersahabat, mencintai, mengasihi orang lain dan sebagainya.

Rasulullah Muhammad Sallallahu 'Alaihi Wasallam merupakan sosok familiar yang sudah tidak asing lagi di telinga untuk selalu diteladani dalam berbagai aspek kehidupannya, termasuk pola komunikasi yang ditunjukkan oleh Sang Revolusioner Dunia.

Hal inilah yang menyebabkan para sahabat maupun tabi’in, selalu mengidamkan dan mengidolakan Rasulullah yang selalu menjadi teladan bagi umat yang beriman sampai akhir zaman. Tidak terkecuali para pemimpin di negeri ini.

"Pola komunikasi Baginda Nabi dalam mengemban amanah sebagai Rasul, pemimpin maupun pembimbing umat. Baik di bidang agama, sosial, budaya maupun yang lainnya tergambar pada tiga pola komunikasi; Komunikasi verbal, Komunikasi fisik dan Komunikasi emosional," kata Achmad Muhlis, Senin (12/12/2016).

Komunikasi verbal lebih sering dilakukan Rasulullah dalam membimbing keluarga maupun umatnya. Seperti perintah untuk selalu lemah lembut, sopan dan santun dalam berkomunikasi secara lisan. Khususnya bagi kedua orang tua, sebagaimana sudah dijelaskan secara detail dalam al-Qur'an al-Karim.

"Dalam hal ini jelas tergambar bahwa cara komunikasi seperti ini jika dikembangkan dan diteladani akan berdampak luar biasa. Tentunya juga sangat signifikan dalam pengembangan dan pembentukan karakter anak maupun remaja di masa sekarang ini," sambung salah satu dosen STAIN Pamekasan itu.

Rasulullah juga memerintahkan untuk selalu membaca basmalah (Bismillahirrahmanirrahim) setiap ingin memulai pekerjaan, tentunya kegiatan sosial keagamaan sesuai dengan aturan dan norma agama. "Perintah membaca basmalah ini sangat-sangat sederhana, tetapi tidak banyak diantara kita yang lupa dan bahkan cenderung mengabaikannya, karena dianggap tidak penting," ungkapnya.

"Padahal aktivitas apapun yang akan kita lakukan diawali dengan basmalah, maka dapat dipastikan akan mendapatkan barokah. Termasuk juga pola komunikasi agar mengucapkan salam ketika kita bertemu dengan sesama muslim, walapun banyak di antara kita justru tidak sadar bahwa salam itu mendoakan diri dan orang lain," imbuhnya.

Selayaknya momentum Maulid Nabi diteladani dan disemarakkan bersama, khususnya bagi remaja yang sudah disibukkan dengan pekerjaan rutin yang tidak menggambarkan identitasnya sebagai gerenasi muda penerus bangsa. "Moral remaja akan berkembang jika ia dapat meniru orang sekitar yang berprilaku sesuai etika dan moral, termasuk pembiasaan pola komunikasi verbal ini," ajaknya.

Komunikasi fisik dilakukan Rasulullah bersamaan dengan komunikasi verbal, yakni mempraktikkan secara langsung tentang apa yang diucapkannya. "Seperti mengucapkan salam sekaligus berjabatan tangan, disini akan terjadi kontak fisik di antara dua orang. Ini menunjukkan keakraban, bisa jadi tidak ada persoalan," bebernya.

Sementara komunikasi emosional dimaksudkan agar bisa mengendalikan berbagai persoalan emosional, termasuk mengantisipasi amarah. "Rasulullah mengajarkan kita untuk mengendalikan amarah, adakalanya juga diperintahkan untuk sabar dan pasrah dengan ketentuan Allah," jelas peserta program doktor Universitas Muhammadiyah Malang.

"Rasulullah juga selalu menyampaikan pesan-pesan spiritual untuk selalu mengingat hari kematian, hal itu dilakukan untuk membuat kita sadar dan tidak melawan, serta tunduk dan patuh pada perintahnya. Sehingga menjadi motivasi untuk mengembangkan potensi diri dan mencari identitas dirinya sebagai seorang yang kaffah," sambung Muhlis.

Penyadaran seperti itu jarang dilakukan oleh para pemimpin negeri, karena disibukkan dengan berbagai kepentingan politik tertentu. "Ini adalah hal yang paling efektif dan baik untuk selalu dilakukan dan diteladani. Sehingga berdampak pada aktivitas untuk tidak melakukan tindakan yang melanggar norma agama mapun norma lainnya," sentilnya.

Ketiga pola komunikasi itulah yang dijadikan sebagai salah satu tauladan yang seharusnya menjadi satu kesatuan yang utuh untuk kita lakukan secara bersama-sama dan komperehensif. Sehingga bisa kita terjemahkan dalam setiap tindak tanduk kehidupan bermasyarakat, baik dalam hal kehidupan beragama, bersosial, berbudaya maupun berpolitik.

"Semoga kita termasuk orang yang selalu mengingat, berbangga dan mengidolakan Rasulullah. Serta mampu meneladani ketiga pola komunikasi Nabi untuk membangkitkan semangat juang dalam membela dan menegakkan ajaran Islam," harapnya. [pin/ted]

Tag : maulid nabi

Komentar

?>