Jum'at, 21 Juli 2017

Napak Tilas Puputan Bayu Tahun Ini Kurang Sakral, Mengapa?

Minggu, 11 Desember 2016 17:59:44 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Napak Tilas Puputan Bayu Tahun Ini Kurang Sakral, Mengapa?
Ilham Laili Mursidi

Banyuwangi (beritajatim.com) - Kegiatan napak tilas perang puputan bayu sebagai simbol perjuangan warga Banyuwangi dinilai kurang sakral. Itu lantaran, hari pelaksanaan tak sesuai dengan tanggal yang biasa ditetapkan.

Pasalnya menurut sejarah, rangkaian napak tilas dilakukan setiap tanggal 18 Desember yang tidak lain sebagai hari ulang tahun Banyuwangi.

"Saya sudah usul beberapa kali ke pantia agar pelaksanaan tetap dilakukan sesuai tanggal sejarah. Tapi tetap tidak dilakukan," ungkap Ilham Laili Mursidi, tokoh muda Kecamatan Songgon, Minggu (11/12/2016).

Bahkan, kata Ilham, renungan suci yang biasa dilakukan di Wana Wisata Rowo Bayu, Desa Bayu, Keamatan Songgon sebagai tonggak pengingat dan pengukir sejarah juga sudah dilakukan jauh hari sebelumnya. Padahal, jika menengok ke belakang, mestinya dilakukan sesuai sejarah.

"Sehingga historikal dan nilai sakralnya tetap ada. Apalagi ini adalah tonggak sejarah perjuangan warga dan cikal bakal berdirinya Banyuwangi lho, bukan semata ulang tahun Pemerintah Kabupaten Banyuwangi," terangnya.

Simpang siur pelaksanaan ini, menurut Ilham, disebabkan adanya sejumlah pihak yang tidak menyetujui adanya pelaksanaan pada tanggal 18 Desember. Pihaknya menyebut, jadwal sudah dikeluarkan oleh pemerintah daerah.

"Katanya sudah masuk dalam agenda Banyuwangi Festival sehingga jadwalnya mengikuti dari pemda. Tapi sebenarnya, ritual ini sudah berjalan lama dan bisa berjalan tanpa ada dukungan pemda kok. Toh nggak ada bedanya, masuk B-fest atau tidak warga tetap melaksanakan," kilahnya

Sementata itu, PJ Kades Bayu Hadi Wijoyo mengatakan, ini sejarah kegitan warga Desa Bayu dan Banyuwangi pada umumnya. Kegiatan ini memiliki nilai sejarah yang cukup kental maka perlu dilestarikan.

"Napak tilas dan kirab pusaka ini tidak sekedar acara tahunan. Tapi juga bermakna untuk menanamkan nilai sejarah dan meneladani pejuangan para pejuang," katanya.

Hal ini terlihat dari guyubnya warga Desa Bayu yang telah mempersiapkan kegiatan ini dengan matang. Bahkan, mereka rela memberikan makanan cuma-cuma bagi warga lain yang datang.

"Ini sudah menjadi gerakan warga sejak lama. Seolah tanpa dikomando sudah menjadi kebiasaan warga di tempat ini," ujarnya. [rin/suf]








Komentar

?>