Selasa, 25 April 2017

Ribuan Warga Napak Tilas Perang Puputan Bayu dan Kirab Pusaka

Minggu, 11 Desember 2016 16:42:16 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Ribuan Warga Napak Tilas Perang Puputan Bayu dan Kirab Pusaka

Banyuwangi (beritajatim.com) - Ada yang berbeda dalam acara napak tilas perang puputan bayu Minggu (11/12/2016). Bersamaan dengan acara tersebut, warga Desa Bayu, Kecamatan Songgon menggelar kirab pusaka perang puputan bayu dan kirab tumpeng hasil bumi.

Kirab pusaka dan hasil bumi itu dimulai dari Pasar Bayu menuju Wana Wisata Rowo Bayu sejauh sekitar 3 kilometer.

Pj. Kepala Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Hadi Wijoyo mengatakan, kegiatan kirab pusaka perang puputan bayu itu baru kali pertama dilakukan. Hal tersebut bertujuan untuk melestarikan pusaka warisan leluhur yang ada di Desa Bayu. "Pusaka semuanya berjumlah ratusan, kita kirab menuju petilasan Prabu Tawang Alun,” katanya.

Sesampainya di petilasan Prabu Tawang Alun atau kawasan Wana Wisata Rowo Bayu, ratusan pusaka leluhur mulai keris, tombak dimandikan air bunga untuk selanjutnya kembali dimasukkan ke dalam kotak peti senjata dan kembali disimpan. Di antara pusaka itu terdapat pusaka milik Patih Rempeg Joko Pati selaku pemimpin pertempuran perang puputan bayu.

"Kami meyakini jika pusaka ini merupakan warisan leluhur turun temurun yang sebagian pernah digunakan untuk perang puputan bayu dahulu kala,” cetusnya.

Tidak hanya kirab pusaka perang puputan bayu, dalam kesempatan ini juga dilakukan fragmentasi atau pertunjukkan drama kolosal terjadinya perang puputan bayu. Drama ini semua diperankan oleh warga Desa Bayu, Kecamatan Songgon.

"Selain mengingat kembali nilai sakralnya perjuangan rakyat Blambangan, Kami juga ingin menyajikan hal yang berbeda dan menarik, sehingga peserta napak tilas akan jauh lebih berkesan,” ujar Tokoh Muda Songgon, Ilham Laili Mursidi.

Ilham yang juga sebagai sutradara drama kolosal perang puputan bayu tersebut mengatakan, ini merupakan bagian untuk kembali mengingat, merenung akan sejarah yang pernah terjadi pada tahun 1771-1772 silam.

Dimana kala itu, puputan bayu merupakan perang besar dan dianggap sebagai perang yang paling kejam dengan menewaskan banyak korban. Orang Blambangan yang tak rela tanahnya diinjak-injak penjajah, berbekal pedang dan tombak di tangan, berusaha mempertahankan wilayahnya sekuat tenaga.

"Kalau ada fragmen adegan minimal anak-anak akan mengetahui akan sejarah perang puputan bayu ini,” pungkasnya. [rin/suf]

Komentar

?>