Senin, 29 Mei 2017

Mantu Kucing, Ritual Minta Hujan Warga Grajagan Banyuwangi

Kamis, 10 Nopember 2016 13:13:23 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Mantu Kucing, Ritual Minta Hujan Warga Grajagan Banyuwangi

Banyuwangi (beritajatim.com) - Warga Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo memiliki tradisi unik yang telah dilakukan turun temurun setiap tahun. Mereka menamakan, tradisi itu dengan sebuah ritual 'mantu kucing' atau menikahkan kucing, Kamis (10/11/2016).

Mengapa demikian? Karena warga di daerah ini meyakini adanya nilai magis dalam ritual tersebut. Ritual itu merupakan tradisi warga sebagai pengharapan meminta kepada tuhan agar segera turun hujan.

Filosofi yang diambil warga ini, karena menurut cerita sosok kucing memiliki kecenderungan tidak menyukai air. Sehingga, dalam tradisi warga jika kucing dimandikan akan segera datang hujan.

"Menurut kisah nenek moyang dari Mbah Tirto Wono Samudro sebagai Kepala Desa di sini, awalnya daerah ini dilanda kekeringan dan paceklik panjang. Banyak warga yang kelaparan karena tidak bisa bertanam. Sehingga berdasarkan mimpi dari leluhurnya untuk membuat ritual mantu kucing agar turun hujan," jelas Mbah Martoyo, Sesepuh desa setempat.

Setelah dilakukan acara ritual tersebut, tak berselang lama turunlah hujan. Sehingga warga menyambutnya dengan gembira. Dan ritual 'mantu kucing' menjadi bagian yang tak terpisahkan dari warga sekitar, meskipun daerahnya sedang dilanda hujan.

"Pelaksanaanya setiap bulan November atau saat musim kemarau. Tapi karena ini tradisi meskipun sudah turun hujan tetap dilaksanakan," ujar Kepala Desa Grajagan, Supriyono.

Rangkaian acaranya, awalnya kedua mempelai kucing dipertemukan di salah satu rumah milik tetua adat setempat. Kucing jantan adalah milik Kusnadi salah satu juru pengairan desa. Sementara kucing betina milik Suparji yang sekaligus sebagai juru pengairan atau 'jogo tirto'.

Uniknya, kedua kucing tersebut memilki nama. Kucing jantan bernama Selamet dan kucing betina diberi nama Rahayu. Warga sengaja memberi nama itu lantaran melambangkan sebuah harapan. Yakni, agar warga Desa Grajagan diberikan keselamatan dan kebahagiaan, aman, tentram, sentosa.

Usai dipertemukan, kedua mempelai kucing digendong oleh pemiliknya. Selanjutnya, kucing itu diarak oleh seluruh warga menuju sebuah tempat sakral bernama sumber umbul sari. Tak lupa iringan gendang dan gamelan serta tiupan terompet khas menjadi kian semarak. Begitu pula tarian tokoh buta kala turut menjadi penghias dalam ritual ini.

"Sumber umbulsari ini konon tak pernah kering walau panas kemarau di daerah ini. Sehingga warga percaya, sumer tersebut sebagai sumber penghidupan warga setempat," ungkap Kades.

Setibanya di lokasi sumber, ritual mantu kucing diakhiri dengan memandikan kedua mempelai. Usai didoakan, kucing yang telah terpilih itu kemudian diceburkan bersama ke dalam sumber. Sontak suara gaduh pun terdengar, karena seraya warga berteriak 'hujan' sambil melemparkan air ke atas.

"Biasanya setelah acara ini akan segera turun hujan. Tapi ini hanyalah tradisi nenek moyang sehingga harus tetap dilestarikan," ungkapnya.

Ritual mantu kucing ditutup dengan selamatan dan doa bersama seluruh warga. Tak hanya itu, makanan berupa ancak yang telah disajikan menjadi menu bersama sehingga terlihat keguyuban antar warga. Jalinan talisilaturahmi begitu kental meski mereka memiliki latar belakang agama yang berbeda. [rin/suf]

Komentar

?>