Kamis, 22 Februari 2018
Dibutuhkan Wartawan Kriminal di Surabaya, Usia Maks 27 Tahun, S1, Punya Pengalaman, Kirim lamaran ke beritajatim@gmail.com

Penampilan Ludruk Pelajar Pukau Penonton

Rabu, 12 Oktober 2016 08:47:04 WIB
Reporter : Fahrizal Tito
Penampilan Ludruk Pelajar Pukau Penonton

Surabaya (beritajatim.com) - Mungkin saat ini lawakan yang paling terkenal dikalangan anak muda adalah Stand-up komedi. Namun, tidak dengan anak-anak muda Jawa Timur yang tergabung di Sanggar Saraswati Kota Mojokerto. Mereka justru tidak lupa akan teater dan tradisi asal daerahnya yaitu ludruk.

Pasalnya saat mengisi kemeriahan di Panggung Budaya HUT ke71 Provinsi Jatim, Selasa (11/10/2016), mereka yang masih berusia belasan tahun berhasil menyuguhkan cerita tentang kehidupan masyarakat yang masih terbawa oleh paradigma kuno. Yakni tentang seorang perempuan dianggap sebagai kaum yang lemah.

Diramu lengkap dengan jula-juli dan kritik sosial berbahasa khas Jawa timur, cerita 'Minggat' mampu diangkat di atas panggung yang berdiri tengah-tengah pusat perbelanjaan modern (Mall) Grand City Surabaya serta mampu mengocok perut para pengunjung.

Memet Edi Boy, pelatih sekaligus aktor yang terlibat dalam teater itu menceritakan, teater kreasinya mengangkat cerita seorang gadis belia yang dipaksa untuk menikah dengan seorang konglomerat bernama 'Dimas Kanjeng'.

Sementara diusianya yang masih terlalu muda, si gadis ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Justru minggat dari rumahnya untuk mencari alasan agar tidak jadi dijodohkannya.

Di sinilah tantangan orangtua yang seharusnya  memandang anak perempuan sebagai sosok yang lemah. Mengabaikan pendidikan dan memaksa jalan hidupnya sekehendal hati orangtua. Kendati memiliki niat baik, orangtua tetap harus punya cara yang baik pula.

"Dalam bahasa ludruk ada istilah ngecul sirah, nyekel buntut (Melepas kepala memegang ekor)," kata Memet ditemui usai penampilannya.

Dengan begitu, lanjut Memet, anak perempuan tetap bisa berkreasi namun tetap terjaga moralnya. Sedangkan, orangtua yang diktator, akhirnya hanya akan membuat anak tertekan. Lebih berbahaya lagi, jika anak melakukan tindakan nekat. Minggat contohnya. "Ini akan lebih mengkhawatirkan," kata dia.

Kendati bersifat kritis, Memet sengaja membuat tampilan teater sebagai pertunjukan yang tetap menghibur. Karena dengan tampilan yang lucu, penonton akan terus tertarik menyaksikan dan akhirnya pesan dapat tersampaikan. "Trend kesenian kita sekarang adalah humor. Apapun persoalannya yang diangkat tetap harus menonjolkan kelucuan," sambungnya.

Dalam penampilannya, Memet mengajak tiga aktor lain yang masih duduk di bangku SMP dan SMA. Ditambah grup karawitan dari SMPN 1 Kota Mojokerto. "Kita tetap memang dianjurkan melibatkan setidaknya 85 persen pelajar dan 15 persen seniman senior," tutur dia.

Sementara itu, Kepala UPT LPPK Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, Efie Wijayanti menuturkan, lomba teater tradisi ini merupakan salah satu upaya untuk melakukan revitalisasi kesenian di Jatim.

"Kami sengaja melibatkan anak-anak muda yang masih duduk di bangku sekolah dan seniman dalam satu panggung sekaligus. Dengan begitu, siswa, guru bisa belajar langsung bersama seniman," kata Efie.

Masih kata Efie, tidak hanya muncul dengan wujud pertunjukkan. Karena seni juga memerlukan sentuhan riset, kajian serta pengembangan.

"Sandur misalnya, di beberapa daerah kesenian ini ada. Namun tetap memiliki karakter yang berbeda. Karena itu, melalui revitalisasi diharapkan kesenian dapat dikembangkan dan mapan. Saya berharap kesenian itu bisa menyamai kesenian Reog Ponorogo yang sudah mendunia," tandas Efie. [ito/suf]

Tag : ludruk

Komentar

?>